Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tanda Overtraining Lari, Jangan Kamu Abaikan ya

Tanda Overtraining Lari, Jangan Kamu Abaikan ya
ilustrasi persiapan lari (unsplash.com/Malik Skydsgaard)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Overtraining tidak hanya ditandai tubuh pegal, tetapi juga penurunan performa, sulit tidur, mood memburuk, dan detak jantung istirahat meningkat.

  • Jika pace makin lambat padahal latihan makin keras, tubuh bisa jadi belum pulih sepenuhnya.

  • Overtraining yang dibiarkan dapat meningkatkan risiko cedera, gangguan hormon, penurunan imun, dan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk pulih.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada masa ketika latihan terasa menyenangkan. Tubuh lelah, tetapi tetap segar setelah istirahat. Namun, ada juga fase ketika setiap lari terasa lebih berat dari biasanya. Pace yang dulu terasa nyaman mendadak sulit dipertahankan, kaki terasa berat sejak kilometer pertama, dan tubuh seperti tidak pernah benar-benar pulih.

Banyak pelari menganggap kondisi itu sebagai tanda bahwa mereka harus berlatih lebih keras lagi. Mereka menambah mileage, memperbanyak interval, atau memaksa tetap lari meski tubuh terasa tidak beres. Padahal, bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal bahwa kapasitasnya sudah terlampaui. Kondisi ini dikenal sebagai overtraining syndrome atau sindrom overtraining.

Overtraining terjadi ketika beban latihan terlalu tinggi dan waktu pemulihan tidak cukup. Tubuh tidak lagi punya kesempatan untuk memperbaiki diri setelah latihan. Akibatnya, performa menurun, tubuh terasa lelah terus-menerus, dan berbagai gejala fisik maupun mental mulai muncul. Overtraining bukan sekadar rasa pegal biasa, melainkan kondisi maladaptasi tubuh akibat kombinasi latihan berlebihan dan pemulihan yang tidak memadai.

Bagi pelari, yuk kenali apa saja tanda-tanda overtraining!

Table of Content

1. Pace makin lambat, tetapi latihan terasa makin berat

1. Pace makin lambat, tetapi latihan terasa makin berat

Salah satu tanda paling awal adalah penurunan performa. Easy run yang biasanya terasa nyaman mendadak berat. Pace melambat, tetapi detak jantung justru lebih tinggi dari biasanya.

Sebagian pelari juga merasa interval yang dulu bisa diselesaikan dengan baik sekarang terasa jauh lebih sulit. Tubuh seperti kehilangan top speed atau finishing kick. Jika ini berlangsung terus selama beberapa minggu, bisa jadi masalahnya bukan kurang latihan, melainkan terlalu banyak latihan.

2. Kaki terus terasa berat dan pegal

Ilustrasi lari bersama pasangan.
ilustrasi lari (pexels.com/Kate Trifo)

Pegal setelah latihan adalah hal normal. Namun, pada overtraining, rasa lelah itu tidak hilang meski sudah tidur cukup atau mengambil satu hari istirahat.

Otot terasa berat, kaku, dan seperti tidak punya tenaga. Sebagian pelari menggambarkannya seperti berlari sambil membawa tambahan beban di kaki. Ini terjadi karena tubuh tidak punya cukup waktu untuk memperbaiki kerusakan kecil pada otot dan jaringan setelah latihan.

3. Detak jantung istirahat meningkat

Jika detak jantung istirahat (resting heart rate) mendadak lebih tinggi dari biasanya, itu bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi stres.

Studi menunjukkan bahwa peningkatan resting heart rate sekitar 10–30 denyut per menit di atas normal dapat menjadi tanda awal overtraining.

Tubuh bekerja lebih keras bahkan saat sedang tidak berolahraga. Pada sebagian pelari, heart rate variability (HRV) juga bisa menurun, yang menandakan tubuh belum pulih dengan baik.

4. Sulit tidur meski tubuh sangat lelah

Ilustrasi seorang perempuan berlari di taman.
ilustrasi lari (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

Ironisnya, tubuh yang terlalu lelah justru bisa membuat seseorang sulit tidur. Pelari yang overtraining sering merasa tired but wired, yang artinya tubuh lelah namun pikiran terasa aktif dan sulit tenang.

Mereka mungkin lebih mudah terbangun pada malam hari, sulit tertidur, atau bangun pagi dengan perasaan tidak segar. Gangguan tidur ini membuat proses pemulihan makin buruk dan bisa menciptakan lingkaran setan.

5. Mudah marah, sedih, atau kehilangan motivasi

Overtraining tidak cuma memengaruhi otot, tetapi juga mental. Pelari yang biasanya semangat bisa tiba-tiba kehilangan motivasi untuk latihan. Mood lebih buruk, lebih sensitif, mudah marah, atau merasa sedih tanpa alasan jelas.

