Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Daging yang Terinfeksi Antraks Tidak Bisa Dibuat Aman dengan Dimasak

4 min read
Daging yang Terinfeksi Antraks Tidak Bisa Dibuat Aman dengan Dimasak
ilustrasi kambing (pexels.com/donny yularso)
  • Empat warga Semanu, Gunungkidul, positif antraks setelah terpapar daging kambing sakit yang mati mendadak. Kementerian Pertanian melakukan pemeriksaan, disinfeksi, dan vaksinasi.

  • Daging serta jeroan hewan terinfeksi antraks tidak aman dikonsumsi meski dimasak, karena Bacillus anthracis dapat membentuk spora yang tahan lama di lingkungan.

  • Warga diminta tidak menyembelih, mengolah, atau memindahkan ternak yang sakit/mati mendadak. Segera lapor petugas dan cari layanan kesehatan jika merasa pernah terpapar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Awal Oktober, empat warga di Semanu, Gunungkidul, dilaporkan positif antraks setelah terpapar daging kambing yang sakit dan mati mendadak. Mereka kemudian dilaporkan pulih. Kementerian Pertanian juga mengonfirmasi penanganan kejadian antraks di wilayah Dadapayu, Semanu, termasuk pemeriksaan ternak, disinfeksi, dan vaksinasi.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa daging dari hewan yang tampak masih bisa diolah belum tentu aman. Terlebih jika hewan itu sakit atau mati mendadak dan penyebabnya belum diketahui. Memasaknya sampai matang pun bukan jaminan untuk membuat daging tersebut aman dikonsumsi.

Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Dr. drh. Denny Widaya Lukman, mengatakan daging dari hewan sakit atau mati mendadak tidak boleh dianggap aman.

“Daging dari hewan yang sakit dan mati mendadak tidak boleh dianggap aman untuk dikonsumsi, sekalipun telah dimasak,” katanya, dilansir laman resmi IPB University.

Ia menegaskan, daging dan jeroan hewan yang terinfeksi antraks tidak boleh dikonsumsi.

  1. Mengapa memasak bukan jaminan?

    Antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini dapat membentuk spora, yakni bentuk yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu.

    Denny menjelaskan bahwa di luar tubuh hewan atau manusia, bakteri berada dalam bentuk spora. Spora antraks dapat bertahan di tanah dan lingkungan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

    Daya tahan spora di lingkungan tidak berarti semua daging yang dimasak pasti masih mengandung spora aktif. Namun, memasak sendiri tidak dapat memastikan daging dari hewan terinfeksi aman.

    Dalam laporan kasus Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) di Texas, bakteri hidup tidak ditemukan lewat kultur pada sampel daging domba yang sudah dimasak, tetapi CDC menegaskan tidak ada cara aman untuk menyiapkan daging konsumsi dari hewan yang mati karena antraks.

    Penelitian investigasi wabah di Uganda juga menemukan kaitan antara konsumsi daging dari sapi yang terinfeksi dan antraks saluran cerna. Perebusan lebih lama tampak menurunkan risiko dalam penyelidikan itu, tetapi tidak menjadi alasan untuk mencoba menyelamatkan atau mengolah daging dari ternak yang sakit atau mati mendadak. Para peneliti tetap merekomendasikan masyarakat menghindari daging dari hewan dengan penyebab kematian yang tidak diketahui.

  2. Antraks bisa masuk lewat makanan dan kontak dengan hewan

    Ilustrasi proses memasak daging ternak sebagai bahan makanan menggunakan peralatan dapur.
    ilustrasi memasak daging ternak (pexels.com/Ruyat Supriazi)

    Seseorang bisa terpapar antraks dengan memakan produk hewan yang tercemar. Bakteri juga dapat masuk melalui luka atau goresan pada kulit saat seseorang menangani bangkai atau jaringan hewan terinfeksi.

    Antraks umumnya tidak menyebar dari orang ke orang. Sumber paparannya biasanya berasal dari hewan atau produk hewan yang terkontaminasi.

    Setelah mengonsumsi daging tercemar, gejala antraks saluran cerna dapat berupa mual, muntah, sakit perut, dan diare. Dalam kondisi berat, penyakit dapat menyebabkan perdarahan, infeksi menyebar ke aliran darah, hingga sepsis. Gejala setelah konsumsi biasanya muncul dalam rentang 1–7 hari, walaupun waktu dan gejalanya dapat berbeda.

    Kontak dengan hewan terinfeksi juga dapat menyebabkan antraks kulit. Gejalanya bisa bermula dari benjolan kecil yang gatal atau tidak nyeri, lalu berkembang menjadi lepuh atau luka dengan bagian tengah kehitaman. Karena gejala awal dapat menyerupai masalah lain, riwayat kontak dengan bangkai atau ternak sakit penting disampaikan kepada tenaga kesehatan.

  3. Apa yang perlu dilakukan jika menemukan ternak sakit?

    Warga, diimbau oleh Dr. Denny, agar tidak mengonsumsi daging dari ternak yang sakit atau mati mendadak dan segera melapor kepada petugas kesehatan hewan.

    “Masyarakat diimbau tidak mengonsumsi daging dari ternak yang sakit atau mati mendadak. Jika menemukan kejadian tersebut, warga sebaiknya segera melapor kepada petugas kesehatan hewan setempat agar ditangani sesuai prosedur dan tidak menimbulkan risiko lebih luas,” tutup Dr. Denny.

    Jangan menyembelih, mengolah, membagikan, atau memindahkan bangkainya sendiri. Petugas dapat memeriksa hewan dan menentukan penanganan yang sesuai.

    Kalau telanjur mengonsumsi daging atau menangani bangkai hewan yang dicurigai terinfeksi antraks, segera hubungi puskesmas atau fasilitas kesehatan dan jelaskan kapan serta bagaimana paparan terjadi. Jangan menunggu gejala atau mengonsumsi antibiotik sendiri. Tenaga kesehatan akan menilai risikonya dan menentukan apakah pemeriksaan atau obat pencegahan diperlukan.

    Referensi

    Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, “Kementan Perkuat Langkah Pemda dalam Pengendalian Penyakit Hewan di Gunungkidul,” diakses 20 Oktober 2026.

    IPB University, “Pakar IPB Ingatkan Bahaya Antraks: Daging Hewan Terinfeksi Tak Aman Meski Dimasak, Sporanya Bisa Bertahan Puluhan Tahun,” diakses 20 Oktober 2026.

    Esther Kisaakye et al., “Outbreak of Anthrax Associated with Handling and Eating Meat from a Cow, Uganda, 2018,” Emerging Infectious Diseases 26, no. 12 (2020): 2799–2806, https://doi.org/10.3201/eid2612.191373.

    Julie M. Thompson et al., “Notes from the Field: Anthrax on a Sheep Farm in Winter—Texas, December 2023–January 2024,” Morbidity and Mortality Weekly Report 73, no. 22 (2024): 517–20, https://doi.org/10.15585/mmwr.mm7322a2.

    World Health Organization, “Anthrax—Thailand,” Disease Outbreak News, diakses 20 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More