Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus Cedera Hati Dilaporkan Naik 400 Persen, Parasetamol Disorot
ilustrasi obat parasetamol (pexels.com/Suzy Hazelwood)
  • Analisis data pusat racun AS menemukan 220.160 paparan zat yang berkaitan dengan cedera hati selama 2000–2024.

  • Angka laporan yang telah disesuaikan dengan populasi meningkat dari 10,9 menjadi 52,9 per juta penduduk, atau hampir 400 persen.

  • Parasetamol tunggal menjadi zat yang paling sering terlibat, tetapi temuan ini berasal dari laporan pusat racun dan tidak berarti pemakaian parasetamol sesuai aturan otomatis merusak hati.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Parasetamol umum digunakan untuk menurunkan demam serta meredakan nyeri ringan hingga sedang, dan secara umum aman jika digunakan sesuai petunjuk. Namun, jumlah yang terlalu banyak dapat menyebabkan kerusakan hati serius.

Penelitian terbaru dari UVA Health menunjukkan besarnya masalah tersebut di Amerika Serikat (AS). Analisis yang diterbitkan dalam Clinical Gastroenterology and Hepatology ini menemukan laporan paparan zat yang disertai cedera hati ke pusat pengendalian racun meningkat tajam dalam 25 tahun terakhir—dan parasetamol merupakan zat yang paling sering terlibat.

Dari 10,9 menjadi 52,9 kasus per 1 juta penduduk

Para peneliti menganalisis National Poison Data System AS dari 2000 hingga 2024. Mereka memasukkan laporan pada orang berusia setidaknya 15 tahun yang mengalami paparan xenobiotic dan memiliki bukti biokimia cedera hati, yaitu kadar AST atau ALT di atas 100 U/L.

Xenobiotic adalah istilah untuk zat dari luar tubuh. Dalam penelitian ini cakupannya luas, mulai dari obat-obatan, alkohol, suplemen, hingga zat rekreasional dan toksin lingkungan.

Secara keseluruhan, ditemukan 220.160 paparan yang berkaitan dengan cedera hati. Angka yang telah disesuaikan dengan jumlah penduduk meningkat dari 10,9 per 1 juta penduduk pada awal periode menjadi 52,9 per 1 juta.

Lebih dari 80 persen kasus butuh perawatan inap, menunjukkan bahwa banyak laporan yang dianalisis merupakan kondisi yang cukup serius.

Meski demikian, data di atas menggambarkan kasus yang dilaporkan ke poison center, bukan seluruh kejadian cedera hati di populasi AS. Karena bersifat retrospektif, data juga tidak dapat menjelaskan dengan pasti mengapa jumlah laporan meningkat.

Parasetamol paling sering terlibat

ilustrasi cedera hati akibat keracunan parasetamol (pexels.com/Anna Shvets)

Mayoritas paparan berasal dari obat-obatan: 85 persen pada laki-laki dan 94 persen pada perempuan.

Dari berbagai zat yang dilaporkan, parasetamol tunggal berada di posisi teratas, terlibat dalam sekitar 33 persen laporan pada laki-laki dan 45 persen pada perempuan.

Trennya juga bergerak ke arah yang berlawanan antara parasetamol tunggal dan obat kombinasi.

Setelah Food and Drug Administration (FDA) AS membatasi kandungan parasetamol (di AS disebut asetaminofen) dalam produk resep kombinasi pada awal 2010-an, laporan terkait produk kombinasi turun sekitar 60–85 persen. Sebaliknya, laporan cedera hati yang melibatkan parasetamol sebagai satu-satunya bahan aktif meningkat 349 persen pada laki-laki dan 380 persen pada perempuan sepanjang periode penelitian.

Untuk paparan parasetamol, dugaan percobaan bunuh diri merupakan alasan paparan yang paling sering dicatat pada laki-laki maupun perempuan. Alkohol berada jauh di posisi kedua sebagai zat yang banyak dikaitkan dengan cedera hati. Peningkatan juga ditemukan pada stimulan, narkoba jalanan, suplemen herbal dan makanan, serta toksin lingkungan, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil.

Kenapa parasetamol bisa merusak hati?

Dalam dosis yang tepat, sebagian besar parasetamol diproses menjadi zat yang tidak berbahaya. Namun, sebagian kecil diubah menjadi metabolit reaktif bernama NAPQI.

Biasanya tubuh menetralkan NAPQI menggunakan glutathione. Ketika parasetamol dikonsumsi berlebihan, mekanisme tersebut dapat kewalahan sehingga NAPQI menumpuk dan merusak sel hati.

Overdosis tidak selalu disengaja. Masalah juga dapat terjadi ketika seseorang menggunakan beberapa obat sekaligus tanpa menyadari bahwa semuanya mengandung parasetamol—misalnya obat nyeri bersama obat flu atau produk kombinasi lainnya.

Oleh karena itu, selalu cek bahan aktif obat dan tidak menggunakan lebih dari satu produk yang mengandung parasetamol tanpa arahan tenaga kesehatan.

Kamu tidak harus menghindari parasetamol

Temuan penelitian tidak menunjukkan parasetamol berbahaya jika digunakan sesuai petunjuk. Yang menjadi masalah adalah paparan berlebihan atau penggunaan yang tidak tepat.

Overdosis parasetamol dapat menyebabkan gagal hati dan kematian. Pada tahap awal, gejalanya dapat berupa mual, muntah, atau nyeri perut, sementara tanda kerusakan hati berat seperti penyakit kuning dan gangguan kesadaran dapat muncul kemudian.

Karena itu, jangan menambah dosis hanya karena nyeri atau demam belum hilang, periksa kandungan semua obat yang diminum bersamaan, dan ikuti dosis pada kemasan atau arahan dokter.

Jika kamu merasa telah mengonsumsi parasetamol terlalu banyak, jangan menunggu muncul gejala sebelum mencari pertolongan medis, karena terapi antidotum bekerja paling baik jika diberikan sejak dini.

Referensi

Eleanor Blair Towers, Christopher P. Holstege, Scott Schmalzried, and Rita Farah, “Xenobiotic-Induced Liver Injury in the United States: A 25-Year Retrospective Analysis of National Poison Data System,” Clinical Gastroenterology and Hepatology, published online August 13, 2026, https://doi.org/10.1016/j.cgh.2026.07.032.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Acetaminophen,” LiverTox: Clinical and Research Information on Drug-Induced Liver Injury, diakses Agustus 2026.

U.S. Food and Drug Administration, “Don’t Overuse Acetaminophen,” diakses Agustus 2026.

UVA Health, "Poison Centers See Nearly 400% Increase in Liver Injury Calls," diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article