Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Saat Puasa Air Liur Terasa Lebih Banyak?

Kenapa Saat Puasa Air Liur Terasa Lebih Banyak?
ilustrasi air liur yang terasa lebih banyak saat puasa (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Produksi air liur dikendalikan sistem saraf otonom dan bisa berubah saat pola makan berubah.

  • Saat puasa, sensasi air liur berlebih sering dipicu rangsangan visual, aroma makanan, refluks asam, atau mual ringan.

  • Dalam sebagian kasus, hipersalivasi dapat berkaitan dengan gangguan lambung seperti GERD atau gastritis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Puasa Ramadan memengaruhi tubuh dalam berbagai cara. Misalnya, ada yang mengeluhkan mulut kering, tetapi tak sedikit yang justru merasa air liurnya lebih banyak dari biasanya. Kondisi ini sering bikin tak nyaman, seolah harus terus menelan ludah sendiri.

Secara medis, produksi air liur atau saliva adalah proses normal yang diatur oleh sistem saraf otonom. Kelenjar ludah—parotis, submandibular, dan sublingual—menghasilkan sekitar 0,5–1,5 liter saliva per hari pada orang dewasa sehat. Saliva berfungsi melumasi mulut, membantu pencernaan awal, menjaga kesehatan gigi, dan melindungi jaringan mukosa.

Lalu, mengapa saat puasa justru air liur terasa berlebih? Ada beberapa mekanisme biologis yang bisa menjelaskannya.

Table of Content

1. Respons otak terhadap rangsangan makanan

1. Respons otak terhadap rangsangan makanan

Melihat, mencium, atau bahkan membayangkan makanan dapat memicu refleks saliva. Fenomena ini dikenal sebagai respons fase sefalik (cephalic phase response), yaitu respons awal tubuh sebelum makanan masuk ke lambung.

Penelitian tentang fase sefalik menunjukkan bahwa sistem saraf parasimpatis akan merangsang kelenjar ludah saat ada antisipasi makan. Artinya, ketika menjelang berbuka dan otak sudah “bersiap”, produksi saliva meningkat sebagai bagian dari persiapan pencernaan.

Dalam konteks puasa, sensitivitas terhadap rangsangan ini bisa terasa lebih kuat karena tubuh berada dalam kondisi lapar lebih lama.

2. Perubahan asam lambung dan refluks ringan

Seorang perempuan mengelap bibir bawahnya.
ilustrasi hipersalivasi atau produksi air liur berlebihan (pexels.com/Ron Lach)

Air liur memiliki fungsi protektif. Saliva membantu menetralisir asam lambung yang naik ke kerongkongan pada kondisi refluks.

Saat puasa, beberapa orang mengalami peningkatan sensasi asam lambung, terutama jika memiliki riwayat gastritis atau GERD. Ketika asam naik (bahkan dalam jumlah kecil), tubuh secara refleks meningkatkan produksi saliva untuk “membilas” dan menetralkan asam tersebut. Kondisi ini disebut water brash atau hipersalivasi terkait refluks.

Gejalanya bisa berupa:

  • Mulut terasa penuh air liur.
  • Rasa asam atau pahit di tenggorokan.
  • Sensasi panas di dada.

Jika disertai keluhan tersebut, kemungkinan besar penyebabnya adalah respons terhadap refluks.

3. Mual ringan karena lambung kosong

Mual, bahkan yang sangat ringan, juga bisa memicu peningkatan air liur. Tubuh secara refleks memproduksi lebih banyak saliva sebelum muntah sebagai mekanisme perlindungan terhadap asam lambung.

Saat lambung kosong terlalu lama, sebagian orang mengalami iritasi ringan yang menimbulkan rasa mual halus tanpa benar-benar muntah. Respons inilah yang dapat meningkatkan produksi saliva.

4. Perubahan pola menelan

Ilustrasi air liur.
ilustrasi air liur (freepik.com/asierromero)

Menariknya, sensasi air liur berlebih tidak selalu berarti produksinya meningkat drastis. Bisa jadi karena frekuensi menelan berkurang.

Saat tidak makan dan minum, refleks menelan bisa lebih jarang distimulasi. Akibatnya, saliva terasa menggenang di mulut. Studi fisiologi menunjukkan bahwa menelan membantu mengatur keseimbangan saliva dalam rongga mulut. Jika ritme ini berubah, sensasi penuh lebih mudah dirasakan.

5. Faktor psikologis dan antisipasi berbuka

Stres ringan atau antisipasi berbuka juga dapat memengaruhi sistem saraf otonom. Aktivasi parasimpatis (rest-and-digest mode) meningkatkan sekresi saliva. Dalam situasi menunggu waktu berbuka, tubuh bisa berada dalam kondisi campuran antara lapar, antisipasi, dan relaksasi, yang semuanya memengaruhi produksi saliva.

Kapan perlu waspada?

Ilustrasi sulit menelan.
ilustrasi sulit menelan (pexels.com/Karolina Grabowska)

Air liur terasa lebih banyak saat puasa umumnya normal dan tidak berbahaya. Namun, konsultasikan ke dokter jika disertai:

  • Nyeri dada hebat.
  • Kesulitan menelan.
  • Muntah berulang.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
  • Produksi saliva sangat berlebihan hingga mengganggu aktivitas.

Kondisi tersebut bisa mengarah pada gangguan lambung atau neurologis yang memerlukan evaluasi medis.

Apa yang bisa dilakukan?

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu:

  • Hindari paparan aroma makanan berlebihan jika memicu ketidaknyamanan.
  • Perhatikan pola sahur (hindari makanan terlalu pedas/berlemak jika punya riwayat refluks).
  • Posisi tubuh tetap tegak menjelang berbuka.
  • Jika punya GERD, diskusikan pengaturan obat dengan dokter.

Air liur berlebih saat puasa sering kali merupakan respons normal tubuh terhadap lapar, rangsangan makanan, atau perubahan ritme pencernaan. Dalam banyak kasus, ini bukan tanda penyakit serius, melainkan bagian dari mekanisme protektif tubuh. Jadi, tidak perlu langsung panik jika merasa mulut terasa penuh oleh air liur sendiri, ya!

Referensi

Paul Am Smeets, Alfrun Erkner, and Cees De Graaf, “Cephalic Phase Responses and Appetite,” Nutrition Reviews 68, no. 11 (October 20, 2010): 643–55, https://doi.org/10.1111/j.1753-4887.2010.00334.x.

Philip O. Katz et al., “ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” The American Journal of Gastroenterology 117, no. 1 (November 22, 2021): 27–56, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001538.

Colin Dawes, “Salivary Flow Patterns and the Health of Hard and Soft Oral Tissues,” The Journal of the American Dental Association 139 (May 1, 2008): 18S-24S, https://doi.org/10.14219/jada.archive.2008.0351.

“Saliva and Your Mouth.” National Institute of Dental and Craniofacial Research. Diakses Maret 2026.

“Acid Reflux (GERD).” American College of Gastroenterology. Diakses Maret 2026.

“Hypersalivation (Sialorrhea).” Cleveland Clinic. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nena Zakiah
Nuruliar F
3+
Nena Zakiah
EditorNena Zakiah
Follow Us

Latest in Health

See More