Beberapa orang juga merasa cemas, sulit fokus, atau tidak lagi menikmati olahraga yang sebelumnya disukai. Gejala psikologis ini merupakan bagian penting dari overtraining syndrome dan sering muncul bersamaan dengan penurunan performa.

6. Lebih sering sakit

Seorang laki-laki berlari.
ilustrasi olahraga lari (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tubuh yang terus-menerus dipaksa bekerja keras tanpa cukup pemulihan dapat membuat sistem imun melemah. Akibatnya, pelari lebih mudah terkena pilek, sakit tenggorokan, atau infeksi ringan berulang.

Jika belakangan kamu merasa lebih sering sakit padahal pola hidup tidak berubah banyak, itu bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang terlalu stres akibat latihan.

7. Cedera ringan mulai bermunculan

Nyeri betis, lutut, telapak kaki, hamstring, atau pinggul yang terus muncul bisa menjadi tanda bahwa tubuh tidak lagi mampu beradaptasi dengan beban latihan.

Pada banyak pelari, overtraining tidak langsung muncul sebagai kelelahan ekstrem, tetapi diawali dengan cedera overuse seperti shin splints, plantar fasciitis, nyeri tendon, atau otot yang terasa tertarik terus-menerus.

Ketika tubuh dipaksa terus berlari tanpa pemulihan yang cukup, risiko cedera akan meningkat.

Siapa yang lebih berisiko mengalami overtraining?

Ilustrasi lari dengan pasangan.
ilustrasi berlari dengan pasangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Risiko overtraining lebih tinggi pada pelari yang:

  • Menambah mileage terlalu cepat.
  • Jarang mengambil recovery day.
  • Terlalu sering melakukan speed workout atau long run berat.
  • Kurang tidur.
  • Tidak makan cukup, terutama karbohidrat dan protein.
  • Sedang stres karena pekerjaan, keluarga, atau masalah lain.
  • Tetap memaksakan latihan saat sakit atau cedera.

Tubuh tidak membedakan stres karena latihan dengan stres karena kehidupan sehari-hari. Semua tekanan itu tetap harus “dibayar” oleh tubuh. Jika latihan keras diiringi kurang tidur, pekerjaan menumpuk, atau asupan makan kurang, risiko overtraining bisa meningkat jauh lebih cepat.

Apa yang harus dilakukan jika sudah overtraining?

Langkah pertama adalah berhenti memaksa tubuh. Mengurangi volume latihan, mengambil beberapa hari istirahat, atau mengganti lari dengan aktivitas ringan seperti jalan kaki bisa membantu.

Jika gejala sudah berlangsung lama, performa terus menurun, atau tubuh terasa sangat lelah selama berminggu-minggu, evaluasi ke dokter olahraga atau dokter spesialis kedokteran olahraga bisa diperlukan. Kadang, gejala overtraining mirip anemia, gangguan tiroid, kekurangan zat besi, depresi, atau masalah kesehatan lain sehingga perlu dipastikan penyebabnya.

Tubuh menjadi lebih kuat bukan saat berlari, melainkan saat pulih setelah berlari. Karena itu, recovery bukan tanda malas, melainkan bagian penting dari progres.

Menambah latihan terus-menerus tanpa memberi ruang untuk istirahat justru bisa membuat tubuh mundur. Ketika easy run mulai terasa berat, mood memburuk, dan tubuh terasa lelah terus-menerus, mungkin itu bukan tanda kamu kurang berusaha. Bisa jadi tubuh sedang minta waktu untuk istirahat.

Referensi

Mary Black Johnson and Steven M Thiese, “A Review of Overtraining Syndrome—Recognizing the Signs and Symptoms,” 1992, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1317287/.

Jonathon Weakley, Shona L. Halson, and Iñigo Mujika, “Overtraining Syndrome Symptoms and Diagnosis in Athletes: Where Is the Research? A Systematic Review,” International Journal of Sports Physiology and Performance 17, no. 5 (March 25, 2022): 675–81, https://doi.org/10.1123/ijspp.2021-0448.

Romain Meeusen et al., “Prevention, Diagnosis, and Treatment of the Overtraining Syndrome,” Medicine & Science in Sports & Exercise 45, no. 1 (January 1, 2013): 186–205, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e318279a10a.

Jeffrey B. Kreher and Jennifer B. Schwartz, “Overtraining Syndrome,” Sports Health a Multidisciplinary Approach 4, no. 2 (January 31, 2012): 128–38, https://doi.org/10.1177/1941738111434406.

Cleveland Clinic. “Overtraining Syndrome.” Diakses April 2026.

Clementine Grandou et al., “Overtraining in Resistance Exercise: An Exploratory Systematic Review and Methodological Appraisal of the Literature,” Sports Medicine 50, no. 4 (December 9, 2019): 815–28, https://doi.org/10.1007/s40279-019-01242-2.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More