Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harold Gillies, Dokter di Balik Revolusi Bedah Rekonstruksi Wajah

4 min read
Harold Gillies, Dokter di Balik Revolusi Bedah Rekonstruksi Wajah
ilustrasi operasi bedah (unsplash.com/Navy Medicine)
  • Harold Gillies mendirikan layanan cedera wajah pada 1916 setelah melihat banyak tentara Perang Dunia I mengalami luka parah yang mengganggu makan, berbicara, dan fungsi sehari-hari.

  • Queen’s Hospital di Sidcup menjadi pusat rekonstruksi wajah multidisiplin, melibatkan ahli bedah, dokter gigi, perawat, dan seniman untuk memulihkan fungsi serta bentuk wajah pasien.

  • Tim Gillies menangani lebih dari 5.000 tentara melalui lebih dari 11.000 operasi; Robert Davidson menjalani tujuh operasi hingga bisa berbicara lagi sebelum dipulangkan pada 1919.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di antara ribuan catatan pasien dari Perang Dunia I, ada kisah seorang prajurit bernama Robert Davidson. Setelah wajahnya mengalami cedera parah, ia harus belajar berbicara lagi lewat serangkaian operasi rekonstruksi. Cedera yang dialaminya ini tidak cuma meninggalkan bekas pada wajah, tetapi juga memengaruhi kemampuan sehari-hari, seperti makan dan berbicara.

Di balik pemulihan Davidson, terdapat upaya besar. Bersama timnya, Harold Gillies menangani ribuan pasien dengan cedera serupa dan turut membentuk dasar bedah rekonstruksi wajah yang masih berpengaruh hingga sekarang.

  1. 1. Cedera di medan perang mendorong lahirnya perawatan khusus

    Senjata berat dan pertempuran parit menyebabkan banyak tentara mengalami cedera parah di wajah. Gillies, dokter bedah asal Selandia Baru yang bertugas di Prancis pada tahun 1915, melihat kebutuhan akan perawatan khusus bagi pasien dengan luka semacam itu. Pada tahun 1916, ia mendirikan bangsal cedera wajah di Cambridge Military Hospital, Aldershot.

    Perawatan saat itu sangat terbatas. Antibiotik belum tersedia, sehingga risiko infeksi menjadi salah satu tantangan operasi. Gillies dan rekan-rekannya harus memikirkan cara memperbaiki jaringan yang rusak sekaligus menjaga agar luka bisa sembuh.

  2. 2. Sidcup menjadi pusat bedah rekonstruksi

    Jumlah pasien yang terus bertambah membuat fasilitas di Aldershot tidak lagi cukup. Pada tahun 1917, Queen’s Hospital dibuka di Sidcup, Inggris, sebagai pusat khusus bedah plastik dan rekonstruksi wajah. Rumah sakit ini kemudian dikenal sebagai Queen Mary’s Hospital. Asosiasi Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetika Inggris menyebut Sidcup sebagai lokasi unit bedah plastik multidisiplin pertama di Inggris, dan kemungkinan di dunia.

    Gillies menghimpun tim yang terdiri atas dokter bedah, dokter gigi, perawat, dan seniman. Keterlibatan dokter gigi penting, terutama ketika cedera merusak rahang atau mulut. Sementara itu, para seniman membantu menggambar kondisi wajah pasien dan merencanakan rekonstruksi. Tak hanya menutup luka, perawatan juga berfokus pada pemulihan fungsi serta bentuk wajah.

  3. 3. Rekonstruksi sering memerlukan beberapa tahap

    Potret hitam-putih Sir Harold Delf Gillies, ahli bedah plastik terkenal, mengenakan jas dan dasi dengan wajah serius.
    Sir Harold Delf Gillies. (Wellcome Collection via Wikimedia Commons, CC BY 4.0.)

