American Lung Association. Diakses pada Juli 2026. "Breathing Basics for Runners."
Rei. Diakses pada Juli 2026. "Tips for Breathing While Running."
Runner's Worlds. Diakses pada Juli 2026. "Here’s How to Breathe While Running, Plus Techniques to Try."
WebMD. Diakses pada Juli 2026. "What to Know About Breathing When Running."
8 Kesalahan saat Lari yang Bikin Pemula Cepat Kehabisan Napas

- Banyak pemula cepat kehabisan napas saat lari karena kesalahan umum seperti memulai terlalu cepat, teknik bernapas yang salah, dan melewatkan pemanasan sebelum berlari.
- Postur tubuh yang kurang baik serta otot inti yang lemah membuat pernapasan tidak efisien, sehingga penting menjaga posisi tegak dan rutin latihan kekuatan pendukung.
- Waktu makan dan kondisi kesehatan turut memengaruhi kenyamanan berlari; disarankan atur waktu makan dengan tepat dan konsultasi medis bila sesak napas terus terjadi.
Lari sering dianggap sebagai olahraga yang sederhana. Tinggal pakai sepatu, keluar rumah, lalu mulai berlari. Padahal, menerapkan teknik lari yang benar itu penting. Tidak sedikit pemula yang baru berlari beberapa menit sudah terengah-engah, dada terasa sesak, bahkan akhirnya memilih berhenti karena merasa tidak sanggup melanjutkan.
Kalau kamu pernah mengalaminya, itu tidak otomatis berarti kamu tidak kuat lari. Mungkin penyebabnya adalah kebiasaan yang kurang tepat. Mulai dari kecepatan yang terlalu tinggi hingga teknik bernapas yang salah, semuanya bisa membuat tubuh lebih cepat kehabisan tenaga.
Supaya pengalaman berlari terasa lebih nyaman, berikut beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan pemula.
Table of Content
1. Langsung berlari terlalu cepat
Kesalahan yang paling umum adalah memulai lari dengan kecepatan tinggi. Banyak orang terlalu semangat di awal, lalu berusaha mempertahankan pace yang sebenarnya terlalu berat bagi kemampuan tubuhnya. Akibatnya, tubuh menggunakan lebih banyak energi dalam waktu singkat sehingga napas makin berat. Otot juga lebih cepat menghasilkan asam laktat yang memicu rasa lelah.
Kalau baru mulai rutin lari, gunakan patokan sederhana. Selama berlari, usahakan kamu masih bisa mengobrol dengan nyaman. Jika berbicara saja sudah terasa sulit, artinya kamu perlu memperlambat kecepatan.
2. Teknik bernapas masih kurang tepat
Sebagian besar pemula hanya mengambil napas pendek menggunakan dada. Padahal, cara ini membuat jumlah oksigen yang masuk ke tubuh menjadi lebih sedikit sehingga rasa sesak lebih cepat muncul. Sebaiknya gunakan pernapasan diafragma atau belly breathing. Saat menarik napas, biarkan perut ikut mengembang, bukan hanya dada.
Kamu juga bisa mencoba pola bernapas dua langkah menarik napas dan dua langkah mengembuskannya agar ritmenya lebih stabil. Dengan napas yang lebih dalam dan teratur, tubuh akan memperoleh pasokan oksigen yang lebih optimal.
3. Melewatkan pemanasan

