Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Suka Marah-Marah Menyebabkan Hipertensi?

Benarkah Suka Marah-Marah Menyebabkan Hipertensi?
ilustrasi marah-marah (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Marah dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara karena tubuh mengaktifkan respons stres.

  • Sering marah mungkin ikut meningkatkan risiko hipertensi, tetapi hubungannya cenderung kecil dan tidak membuktikan bahwa kemarahan adalah penyebab tunggal.

  • Satu hasil pengukuran tinggi setelah bertengkar belum cukup untuk mendiagnosis hipertensi. Tekanan darah perlu diukur kembali saat tubuh sudah tenang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat marah, biasanya suara meninggi, jantung berdebar lebih cepat, wajah terasa panas, dan kepala seperti penuh tekanan. Dalam kondisi seperti itu, tak heran kalau hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan angka lebih tinggi dari biasanya.

Pertanyaannya, apakah kebiasaan marah-marah benar-benar bisa menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi?

Amarah memang bisa menaikkan tekanan darah untuk sementara. Jika terjadi berulang kali dan disertai faktor risiko lain, kondisi tersebut mungkin ikut membebani sistem kardiovaskular. Yuk, simak pembahasannya lebih lanjut di bawah ini!

1. Tekanan darah memang bisa naik saat kamu marah

Saat marah, tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatik atau respons “lawan atau lari”. Hormon stres dilepaskan, jantung berdetak lebih cepat, dan pembuluh darah menyempit. Perubahan ini membuat tekanan darah naik agar tubuh siap menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Pada sebagian besar orang, kenaikan tersebut sementara. Setelah emosi mereda dan respons stres berhenti, tekanan darah biasanya kembali ke kondisi awal. Karena itu, hasil pengukuran yang tinggi tepat setelah bertengkar, frustrasi jalanan macet, atau menerima kabar buruk belum tentu menandakan hipertensi menetap.

Sebuah penelitian eksperimental tahun 2024 memberikan gambaran tentang efek marah terhadap pembuluh darah. Sebanyak 280 orang dewasa sehat diminta mengingat pengalaman yang membuat mereka marah selama 8 menit. Dibandingkan dengan kelompok netral, kelompok yang dipicu untuk marah mengalami gangguan sementara pada kemampuan pembuluh darah untuk melebar. Efek tersebut masih terlihat hingga sekitar 40 menit setelah tugas selesai.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa saat marah, tubuh juga mengalami perubahan fisiologis. Namun, penelitian tersebut mengukur efek jangka pendek dan tidak membuktikan bahwa satu episode kemarahan langsung menyebabkan hipertensi.

2. Apakah orang yang sering marah lebih berisiko mengalami hipertensi?

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara pola kemarahan dan tekanan darah tinggi, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten.

Sebuah penelitian terhadap 537 laki-laki yang awalnya tidak mengalami hipertensi menemukan bahwa pola meluapkan maupun memendam kemarahan berkaitan dengan risiko hipertensi yang lebih tinggi selama 4 tahun pemantauan. Laki-laki dengan skor luapan amarah tertinggi memiliki risiko sekitar dua kali lipat dibanding mereka dengan skor terendah.

Namun, sebuah metaanalisis terhadap 15 penelitian menemukan hubungan yang lebih kecil. Kecenderungan mudah marah hanya memiliki kaitan lemah dengan tekanan darah sistolik dan tidak berkaitan secara konsisten dengan tekanan diastolik. Para peneliti menyimpulkan, kemarahan kemungkinan perannya kecil dalam menentukan tekanan darah.

Jadi, sering marah bukan penyebab tunggal hipertensi. Risiko tekanan darah tinggi juga dipengaruhi usia, faktor genetik, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, konsumsi garam berlebihan, alkohol, merokok, diabetes, dan penyakit ginjal.

Kemarahan kronis juga dapat berpengaruh secara tidak langsung. Seseorang mungkin merokok lebih banyak, minum alkohol, makan berlebihan, kurang tidur, atau berhenti berolahraga ketika stres terus menumpuk. Kebiasaan-kebiasaan tersebut memiliki pengaruh yang lebih jelas terhadap risiko hipertensi daripada kemarahan itu sendiri.