    Salah satu teknik yang digunakan Gillies adalah tubed pedicle. Dalam teknik ini, kulit dari bagian tubuh lain, misalnya dada atau dahi, dipindahkan ke wajah sambil tetap terhubung dengan sumber aliran darahnya. Kulit itu dibentuk seperti tabung agar pasokan darah tetap terjaga selama proses pemindahan. Gillies juga menggunakan cangkok kulit dan tulang untuk memperbaiki jaringan yang hilang.

    Pasien tidak selalu menjalani satu operasi. Jaringan perlu diberi waktu untuk pulih sebelum tahap berikutnya dilakukan. Sebuah tinjauan klinis memperkirakan tim Gillies menangani lebih dari 5.000 tentara dan melakukan lebih dari 11.000 operasi antara 1916 dan 1925.

  4. 4. Butuh tujuh kali operasi untuk Davidson mendapatkan kembali suaranya

    Davidson adalah seorang prajurit Korps Medis Angkatan Darat Kerajaan Inggris yang kehilangan bibir atas dan sebagian pipi akibat pada April 1916. Sebelum Gillies merekonstruksi bibirnya, dokter gigi Leonard King memasang prostesis untuk membantunya berbicara dan makan. Davidson menjalani tujuh operasi sebelum dipulangkan pada tahun 1919.

    Dalam catatannya, Gillies menulis bahwa ia puas mendengar Davidson kembali berbicara dengan aksen daerahnya. Setelah selesai perawatan, Davidson tetap bekerja di rumah sakit Sidcup hingga 1960-an dan menikah dengan warga setempat.

  5. 5. Arsip yang mencatat pemulihan ribuan korban perang

    Arsip kasus Harold Gillies di Royal College of Surgeons of England menyimpan foto, catatan klinis, gambar cat air, dan hasil sinar-X yang berkaitan dengan lebih dari 2.500 tentara. Dokumen-dokumen itu menunjukkan bagaimana tim merencanakan dan menyesuaikan operasi dari satu tahap ke tahap berikutnya.

    Seniman Henry Tonks, yang pernah berlatih sebagai dokter bedah sebelum menjadi pelukis, membuat potret para pasien. Gambar-gambarnya memperlihatkan kondisi wajah pada berbagai tahap perawatan, berdampingan dengan foto dan catatan medis. Sejarawan seni Suzannah Biernoff menulis bahwa karya Tonks berada di persimpangan seni dan kedokteran, dan gambar-gambarnya menjadi dokumentasi klinis sekaligus potret manusia yang sedang menjalani pemulihan.

    Perang Dunia I memaksa dokter mencari cara baru untuk menangani cedera wajah. Melalui arsip Harold Gillies, proses itu dapat dilihat langkah demi langkah, mulai dari perencanaan operasi hingga perjuangan pasien untuk mendapatkan kembali fungsi dasar seperti makan dan berbicara.

    Referensi

    Victoria Rea, “Sir Harold Gillies’ Patient Case Files, 1915–1925. (RCSEng Archives Ref. MS0513),” Royal College of Surgeons of England, November 2, 2020.

    Michele A. Manahan and Stephen M. Milner, “The Gillies’s Approach to Posttraumatic Reconstruction of Ballistic Injuries in Evidence a Century Later,” Eplasty 18 (2018): pb1, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6333112/.

    British Association of Plastic, Reconstructive and Aesthetic Surgeons, “The Sidcup Gallery,” diakses 1 November 2026.

    Royal College of Surgeons of England, “Sir Harold Gillies’ First World War Patient Case Notes,” SurgiCat, diakses 1 November 2026.

    “Dentistry and the British Army: 1661 to 1921,” British Dental Journal 230 (2021), https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8033272/.

    Royal College of Surgeons of England, “Portrait of Private Robert Davidson by Henry Tonks,” SurgiCat, diakses 1 November 2026.

    Suzannah Biernoff, “Flesh Poems: Henry Tonks and the Art of Surgery,” Visual Culture in Britain 11, no. 1 (2010): 25–47, https://doi.org/10.1080/14714780903509979.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More