Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Tanda Anak Stunting yang Bisa Terlihat Sejak Dini

6 Tanda Anak Stunting yang Bisa Terlihat Sejak Dini
ilustrasi anak kecil bermain di taman (pexels.com/Thang Nguyen)
Intinya Sih
  • Tanda utama stunting adalah panjang atau tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya, tetapi diagnosis harus memakai kurva pertumbuhan, bukan perkiraan visual.

  • Tanda awal yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan tinggi melambat, berat badan sulit naik, anak tampak lebih kecil dari teman seusianya, atau perkembangan tidak sesuai usia.

  • Orang tua sebaiknya rutin mengukur berat dan tinggi anak di posyandu, puskesmas, atau dokter anak agar masalah pertumbuhan bisa diketahui lebih dini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Stunting sering tidak tampak terlalu jelas pada awalnya. Anak mungkin tetap bermain, tetap makan, dan sekilas cuma kelihatan lebih kecil. Di keluarga, kondisi ini kadang dianggap wajar karena orang tua juga bertubuh pendek. Padahal, anak yang pendek karena faktor keturunan dan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis adalah dua hal yang berbeda.

Secara medis, stunting adalah kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak menurut usia berada di bawah standar pertumbuhan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan menurut usia yang berada di bawah -2 standar deviasi dari median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Stunting berarti anak terlalu pendek untuk usianya dan kondisi ini dapat berkaitan dengan dampak fisik serta kognitif yang serius.

Berikut ini tanda-tanda anak stunting yang perlu kamu tahu sejak dini.

Table of Content

1. Tinggi atau panjang badan anak lebih rendah dari standar usianya

1. Tinggi atau panjang badan anak lebih rendah dari standar usianya

Ini tanda yang paling utama. Tinggi anak perlu diukur dengan benar, lalu diplot ke kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin.

Stunting adalah keadaan ketika tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata untuk usianya akibat kekurangan nutrisi dalam jangka panjang. Penyebabnya bisa berkaitan dengan kurangnya asupan gizi ibu saat hamil atau asupan anak saat masa pertumbuhan.

Yang bisa dilakukan oleh orang tua atau pengasuh, coba ukur tinggi atau panjang badan anak secara rutin. Untuk anak di bawah 2 tahun, pengukuran biasanya menggunakan panjang badan telentang. Untuk anak yang lebih besar, tinggi badan diukur sambil berdiri.

2. Pertumbuhan tinggi badan melambat

Anak yang stunting tidak selalu langsung tampak sangat pendek. Tanda awalnya bisa berupa pertumbuhan tinggi yang melambat dari waktu ke waktu.

Misalnya, garis pertumbuhan di KMS atau kurva tidak naik sesuai jalurnya, mendatar, atau makin menjauh dari standar usianya.

Karena itu, satu kali pengukuran belum tentu cukup. Anak yang sejak awal kecil tetapi terus mengikuti jalur pertumbuhan bisa berbeda maknanya dengan anak yang sebelumnya tumbuh baik, lalu pertumbuhannya melambat.

Simpan selalu catatan pengukuran anak. Jika tinggi badan sulit bertambah atau garis kurva mulai turun, jangan menunggu sampai anak terlihat sangat pendek.

3. Berat badan sulit naik atau sering turun

Seorang anak kecil berdiri di depan pintu rumah kayu sambil memegang ember biru, mengenakan sweter abu-abu dan tanpa alas kaki.
ilustrasi tanda-tanda anak stunting (pexels.com/Mehmet Turgut)

Stunting memang dinilai dari tinggi badan menurut usia, tetapi masalah pertumbuhan sering diawali dengan berat badan yang sulit bertambah. Berat badan yang stagnan, sering turun, atau tidak sesuai grafik bisa menjadi tanda bahwa asupan energi, protein, atau zat gizi penting belum cukup.

Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah berat badan anak rendah dibandingkan anak seusianya. Namun, berat badan juga tetap harus dinilai dengan kurva, bukan cuma dari membandingkan anak dengan anak tetangga atau saudara.

Jika berat badan anak tidak naik selama beberapa kali penimbangan, evaluasi pola makan, frekuensi sakit, cara pemberian makan, dan konsultasikan ke tenaga kesehatan.

