Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tren Kesehatan yang Dipelopori Generasi Milenial, Kamu Termasuk?

5 min read
5 Tren Kesehatan yang Dipelopori Generasi Milenial, Kamu Termasuk?
ilustrasi kaum milenial sedang olahraga (unsplash.com/Gabin Vallet)
  • Milenial memprioritaskan kesehatan fisik dan mental, didorong risiko burnout serta kekhawatiran penyakit kronis; survei menunjukkan mereka semakin fokus pada kesehatan dibanding tahun sebelumnya.
  • Pola hidup sehat mereka mencakup makanan fungsional seperti jamu, diet yang fleksibel dan personal, serta penggunaan aplikasi dan wearable untuk memantau kalori, tidur, dan kondisi kesehatan.
  • Di tempat kerja, milenial menginginkan terapi online, cuti kesehatan mental, dan dukungan perusahaan; mereka juga memeriksa bukti ilmiah serta mempertimbangkan pengobatan alternatif dan pencegahan penyakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Generasi milenial dianggap sebagai pelopor tren kesehatan karena mereka memprioritaskan berbagai aspek kesehatan, baik fisik maupun mental. Misalnya, data Statista AS dari tahun 2021 mengungkapkan bahwa milenial memimpin Gen Z, Gen X, dan baby boomer dalam aktivitas olahraga. Terlebih lagi, milenial membantu menormalisasi tren kesehatan, seperti terapi dan konseling bagi semua generasi.

Kenapa milenial sangat "ngotot" dengan kesehatan mereka? Mungkin salah satu alasannya adalah keinginan untuk menghindari kelelahan (burnout). Pada tahun 2025, 77 persen milenial yang disurvei oleh Seramount mengatakan bahwa mereka mengalami gejala kelelahan. Itulah kenapa milenial menjadi generasi yang paling rentan mengalami stres. Alasan lain mungkin karena milenial lebih peduli dengan kesehatan dan takut dengan penyakit kronis yang banyak menimpa generasi muda.

Terlepas dari alasannya, generasi milenial punya kendali dan suka membuat perubahan yang lebih sehat saat mendekati usia paruh baya. Survei yang dilakukan McKinsey & Company dari tahun 2025 menunjukkan bahwa hampir 3 dari 10 milenial dan Gen Z mengakui bahwa mereka lebih fokus pada kesehatan ketimbang tahun sebelumnya. Nah, kebiasaan berikut hanyalah beberapa cara bagi generasi milenial untuk mengubah hidup menjadi lebih sehat.

  1. 1. Milenial memilih untuk mengonsumsi makanan fungsional

    ilustrasi minum jamu
    ilustrasi minum jamu (pixabay.com/Asep Awaludin)

    Tren generasi milenial yang mengadopsi makanan fungsional (yang bermanfaat bagi kesehatan) membuktikan bahwa milenial tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk merawat diri sendiri. Makanan fungsional adalah makanan yang kaya nutrisi, seperti beri, dan yang ngetren di Indonesia adalah jamu, untuk membantu mengurangi peradangan. Itu sebabnya, generasi milenial tidak lagi meminum suplemen tambahan.

    Survei yang dilakukan SPINS dari akhir tahun 2025 yang menganalisis perilaku diet di antara berbagai generasi menemukan bahwa generasi milenial menginginkan diet yang dipersonalisasi dan tidak terlalu ketat atau sulit dilakukan. Apalagi, makanan fungsional lebih mudah didapat. Ahli gizi Isabel Garza menjelaskan alasannya dalam sebuah wawancara dengan The Food Institute. "Mengeluarkan botol pil (suplemen) bisa terasa seperti di klinik," akunya. Jadi, minum jamu, minuman hidrasi, atau camilan sehat lebih mudah diterima milenial ketimbang harus minum suplemen.

  2. 2. Milenial ingin mendapatkan dukungan kesehatan mental dan fasilitas kesehatan di tempat kerja

    ilustrasi tempat kerja
    ilustrasi tempat kerja (pexels.com/RDNE Stock project)

    Laporan dari Businessolver bertajuk 2025 Benefits Insights Report mengungkapkan beberapa fasilitas kerja spesifik yang diinginkan generasi milenial. Ditemukan bahwa milenial ingin mendapatkan layanan kesehatan mental, seperti terapi online dan pemberdayaan untuk mengambil cuti berbayar (PTO) untuk mengurus kesehatan mental di tempat kerja dan di rumah. Sementara itu, dalam survei Forbes tahun 2024, 68 persen generasi milenial menunjukkan bahwa milenial berharap mendapat dukungan kesehatan mental dari perusahaan.