3. Memendam emosi bukan solusi

ilustrasi marah
ilustrasi marah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mengendalikan amarah bukan berarti harus memendamnya. Marah, apalagi sampai meledak-ledak, memang dapat menaikkan tekanan darah dan detak jantung, tetapi terus memendam emosi tanpa mengelolanya juga belum tentu sehat.

Cara yang lebih aman bisa dengan mengenali emosi, mengambil jeda, lalu menyampaikan masalah setelah tubuh lebih tenang. Ketika kemarahan mulai memuncak, coba menjauh darisituasi yang memicunya untuk sementara, tarik napas dalam secara perlahan, atau tunda percakapan sampai kamu bisa berbicara tanpa berteriak dan menyerang orang lain.

Jika ledakan emosi sering terjadi, mengganggu hubungan, memicu tindakan agresif, atau sulit dikendalikan, bantuan psikolog maupun program manajemen kemarahan dapat dipertimbangkan.

Mengelola emosi dapat menjadi bagian dari perawatan tekanan darah, tetapi tidak menggantikan pengobatan, pola makan rendah garam, aktivitas fisik, tidur cukup, dan perubahan gaya hidup lain yang direkomendasikan dokter.

4. Jangan mengukur tekanan darah saat masih tersulut emosi

Jika baru saja marah, jangan langsung panik melihat hasil pengukuran tensi yang tinggi. Tunggu sampai tubuh lebih tenang, lalu ukur kembali dengan prosedur yang tepat:

  • Jangan merokok, berolahraga, atau mengonsumsi kafein selama 30 menit sebelumnya.
  • Kosongkan kandung kemih.
  • Duduk tenang selama sedikitnya 5 menit.
  • Gunakan alat tervalidasi dengan ukuran manset yang sesuai.
  • Letakkan kaki menapak di lantai dan lengan sejajar dengan jantung.
  • Ambil dua pengukuran dengan jeda sedikitnya satu menit.

Catat hasilnya pada waktu yang relatif sama selama beberapa hari. Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah minimal 140/90 mmHg yang ditemukan saat pengukuran pada dua hari berbeda. Namun, batas diagnosis dan target pengobatan dapat berbeda menurut pedoman serta kondisi kesehatan seseorang.

Segera cari pertolongan medis jika tekanan darah melebihi 180/120 mmHg dan disertai nyeri dada, sesak napas, mati rasa, kelemahan anggota tubuh, perubahan penglihatan, atau kesulitan berbicara. Kondisi tersebut dapat menjadi kegawatdaruratan hipertensi.

Suka marah-marah tidak otomatis menyebabkan hipertensi, tetapi setiap ledakan emosi dapat menaikkan tekanan darah sementara. Jika kamu merasa sering marah, tubuh terus berada dalam keadaan tegang, dan gaya hidup ikut memburuk, risiko hipertensi dapat bertambah.

Referensi

American Heart Association (AHA). “Managing Stress to Control High Blood Pressure.” Diakses Juli 2026.

Daichi Shimbo et al. “Translational Research of the Acute Effects of Negative Emotions on Vascular Endothelial Health: Findings from a Randomized Controlled Study.” Journal of the American Heart Association 13, no. 9 (2024): e032698, https://doi.org/10.1161/JAHA.123.032698.

Susan A. Everson et al. “Anger Expression and Incident Hypertension.” Psychosomatic Medicine 60, no. 6 (1998): 730–35, https://doi.org/10.1097/00006842-199811000-00014.

Jennifer L. Schum et al. “Trait Anger, Anger Expression, and Ambulatory Blood Pressure: A Meta-Analytic Review.” Journal of Behavioral Medicine 26, no. 5 (2003): 395–415, https://doi.org/10.1023/A:1025767900757.

World Health Organization. “Hypertension.” Diakses Juli 2026.

AHA. “Coping with Feelings.” Diakses Juli 2026.

AHA. “Home Blood Pressure Monitoring,” Diakses Juli 2026.

AHA. “When to Call 911 About High Blood Pressure,” Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More