Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Laki-laki Lebih Sering Menambahkan Garam ke Makanan

Studi: Laki-laki Lebih Sering Menambahkan Garam ke Makanan
ilustrasi seorang laki-laki menambahkan garam ke masakan (pexels.com/Kampus Production)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Studi di Brasil menemukan, kebiasaan menambahkan garam menyumbang 6–20 persen dari total asupan harian, dengan laki-laki lebih sering melakukannya dibanding perempuan.

  • Laki-laki yang tidak menjalani diet hipertensi dan tinggal sendiri cenderung lebih sering menambahkan garam, sedangkan pada perempuan dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan pola makan.

  • Konsumsi garam berlebih dapat menurunkan sensitivitas rasa asin dan meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, ginjal, serta penurunan fungsi kognitif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Garam rasanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari makanan. Namun, di era ketika banyak makanan sudah tinggi natrium, kebiasaan menambahkan garam bisa menjadi masalah kesehatan yang serius.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi garam berlebih berkontribusi pada sekitar 1,8 juta kematian global pada tahun 2021. Anjuran asupan garam per hari umumnya maksimal 2.000 mg natrium atau setara dengan 1 sendok teh (sdt) garam dapur (5 gram) per orang per hari untuk orang dewasa.

Menariknya, sebagian konsumsi garam tidak hanya berasal dari makanan olahan, tetapi juga dari kebiasaan sederhana, yaitu menambahkan garam di meja makan. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Public Health menemukan, kebiasaan ini menyumbang sekitar 6–20 persen dari total asupan garam harian.

Siapa yang paling sering menambahkan garam?

Penelitian yang melibatkan lebih dari 8.300 orang dewasa berusia 60 tahun ke atas di Brasil mengungkap pola yang cukup menarik. Hasilnya menunjukkan bahwa 12,7 persen laki-laki secara rutin menambahkan garam ke makanan mereka, dibandingkan dengan 9,4 persen perempuan.

Pada laki-laki, perilaku menambahkan garam cenderung lebih “langsung” dan tidak terlalu dipengaruhi banyak faktor. Menurut temuan studi ini:

  • Laki-laki yang tidak menjalani diet hipertensi lebih cenderung menambahkan garam.
  • Laki-laki yang tinggal sendiri memiliki kemungkinan 62 persen lebih tinggi untuk melakukannya.

Artinya, pada laki-laki, kebiasaan ini sering berkaitan dengan rutinitas dan kurangnya kontrol diet, bukan pilihan makanan secara keseluruhan.

Sementara itu, pada perempuan bisa lebih kompleks. Kebiasaan menambahkan garam pada perempuan dipengaruhi oleh banyak faktor:

  • Tidak menjalani diet hipertensi: risiko meningkat 68 persen.
  • Tinggal di perkotaan: risiko meningkat.
  • Sering mengonsumsi makanan ultraproses: risiko bisa dua kali lipat.

Sebaliknya, perempuan yang rutin makan buah dan sayur justru memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menambahkan garam. Ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pola makan sehat berperan besar dalam mengontrol kebiasaan ini.

Kebiasaan yang tampak sepele, tapi berisiko buat kesehatan

Menuangkan garam.
ilustrasi menuangkan garam (IDN Times/NRF)

Alasan seseorang menambahkan garam tidak selalu soal rasa makanan. Para peneliti menekankan, kebiasaan ini sering terbentuk dari paparan jangka panjang terhadap makanan tinggi natrium.

Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan asin, sensitivitas lidah terhadap rasa garam bisa menurun. Akibatnya, makanan yang sebenarnya sudah cukup asin terasa “kurang”, sehingga muncul dorongan untuk menambahkan garam lagi.

Dalam jangka panjang, pola ini bisa menjadi siklus:

  • Konsumsi garam tinggi menyebabkan sensitivitas rasa asin menurun.
  • Sensitivitas rasa asin yang menurun membuat tubuh butuh lebih banyak garam.
  • Pada akhirnya, asupan garam meningkat.

Dampaknya tidak kecil. Konsumsi garam berlebih telah dikaitkan dengan:

  • Hipertensi.
  • Penyakit jantung.
  • Penyakit ginjal.
  • Bahkan penurunan fungsi kognitif.

Ini menjelaskan kenapa para ahli terus mendorong pengurangan atau pembatasan konsumsi garam.

Kebiasaan menambahkan garam mungkin tampak sepele, tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa di balik tindakan ini, ada pola perilaku yang dipengaruhi oleh gender, gaya hidup, hingga lingkungan sosial. Laki-laki cenderung lebih sering melakukannya secara langsung, sementara perempuan menunjukkan pola yang lebih kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

Kalau kamu punya kebiasaan ini, yuk segera ubah! Mengganti garam dengan bumbu alami seperti rempah, menggunakan asam dari jeruk, atau bahkan sekadar tidak meletakkan garam di meja makan bisa menjadi langkah awal yang sederhana. Dalam jangka panjang, perubahan kecil ini bisa berdampak besar bagi kesehatan.

Referensi

Flávia Dos Santos Barbosa Brito et al., “The Habit of Adding Salt to Food at the Table and Its Association With Socio-demographic, Anthropometric and Dietary Characteristics in Brazilian Older Adults,” Frontiers in Public Health 14 (April 2, 2026), https://doi.org/10.3389/fpubh.2026.1737516.

"Older men most likely to reach for saltshakers, while women’s salt-adding behavior more nuanced, study suggests." Frontiers. Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More
Apakah Bisul Bisa Menular?

Apakah Bisul Bisa Menular?

08 Apr 2026, 07:48 WIBHealth