“Kami di Rumah Sakit Siloam Lippo Village juga menangani banyak pasien herpes zoster. Dengan komplikasi yang paling banyak kami tangani yaitu nyeri pascaherpes,” ujarnya dalam acara "Healthtalk bersama Maia Estianty selaku Duta Kampanye Kesehatan Kenali Cacar Api" di Tangerang pada Sabtu (17/01/2026).
Cacar Api di Wajah dan Mata Bisa Berujung pada Kebutaan Permanen

- Cacar api atau herpes zoster menyerang wajah dan mata, bisa menyebabkan kebutaan permanen jika tidak ditangani dengan cepat.
- Berbagai komplikasi cacar api dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
- Komplikasi cacar api juga dapat menjadi jauh lebih serius ketika virus menyerang jalur saraf tertentu, termasuk di area wajah dan mata.
Awalnya cuma ruam kecil di wajah, disertai rasa perih yang sering dianggap sepele. Namun, dalam hitungan hari, nyeri itu menjalar ke area mata, membuat penglihatan kabur dan rasa sakit tak tertahankan.
Banyak orang baru mencari pertolongan medis ketika matanya mulai sulit dibuka. Padahal, kondisi tersebut bukan sekadar iritasi mata biasa, melainkan bisa merupakan cacar api atau herpes zoster yang menyerang saraf di sekitar mata—sebuah kondisi yang jika terlambat ditangani bisa berujung pada kebutaan permanen.
Komplikasi cacar api cukup umum ditemui
Kondisi tersebut bukan kasus langka. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Siloam Lippo Village, Tangerang, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, mengatakan pihaknya menangani cukup banyak pasien herpes zoster dengan berbagai komplikasi. Salah satu yang paling sering dan paling berdampak pada kehidupan pasien adalah nyeri pascaherpes atau neuralgia pascaherpes (NPH).
Komplikasi cacar api bisa menurunkan kualitas hidup

Berdasarkan cerita para penyintas, NPH bukan rasa sakit biasa. Dokter Sandra menuturkan, NPH dapat menimbulkan nyeri luar biasa yang berlangsung lama, bahkan hingga bertahun-tahun, sehingga secara signifikan menurunkan kualitas hidup pasien.
“Nyeri ini menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan berkurangnya kualitas hidup. Beberapa individu menyatakan bahwa nyeri ini menyebabkan berkurangnya produktivitas kerja, kualitas tidur, waktu dengan keluarga, dan kemampuan untuk menikmati aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Selain nyeri berkepanjangan, komplikasi cacar api juga dapat menjadi jauh lebih serius ketika virus menyerang jalur saraf tertentu, termasuk di area wajah dan mata. Dokter Sandra menegaskan bahwa cacar api bukan cuma penyakit kulit, melainkan penyakit saraf yang mengikuti jalur tertentu di tubuh.
“Herpes zoster itu biasanya mengenai saraf tertentu. Bisa di dada, bisa di mata, bisa di telinga,” katanya.
Jangan sampai terlambat ditangani
Ketika cacar api menyerang area wajah dan mata, risikonya menjadi jauh lebih serius. Kondisi ini dikenal sebagai herpes zoster oftalmikus, yaitu infeksi virus yang mengenai saraf di sekitar mata. Jika tidak segera ditangani, virus dapat menyebabkan gangguan pada struktur mata, terutama kornea, yang berperan penting dalam penglihatan.
“Yang bisa menyebabkan kebutaan itu kalau herpes zoster yang biasanya dimulai dari wajah, mengenai mata, dan terlambat diobati,” dr. Sandra menjelaskan.
Menurutnya, keterlambatan penanganan menjadi faktor krusial yang menentukan berat ringannya komplikasi. Pada kasus herpes zoster oftalmikus, virus dapat memicu peradangan pada kornea sehingga penglihatan terganggu secara signifikan.
Tak hanya mengancam penglihatan, komplikasi juga dapat berdampak pada saraf lain di tubuh, kata dr. Sandra. Jika mengenai saraf di sekitar telinga dan wajah, pasien berisiko mengalami sindrom Ramsay Hunt, yang dapat menyebabkan kelumpuhan wajah hingga gangguan pendengaran. Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi ini bahkan dapat memicu peradangan pada organ vital.
Selain itu, tidak semua komplikasi cacar api bersifat sementara. Dokter Sandra menegaskan bahwa pada kondisi tertentu, dampak cacar api dapat menetap dalam jangka panjang. Ia mencontohkan, pada herpes zoster oftalmikus yang terlambat ditangani, kebutaan bisa menjadi kondisi yang menetap. Selain itu, bekas luka pada kulit juga dapat bersifat permanen dan mengganggu kenyamanan serta kepercayaan diri pasien.















