Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bikin Kombucha Sendiri? Ini Risikonya yang Perlu Diketahui
ilustrasi membuat kombucha (magnific.com/magnific)
  • Risiko utama kombucha rumahan muncul ketika bahan, alat, atau proses fermentasinya tidak terjaga. Rasa asam saja tidak membuktikan minuman bebas patogen.

  • Fermentasi dapat menghasilkan alkohol dan gas karbon dioksida. Kadarnya bergantung pada resep dan penyimpanan, sementara botol tertutup dapat menumpuk tekanan.

  • Orang hamil atau menyusui, orang dengan sistem imun lemah, serta orang yang harus menghindari alkohol sebaiknya menghindari kombucha rumahan. Bukti manfaat kesehatannya masih terbatas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kombucha biasanya bermula dari teh manis, kultur awal, dan SCOBY yang dibiarkan berfermentasi beberapa hari. Gelembung dan aroma asam menandakan proses sedang berjalan.

Karena minuman ini dibuat dengan mikroorganisme hidup, kebersihan alat, keasaman, suhu, dan lama fermentasi turut menentukan keamanannya. Kombucha rumahan tidak otomatis berbahaya, tetapi hasil tiap stoples bisa berbeda jika prosesnya tidak terukur.

Risiko utamanya adalah kontaminasi

Mikroba dapat masuk dari tangan, bahan, kain penutup, atau peralatan. Keasaman kombucha membantu menekan pertumbuhan sejumlah mikroba, tetapi tidak menjadikan minuman steril.

Dalam studi tantangan mikroba pada 2021, peneliti menambahkan Salmonella dan E. coli penghasil toksin Shiga ke kombucha dari empat merek kit rumahan. Jumlah mikroba turun pada sebagian sampel, tetapi Salmonella atau E. coli masih terdeteksi pada beberapa sampel setelah fermentasi. Hasilnya bergantung pada kit yang digunakan. Temuan studi ini menunjukkan bahwa fermentasi tidak selalu menghilangkan kontaminan dengan cara yang sama.

Studi laboratorium tahun 2025 menggunakan mikroba pengganti untuk E. coli, Salmonella, dan Listeria. Jumlah mikroba menurun selama fermentasi 14 hari dalam kondisi uji. Namun, penulis menyebut temuan itu sebagai dasar untuk menyusun resep konsumen yang tervalidasi. Artinya, resep teruji dan kebersihan tetap penting.

Petunjuk dari pH

Gunakan resep dari lembaga keamanan pangan dan ukur pH sesuai tahap yang ditentukan. National Center for Home Food Preservation menyarankan pH cairan starter 4,0 atau lebih rendah sebelum dipakai.

Resepnya kemudian memfermentasi teh selama 7–10 hari pada suhu ruang yang ditentukan. Jika pH starter lebih dari 4,0, resep tersebut menyarankan agar starter tidak digunakan. Singapore Food Agency menyarankan pH kombucha yang sedang disiapkan berada pada kisaran 2,5–4,2.

Intinya, ikuti satu resep secara utuh dan jangan mencampur ambang dari resep yang berbeda.

Gunakan strip pH yang sesuai atau alat ukur, dan jangan mengandalkan rasa atau tampilan untuk menilai keasaman. Jika terlihat bercak kering berbulu putih atau berwarna pada permukaan cairan atau SCOBY, buang semua batch beserta SCOBY-nya. Jangan hanya mengangkat bagian yang tampak berjamur.

Fermentasi menghasilkan alkohol dan tekanan

ilustrasi kombucha rumahan (unsplash.com/Natalie Behn)

Ragi menghasilkan etanol sebagai bagian dari fermentasi. Sebagian etanol kemudian digunakan oleh bakteri, tetapi jumlah akhirnya dapat berubah menurut kultur, bahan, suhu, lama fermentasi, dan penyimpanan.

Dalam satu studi Indonesia pada kombucha teh melati dan teh hijau, kadar etanol tetap di bawah 0,5 persen pada kondisi uji tertentu: fermentasi lima hari pada 25 derajat Celcius, lalu penyimpanan dingin. Hasil dari satu resep itu tidak menjamin kadar setiap stoples rumahan sama. Karena itu, kombucha rumahan tidak tepat dianggap pasti bebas alkohol.

Fermentasi juga menghasilkan karbon dioksida. Jika minuman ditutup rapat sementara fermentasi terus berlangsung, tekanan di dalam botol dapat meningkat. Ikuti resep pembotolan, gunakan wadah yang sesuai untuk minuman, lalu dinginkan setelah fermentasi mencapai tahap yang dituju. Pendinginan memperlambat fermentasi, tetapi tidak selalu menghentikannya sepenuhnya.

Wadah juga memengaruhi keamanan

Kombucha bersifat asam. Pilih wadah kaca atau bahan lain yang jelas aman untuk pangan dan asam. Hindari keramik dekoratif atau wadah dengan glasir yang tidak diketahui.

