“Factors related with the incidence of acute respiratory infections in toddlers in Sleman, Yogyakarta, Indonesia: Evidence from the Sleman Health and Demographic Surveillance System.” PLOS ONE. Diakses Oktober 2026.
“Risk factors for severe acute lower respiratory infections in children – a systematic review and meta-analysis.” Croatian Medical Journal. Diakses Oktober 2026.
“Indoor air pollution exposure and acute respiratory infection among under-five children in low- and middle-income countries: a systematic review and meta-analysis of epidemiological studies.” BMC Public Health. Diakses Oktober 2026.
“Risk factors for respiratory syncytial virus-associated acute lower respiratory infection in children under 5 years: An updated systematic review and meta-analysis.” International Journal of Infectious Diseases. Diakses Oktober 2026.
Kenapa Anak Lebih Rentan Terkena ISPA? Ini Faktor Risikonya

- Anak rentan ISPA karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang, terutama saat pertama kali terpapar virus atau bakteri baru.
- Interaksi di sekolah, penitipan, dan area bermain meningkatkan penularan melalui percikan pernapasan, tangan, serta permukaan yang terkontaminasi, terutama di ruang ramai berventilasi buruk.
- Asap rokok, polusi, kebersihan diri yang belum terbentuk, serta gizi dan kesehatan kurang optimal dapat meningkatkan risiko ISPA; gejala menetap atau sesak napas perlu diperiksakan.
Anak-anak sering mengalami batuk, pilek, atau demam yang datang silih berganti, sampai orangtua bertanya-tanya kenapa mereka gampang sekali sakit. Salah satu penyebabnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang bisa menyerang siapa saja, tetapi anak-anak memiliki sejumlah faktor yang membuat mereka lebih rentan mengalaminya. Sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang dan kebiasaan beraktivitas bersama teman sebaya bisa ikut meningkatkan risiko penularan, lho.
Asap rokok, polusi udara, dan lingkungan tempat anak beraktivitas juga bisa membuat saluran pernapasannya lebih rentan mengalami gangguan. Meski sebagian besar ISPA bisa membaik dengan perawatan yang tepat, kondisi ini tetap gak boleh dianggap sepele karena bisa berkembang menjadi lebih serius. Nah, supaya orangtua lebih memahami penyebabnya, yuk, kenali faktor-faktor yang membuat anak lebih rentan terkena ISPA dan hal-hal yang perlu diperhatikan!
1. Sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang

ilustrasi anak sakit (magnific.com/peoplecreations) Anak-anak, khususnya yang masih balita, memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya matang untuk melawan beragam kuman penyebab penyakit. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama saat pertama kali terpapar virus atau bakteri baru. Gak heran kalau batuk dan pilek sering kali datang secara bergantian, terutama ketika anak mulai aktif bermain di luar atau berinteraksi dengan banyak orang.
Seiring dengan bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh anak terus tumbuh melalui berbagai paparan kuman serta respons tubuh terhadap infeksi. Namun, bukan berarti anak yang lebih besar pasti terbebas dari ISPA, karena risiko terjadinya infeksi tetap bergantung pada banyak faktor. Oleh karena itu, menjaga kebersihan tangan, memenuhi asupan gizi yang tepat, dan memastikan imunisasi dilaksanakan sesuai jadwal sangat penting untuk mendukung kesehatan anak.2. Sering berinteraksi dengan anak lain

ilustrasi anak-anak yang sedang bermain (magnific.com/pch.vector) Bermain dengan teman-teman memang menyenangkan, namun kegiatan ini juga dapat meningkatkan kemungkinan penularan ISPA. Saat berada di sekolah, tempat penitipan anak, atau area bermain, anak bisa berdekatan dengan teman yang batuk atau bersin tanpa menyadari risiko penyebarannya. Selain itu, anak-anak biasanya belum terbiasa untuk menjaga jarak, atau menutup mulut dan hidung dengan benar saat saat batuk, lho.
Virus yang menjadi penyebab ISPA dapat menyebar melalui partikel pernapasan yang keluar ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara, serta melalui tangan dan permukaan yang terkontaminasi oleh kuman tertentu. Oleh karena itu, satu anak yang sakit dapat menularkan infeksi kepada teman-temannya, terutama di ruang yang ramai dan memiliki ventilasi kurang baik. Maka dari itu, membiasakan anak untuk mencuci tangan, mengajarkan etika batuk dan bersin, serta meminta anak beristirahat di rumah apabila sakit dapat membantu mengurangi risiko penularan.3. Paparan asap rokok dan polusi udara