    Kedua hal dari generasi milenial ini ngasih gambaran yang lebih jelas kalau milenial ingin dipandang secara manusiawi atau sebagai pribadi seutuhnya di tempat kerja. Milenial bukan mengharapkan gaji saja, tapi ingin mendapat kasih sayang dan dukungan kesehatan dari perusahaan tempat mereka bekerja.

  3. 3. Milenial punya aplikasi kesehatan, mulai dari pengecekan hingga perawatan

    illustrasi seorang wanita menggunakan aplikasi kesehatan
    illustrasi seorang wanita menggunakan aplikasi kesehatan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Sebagian besar milenial pasti masih ingat dengan masa-masa sebelum era digital. Meskipun begitu, milenial adalah generasi yang merasakan langsung perkembangan teknologi dari analog ke digital. Oleh karena itu, tidak terlalu mengejutkan jika milenial memelopori penggunaan aplikasi, khususnya di bidang kesehatan.

    Menurut laporan PYMNTS yang disponsori oleh CareCredit, 66,1 persen milenial transisi dan 69,4 persen milenial memanfaatkan perangkat pemantau kesehatan, termasuk teknologi wearable. Milenial terbilang suka memantau dan melacak konsumsi kalori, kualitas tidur, dan banyak lagi lewat aplikasi. Nah, banyak dari mereka melakukan hal tersebut sejak masa kuliah.

    Nah, perilaku milenial ini rupanya bikin penasaran generasi lain, yang akhirnya ditiru juga. Faktanya, temuan dari studi tahun 2026 yang dirilis oleh Reach3 Insights mencatat bahwa 88 persen individu yang disurvei ingin meningkatkan penggunaan teknologi kesehatan mereka. Selain itu, dokter juga menyetujui tentang aplikasi kesehatan, selama digunakan bersamaan dengan kunjungan ke penyedia layanan kesehatan.

  4. 4. Milenial lebih mengutamakan penelitian berdasarkan bukti dan ahli ketimbang ikut-ikutan tren

    ilustrasi mengecek informasi di internet
    ilustrasi mengecek informasi di internet (pixabay.com/Andrea Piacquadio)

    Generasi baby boomer biasanya suka ngasih saran tentang kesehatan ke generasi milenial. Tapi jangan harap saran itu langsung dilakukan, biasanya milenial akan mengkrosceknya terlebih dulu lewat internet. Nah, mungkin kamu salah satu milenial yang sering mencari informasi dari internet, kan?

    Mengkroscek informasi ini mendorong generasi milenial untuk mencari penelitian berbasis bukti atau sains, terutama tentang kesehatan. Generasi milenial juga menghindari produk dan praktik yang biasanya tidak membuahkan hasil atau bahkan tidak baik untuk tubuh. Milenial hanya menerima kebenaran yang kuantitatif.

  5. 5. Milenial lebih suka pengobatan alternatif, seperti holistik dan homeopati

    ilustrasi pengobatan alternatif
    ilustrasi pengobatan alternatif (pexels.com/Nothing Ahead)

    Dunia pengobatan alternatif dan komplementer (saling melengkapi) menarik bagi generasi milenial baik secara finansial maupun praktis. Bahkan, dokter yang berpartisipasi dalam jajak pendapat tahun 2016 dari Sermo sepakat bahwa 45 persen pasien milenial mereka cenderung ragu untuk menerima rekomendasi pengobatan konvensional. Para dokter ini juga mengakui bahwa mayoritas milenial suka bertanya tentang pengobatan alternatif yang lebih murah sebagai pilihan kedua.

    Dokter klinis akademis, Dr. Brad Finer, menjelaskan kenapa generasi milenial sangat tertarik pada pengobatan alternatif dalam sebuah artikel dari Northwestern Health Sciences University. "Generasi muda ini berinvestasi dalam pencegahan penyakit daripada menunggu sampai mereka sakit untuk mencari pengobatan."

    Itu artinya, generasi milenial lebih baik mencegah penyakit lewat solusi holistik, integratif, atau alternatif yang telah mereka teliti secara mendalam, seperti perawatan kiropraktik. Kebiasaan ini cukup baik, mengingat tinjauan literatur yang ditulis oleh Eman M. Mortada, berjudul "Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine in Current Medical Practice" (2024) di Cureus memuji adanya kesuksesan terkait pengobatan komplementer dan alternatif.

    Tren kesehatan memang sedang meningkat di kalangan anak muda, baik generasi Z maupun milenial. Kesadaran akan gaya hidup sehat bukan lagi keinginan, tapi kebutuhan dan hak bagi setiap individu. Nah, kalau kamu sendiri gimana, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More