Dalam laporan kasus di Australia, sepasang suami istri mengalami keracunan timbal setelah berbulan-bulan menyeduh kombucha dalam pot keramik. Peneliti mengaitkannya dengan asam minuman yang melarutkan timbal dari glasir.

Siapa yang sebaiknya menghindari kombucha?

Ibu hamil atau menyusui serta orang dengan sistem imun lemah disarankan untuk menghindari kombucha. Hati-hati juga buat orang yang harus menghindari alkohol atau memiliki kondisi kesehatan yang membuat mereka rentan terhadap gangguan asam-basa, karena kadar alkohol dan komposisi kombucha rumahan tidak seragam.

Laporan CDC pada 1995 membahas dua kasus penyakit berat pada orang yang minum kombucha, termasuk satu kematian. Namun, penyelidikan tidak membuktikan bahwa kombucha menjadi penyebab asidosis yang dialami pasien. Jadi, tak ada salahnya untuk berhati-hati.

Bukti manfaat kesehatan masih terbatas

ilustrasi kombucha rumahan (pexels.com/Geraud pfeiffer)

Walaupun penelitian terhadap manusia tentang kombucha kini bertambah, tetapi hasilnya belum cukup untuk menjadikannya terapi.

Tinjauan sistematis tahun 2025 merangkum delapan uji klinis yang terbit pada 2022–2024 dan melaporkan dampak yang beragam serta masih terbatas. Penulis menyebut perlunya penelitian lanjutan. Temuan dari satu produk atau resep juga tidak otomatis berlaku untuk kombucha buatan rumah dengan kultur dan lama fermentasi berbeda.

Langkah aman sebelum mengonsumsi kombucha

Mulailah dengan menggunakan resep tepercaya. Cuci tangan, sanitasi permukaan dan alat, ukur pH sesuai tahap resep, gunakan starter yang layak, dan pakai wadah yang aman untuk pangan.

Buang seluruh batch jika muncul jamur berbulu, lalu simpan minuman dingin setelah fermentasi. Kelompok yang perlu menghindari kombucha sebaiknya tidak menjadikan fermentasi rumahan sebagai percobaan.

Jadi, adakah risiko kesehatan dari kombucha rumahan? Ada, terutama kontaminasi, kadar alkohol yang tidak pasti, tekanan botol, dan kemungkinan logam larut dari wadah yang keliru. Risiko dapat ditekan dengan proses yang terukur.

Referensi

Stephen S. Brewer, Christine A. Lowe, Larry R. Beuchat, and Yvonne R. Ortega, “Survival of Salmonella and Shiga Toxin-Producing Escherichia coli and Changes in Indigenous Microbiota during Fermentation of Home-Brewed Kombucha,” Journal of Food Protection 84, no. 8 (2021): 1366–73, https://doi.org/10.4315/JFP-20-483.

Sitara Cullinan et al., “Determining Critical Food Safety Factors for Safely Homebrewing Kombucha: A Study on Microbial Survivability,” Food Protection Trends 45, no. 2 (March 2025): 92–102, https://doi.org/10.4315/FPT-24-009.

National Center for Home Food Preservation, “Kombucha Tea,” diakses 28 Oktober 2026.

Singapore Food Agency, “Safety of Home Fermentation: Is My Homemade Kombucha Safe to Drink?” diakses 28 Oktober 2026.

University of Georgia Cooperative Extension, “What’s the Word on Homemade Kombucha?” diakses 28 Oktober 2026.

Nisa Ihsani, Nelis Hernahadini, Zahra Salsabila Nurissalma, Annisa Nurul Huda, Tiwi Sartika, Arifa Nadya Nur Afifah, and Ninda Rahma Nur Syamsiyah, “The Effect of Incubation Period on Ethanol Content of Jasmine and Green Tea Kombucha,” Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia 10, no. 2 (2023): 361–67, https://doi.org/10.55981/jbbi.2023.2013.

Tri Giang Phan et al., “Lead Poisoning from Drinking Kombucha Tea Brewed in a Ceramic Pot,” Medical Journal of Australia 169, nos. 11–12 (1998): 644–46, https://doi.org/10.5694/j.1326-5377.1998.tb123448.x.

Mayo Clinic, “Kombucha Tea: Does It Have Health Benefits?” diakses 28 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Unexplained Severe Illness Possibly Associated with Consumption of Kombucha Tea—Iowa, 1995,” Morbidity and Mortality Weekly Report 44, no. 48 (December 8, 1995): 892–93, 899–900, https://www.cdc.gov/MMWR/preview/mmwrhtml/00039742.htm.

Gabriela Macedo Fraiz, Dandara Baia Bonifácio, Rayanne Santos de Paulo, Carolynne Martins Teixeira, Hércia Stampini Duarte Martino, Frederico Augusto Ribeiro de Barros, Fermín I. Milagro, and Josefina Bressan, “Benefits of Kombucha Consumption: A Systematic Review of Clinical Trials Focused on Microbiota and Metabolic Health,” Fermentation 11, no. 6 (2025): 353, https://doi.org/10.3390/fermentation11060353.

Curated For You

Editorial Team

Related Article