Ada orang yang langsung berlari begitu keluar rumah tanpa melakukan pemanasan dulu selama beberapa menit. Padahal, tubuh perlu transisi sebelum menghadapi aktivitas yang lebih berat.
Tanpa pemanasan, detak jantung dan sistem pernapasan dipaksa bekerja secara tiba-tiba. Hal inilah yang membuat beberapa menit pertama terasa jauh lebih berat dibanding setelah tubuh mulai beradaptasi.
Cukup lakukan pemanasan selama 5–10 menit, misalnya dengan jalan cepat, joging ringan, atau gerakan dinamis seperti leg swing.
4. Terlalu memaksakan kemampuan
Media sosial sering membuat pemula ingin mengejar pace yang sama seperti pelari berpengalaman. Ada pula yang terus membandingkan hasil aplikasi larinya dengan teman. Ingat, kemampuan setiap orang berbeda-beda. Memaksakan diri hanya akan membuat tubuh cepat lelah dan napas menjadi tidak terkontrol.
Fokuslah pada tingkat usaha yang kamu rasakan, bukan angka pace. Tingkatkan durasi atau jarak latihan secara bertahap, sekitar 10 persen setiap minggu agar tubuh punya waktu beradaptasi.
5. Postur tubuh kurang baik
Posisi tubuh ternyata juga berpengaruh terhadap cara bernapas. Bahu yang terlalu membungkuk, leher tegang, atau dada yang menutup membuat paru-paru tidak bisa mengembang secara maksimal.
Idealnya, tubuh tetap tegak dengan sedikit condong ke depan dari pergelangan kaki. Bahu dibuat rileks, dada terbuka, sementara tangan dan rahang tidak perlu terlalu tegang.
Perubahan kecil pada postur sering kali membuat napas terasa lebih ringan saat berlari.
6. Mengabaikan latihan kekuatan

Lari bukan hanya mengandalkan kaki. Otot inti, punggung, hingga diafragma juga berperan menjaga postur dan efisiensi gerakan selama berlari. Kalau otot-otot tersebut lemah, tubuh harus bekerja lebih keras sehingga napas menjadi lebih cepat habis.
Selingi latihan lari dengan olahraga lain seperti bersepeda, berenang, plank, atau latihan beban ringan dua kali seminggu.
7. Berlari saat perut terlalu kosong atau terlalu kenyang
Waktu makan juga memengaruhi kenyamanan saat berlari. Berlari setelah makan besar sering membuat perut terasa penuh dan tidak nyaman sehingga napas ikut terasa pendek.
Sebaliknya, berlari dalam kondisi benar-benar lapar membuat cadangan energi rendah sehingga tubuh lebih cepat lelah.
Idealnya, makan camilan ringan yang mengandung karbohidrat sekitar 30–60 menit sebelum lari. Jika baru selesai makan besar, tunggu sekitar 1,5–2 jam sebelum mulai berolahraga.
8. Ada kondisi kesehatan yang belum disadari
Jika berbagai teknik sudah dicoba tetapi napas tetap terasa sangat berat, bisa jadi penyebabnya bukan kurang latihan. Beberapa kondisi medis, seperti asma, anemia, gangguan pita suara, hingga penyakit jantung dapat menyebabkan seseorang mudah sesak saat berolahraga.
Apabila sesak napas muncul sangat berat, terjadi bahkan saat istirahat, atau tidak kunjung membaik meski latihan sudah dilakukan secara bertahap, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, kemampuan bernapas saat berlari bukan ditentukan oleh bakat semata. Dengan kecepatan yang sesuai, teknik bernapas yang benar, serta latihan yang konsisten, tubuh akan beradaptasi secara perlahan.
Referensi




.jpg)

![[QUIZ] Cek Seberapa Besar Risiko Infeksi Menular Seksual Kamu di Sini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)

![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)


![[QUIZ] Tebak Risiko Penyakit dari Kebiasaan Kamu Minum Kopi](https://image.idntimes.com/post/20260326/16576_5a2f7a67-3d4e-4672-9881-c5c068073f61.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Sosiopat? Coba Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20251210/upload_b88a7679909294c6775cb37581d91e9a_88c96729-91b8-4ca9-a6de-866450381d3a.jpg)


![[QUIZ] Dari Warna Outfit Favoritmu, Kami Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20250507/1000344956-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-fff34f8ff180b130eb70c4bcc95165ea.jpg)

![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20251227/pexels-olly-3764533_8ca73bd2-0b14-4462-81cf-35efcfbbbd23.jpg)