4. Anak tampak lebih kecil atau lebih muda dari usianya

Sebagian anak yang stunting memiliki proporsi tubuh yang tampak normal, tetapi keseluruhan tubuhnya terlihat lebih kecil atau lebih muda dibandingkan anak seusianya. Ini perlu diwaspadai.

Tanda ini sering membuat orang tua terlambat menyadari masalah, karena anak tidak selalu tampak kurus. Anak bisa terlihat baik-baik saja, tetapi tinggi badannya tidak mengejar standar usianya.

Sebaiknya jangan hanya mengandalkan tampilan fisik. Pengukuran teratur tetap menjadi cara paling aman untuk mengetahui apakah pertumbuhan anak sesuai jalur.

5. Perkembangan anak tampak terlambat

Gangguan gizi kronis pada masa awal kehidupan dapat berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan kesehatan jangka panjang.

Dampak jangka pendek stunting dapat mencakup gangguan perkembangan otak, kecerdasan, pertumbuhan fisik, dan metabolisme.

Tanda yang bisa diperhatikan misalnya anak terlambat duduk, berdiri, berjalan, bicara, kurang responsif, atau tampak kurang aktif dibanding anak seusianya.

Namun, keterlambatan perkembangan tidak selalu berarti stunting. Penyebabnya bisa beragam, sehingga perlu evaluasi lebih lanjut.

Selain menimbang dan mengukur tinggi, pantau juga kemampuan anak sesuai usia. Jika ada keterlambatan, bawa anak ke dokter anak atau fasilitas kesehatan.

6. Anak sering sakit atau punya masalah makan berkepanjangan

Anak balita duduk di kursi makan tinggi sambil menikmati potongan buah berwarna cerah di atas piring di dapur rumah.
ilustrasi anak balita sedang makan makanan bergizi (pexels.com/vanessa loring)

Infeksi berulang, diare, cacingan, tuberkulosis (TBC), masalah penyerapan makanan, atau kesulitan makan yang berlangsung lama bisa mengganggu asupan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan.

Studi di Surabaya pada anak di bawah 2 tahun menemukan bahwa panjang badan lahir, tinggi ibu, dan riwayat ASI eksklusif berhubungan dengan pertumbuhan linear anak. Ini mengingatkan bahwa stunting tidak hanya terjadi karena satu faktor, melainkan dipengaruhi kondisi sejak kehamilan, masa bayi, pola makan, dan kesehatan anak.

Apabila anak sering diare, batuk lama, demam berulang, susah makan berat, atau berat badan sulit naik, jangan hanya mengganti menu. Cari tahu apakah ada masalah kesehatan yang mendasari.

Kapan harus membawa anak ke dokter?

Bawa anak ke dokter, puskesmas, atau posyandu jika tinggi badan anak tampak tidak bertambah, berat badan sulit naik, grafik pertumbuhan mendatar atau turun, anak lebih kecil dari teman-teman seusianya, sering sakit, atau perkembangannya terlambat.

Ingat juga bahwa anak pendek belum tentu stunting. Bisa saja karena faktor genetik, variasi pertumbuhan, atau kondisi medis lain. Namun, satu-satunya cara untuk membedakannya adalah dengan pengukuran yang benar dan evaluasi tenaga kesehatan.

Stunting paling baik dicegah dan ditangani sedini mungkin. Makin cepat masalah pertumbuhan diketahui, makin besar peluang anak mendapat dukungan gizi, kesehatan, dan stimulasi yang tepat.

Referensi

World Health Organization. “Malnutrition in Children.” Diakses Juli 2026.

UNICEF. “Malnutrition in Children.” Diakses Juli 2026.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. “Kurva Pertumbuhan WHO.” Diakses Juli 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Stunting.” Diakses Juli 2026.

Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “4 Gejala Stunting yang Harus Diwaspadai.” Diakses Juli 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. "Bebas Stunting" (PDF). Diakses Juli 2026.

Nadhiroh, Siti Rahayu, et al. “Linear Growth Determinants of Under Two Years Old Children in Surabaya, Indonesia.” Clinical Epidemiology and Global Health 29 (2024): 101728. https://doi.org/10.1016/j.cegh.2024.101728.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono

Related Articles

See More