Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Campuran Aditif Makanan Ini terkait Risiko Diabetes

Aneka minuman berpemanis dalam kemasan.
ilustrasi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Intinya sih...
  • Studi besar di Prancis menemukan dua campuran aditif makanan yang terkait dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.
  • Risiko ini tetap muncul terlepas dari kualitas gizi makanan, seperti gula, kalori, atau lemak jenuh.
  • Penelitian menyoroti pentingnya menilai efek gabungan aditif, bukan hanya zat tunggal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Aditif makanan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan modern, terutama lewat produk ultraproses. Mulai dari penambah rasa, pengawet, pewarna, hingga pengemulsi, zat-zat ini membantu makanan bertahan lebih lama dan tampil lebih menarik. Selama ini, penilaian keamanannya dilakukan satu per satu, bukan sebagai kombinasi, karena keterbatasan data.

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, aditif tersebut hampir selalu dikonsumsi bersamaan, bukan terpisah. Sup instan, saus kemasan, minuman rendah gula, hingga dessert susu bisa mengandung beberapa jenis aditif sekaligus. Kombinasi inilah yang kemudian menjadi pertanyaan besar: apakah efeknya tetap sama ketika zat-zat ini masuk ke dalam tubuh secara bersamaan?

Menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti dari Inserm, INRAE, dan sejumlah universitas di Prancis menganalisis data lebih dari 108.000 orang dewasa dalam kohort NutriNet-Santé, dengan masa pemantauan rata-rata 7,7 tahun. Fokusnya bukan pada satu zat, melainkan pada campuran aditif yang sering dikonsumsi bersama.

Campuran aditif yang terkait risiko diabetes

Dari lima kelompok campuran aditif yang teridentifikasi, dua di antaranya menunjukkan hubungan signifikan dengan peningkatan kejadian diabetes tipe 2. Hubungan ini tetap terlihat meskipun peneliti sudah memperhitungkan faktor lain seperti asupan gula, kalori, serat, lemak jenuh, gaya hidup, hingga karakteristik sosial ekonomi.

Campuran pertama didominasi oleh berbagai pengemulsi, seperti pati termodifikasi, pektin, guar gum, karagenan, polifosfat, dan xanthan gum, ditambah pengawet kalium sorbat serta pewarna kurkumin. Aditif-aditif ini lazim ditemukan dalam kaldu instan, dessert berbasis susu, lemak olahan, dan aneka saus.

Campuran kedua banyak ditemukan dalam minuman berpemanis buatan dan soda. Isinya mencakup pemanis buatan (acesulfame-K, aspartam, sukralosa), pewarna (karamel sulfit amonia, antosianin, ekstrak paprika), pengatur keasaman, pengemulsi, hingga bahan pelapis seperti carnauba wax.

Menariknya, analisis lanjutan menunjukkan adanya interaksi antar aditif dalam campuran tersebut. Beberapa zat tampak saling memperkuat efeknya (sinergi), sementara yang lain justru saling melemahkan (antagonisme). Ini memperkuat dugaan bahwa efek kesehatan aditif tidak bisa dilihat secara terpisah.

Apa artinya temuan ini bagi kesehatan masyarakat?

Kaldu instan.
ilustrasi kaldu instan (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Menurut Marie Payen de la Garanderie, penulis pertama studi ini, penelitian tersebut menjadi yang pertama mengukur paparan campuran aditif makanan dalam populasi umum skala besar dan mengaitkannya dengan risiko diabetes tipe 2. Temuan ini menunjukkan bahwa aditif yang tampak “biasa” dan sering muncul bersama dalam makanan sehari-hari bisa menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Namun, para peneliti juga menekankan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, hasilnya belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Meski begitu, temuan ini sejalan dengan riset eksperimental sebelumnya yang menunjukkan adanya “cocktail effect”, ketika zat-zat kimia memberikan dampak berbeda saat dikombinasikan.

Pesan utamanya, evaluasi keamanan pangan ke depan perlu mempertimbangkan interaksi antar aditif, bukan hanya batas aman tiap zat secara individual. Temuan ini juga mendukung rekomendasi kesehatan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan ultraproses dan aditif yang tidak esensial, sebuah langkah kecil yang bisa berdampak besar dalam pencegahan diabetes tipe 2.

Referensi

"Certain food additive mixtures may be associated with an increased risk of type 2 diabetes." Inrae. Diakses Januari 2026.

Anaïs Hasenböhler et al., “Associations Between Preservative Food Additives and Type 2 Diabetes Incidence in the NutriNet-Santé Prospective Cohort,” Nature, January 7, 2026, https://doi.org/10.1038/s41467-025-67360-w.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

7 Alternatif Push-Up yang Layak Dicoba, Latih Otot Tubuh Bagian Atas

10 Jan 2026, 07:07 WIBHealth