ilustrasi polusi udara (pixabay.com/Erdenebayar) Lingkungan di mana anak-anak berada sangat memengaruhi kesehatannya, khususnya pada sistem pernapasan mereka, lho. Asap rokok, asap kendaraan, serta polusi udara memiliki potensi untuk mengiritasi saluran pernapasan dan mengganggu mekanisme pertahanan alami tubuh terhadap bakteri dan partikel. Kalau paparan ini terjadi secara terus-menerus, risiko terjadinya gangguan pada pernapasan dapat meningkat dan gejala infeksi yang dialami anak bisa semakin parah.
Kadang, orang tua telah berusaha untuk menjaga kebersihan di rumah, namun asap rokok dari anggota keluarga atau lingkungan tetap ada. Bahkan, hanya dengan membuka jendela mungkin gak cukup untuk menghilangkan polusi jika udara di luar sedang tercemar. Oleh karena itu, penting untuk memastikan rumah dan kendaraan terbebas dari asap rokok, mengurangi aktivitas di luar saat kualitas udara buruk, serta menggunakan perlindungan yang tepat ketika situasi lingkungan berpotensi menimbulkan risiko.4. Belum terbiasa menjaga kebersihan diri

ilustrasi anak-anak yang bermain (magnific.com/jcomp) Anak-anak cenderung senang mengeksplorasi berbagai hal, termasuk menyentuh mainan dan memegang benda di sekitarnya. Masalah muncul ketika tangan yang telah terkontaminasi oleh kuman menyentuh mata, hidung, atau mulut sebelum anak sempat mencucinya. Kebiasaan yang dianggap sepele seperti ini dapat menyebabkan penyebaran berbagai virus yang menyebabkan infeksi, termasuk yang menyerang saluran pernapasan.
Membiasakan anak untuk peduli pada kebersihan diri memang memerlukan kesabaran karena mereka mungkin tidak langsung memahami pentingnya hal tersebut. Orang tua bisa memulainya dengan langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah bermain di luar. Ajarkan pula cara membuang tisu bekas bersin atau batuk dengan benar sehingga kebiasaan sehat ini bisa terbentuk secara alami tanpa membuat anak merasa selalu ditegur.5. Kondisi gizi dan kesehatan yang kurang optimal

ilustrasi seorang anak yang sedang makan (magnific.com/magnific) Asupan gizi punya peran penting dalam mendukung sistem kekebalan tubuh anak agar dapat bekerja dengan baik. Anak yang mengalami kekurangan gizi berisiko lebih tinggi mengalami infeksi dan bisa menghadapi pemulihan yang lebih sulit ketika sakit. Karena itu, kebutuhan nutrisi sehari-hari sebaiknya gak luput dari perhatian, terutama pada masa pertumbuhan.
Memberikan makanan bergizi untuk anak gak harus selalu mahal, kok. Orang tua bisa menyiasatinya dengan menu rumahan yang bervariasi, mulai dari telur, ikan, tempe, sayuran, hingga buah-buahan sesuai kebutuhan anak. Nah, kalau anak sering sakit, berat badannya sulit naik, atau nafsu makannya terus menurun, sebaiknya periksakan ke tenaga kesehatan untuk mencari tahu penyebabnya.
Anak lebih rentan terkena ISPA karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang, sering berinteraksi dengan teman sebaya, serta bisa terpapar polusi dan kuman di lingkungan sekitar. Meski ISPA cukup umum terjadi pada anak-anak, orangtua tetap perlu menjaga kebersihan, memenuhi kebutuhan gizi, dan memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Nah, jika gejala ISPA tak kunjung membaik atau anak mengalami sesak napas, segera bawa ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Referensi














![[QUIZ] Dari Warna Outfit Favoritmu, Kami Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)








![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)