Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Batuk 2 Minggu Tak Sembuh? Waspada TBC

3 min read
Batuk 2 Minggu Tak Sembuh? Waspada TBC
ilustrasi anak batuk lebih dari dua minggu (magnific.com/stockking)
  • Batuk selama dua minggu atau lebih perlu diperiksa untuk mencari penyebabnya, termasuk kemungkinan TBC. Durasi batuk saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis.

  • TBC dapat disertai dahak berdarah, demam berulang, keringat malam, berat badan turun, nafsu makan berkurang, atau badan lemas. Gejala bisa muncul perlahan dan tidak selalu lengkap.

  • Pemeriksaan dapat mencakup tes cepat molekuler (TCM) dari dahak dan foto toraks. Diagnosis memerlukan pemeriksaan dokter secara menyeluruh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Batuk yang awalnya terasa ringan bisa terus mengganggu hingga minggu kedua. Pada titik ini, jangan hanya menunggu batuk reda, ya. Batuk selama dua minggu atau lebih perlu diperiksa, termasuk untuk menilai kemungkinan tuberkulosis (TBC).

Pemeriksaan penting dilakukan karena TBC masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Dalam Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen dari kasus TBC di dunia pada 2024.

  1. Batuk dua minggu adalah tanda untuk memeriksakan diri ke dokter

    TBC disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru. Kementerian Kesehatan mencantumkan batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih sebagai salah satu gejala TBC paru yang perlu diwaspadai.

    Gejala lain dapat berupa:

    • Batuk berdahak atau berdarah.
    • Demam yang lama atau berulang.
    • Keringat malam tanpa penyebab jelas.
    • Berat badan turun.
    • Nafsu makan berkurang.
    • Nyeri dada, dan rasa lelah.

    Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. TBC juga dapat berkembang perlahan, sehingga pada awalnya keluhan bisa tampak ringan.

    Karena itu, jangan menunggu sampai semua gejala muncul. Orang yang tinggal serumah atau sering kontak erat dengan pasien TBC, serta orang dengan HIV, diabetes, daya tahan tubuh lemah, atau malnutrisi, sebaiknya lebih sigap menemui dokter ketika mengalami keluhan.

    Faktor risiko tidak berarti seseorang pasti terkena TBC, tetapi akan membantu dokter menentukan pemeriksaan yang diperlukan.

  2. Bagaimana dokter memastikan penyebabnya?

    Ilustrasi pasien berkonsultasi dengan dokter di ruang pemeriksaan mengenai kondisi kesehatan dan pilihan perawatan.
    ilustrasi seorang pasien sedang berkonsultasi dengan dokter (magnific.com/pressfoto)

    Dokter atau petugas kesehatan akan menanyakan lama batuk, gejala lain, riwayat kontak, kondisi kesehatan, dan obat yang sedang digunakan.

    Pemeriksaan TBC paru dapat mencakup tes cepat molekuler (TCM) dari dahak. Tes ini dapat mendeteksi bakteri TBC dan membantu mengenali kemungkinan resistansi terhadap obat tertentu.

    Foto toraks dan pemeriksaan dahak lain dapat digunakan sesuai kondisi pasien.

    Foto toraks membantu menilai kondisi paru, tetapi hasilnya perlu ditafsirkan bersama informasi klinis dan pemeriksaan lain.

    Sebuah tinjauan klinis dalam The Lancet pada 2025 juga menekankan bahwa tes molekuler dari dahak dapat membantu diagnosis dengan cepat, sementara pencitraan dada dapat mendukung penilaian. Diagnosis bukan ditentukan dari lamanya batuk saja.

    Jika batuk disertai darah atau sesak napas, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu hingga batuk mencapai dua minggu jika gejala terasa berat, ada riwayat kontak erat dengan pasien TBC, atau kondisi kesehatan yang meningkatkan risiko.

  3. Sambil menunggu pemeriksaan

    TBC paru yang menular dapat menyebar melalui udara ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Sambil menunggu pemeriksaan, gunakan masker, tutup mulut saat batuk, dan pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik. Langkah ini membantu mengurangi paparan bagi orang di sekitar.

    Jika hasilnya positif TBC, jangan khawatir, karena penyakit ini dapat diobati. Obat perlu diminum sesuai petunjuk dan sampai selesai. Jangan menghentikannya hanya karena batuk atau keluhan lain mulai membaik. Diagnosis dan pengobatan yang tepat membantu pemulihan sekaligus mengurangi risiko penularan.

    Referensi

    World Health Organization, “1.1 TB Incidence,” Global Tuberculosis Report 2025, diakses 20 Oktober 2026.

    Tim Promosi Kesehatan, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, “Bahaya Tuberkulosis Mengenal Mencegah Menggulangi,” diakses 20 Oktober 2026.

    Anete Trajman, Jonathon R. Campbell, Tenzin Kunor, Rovina Ruslami, Farhana Amanullah, Marcel A. Behr, dan Dick Menzies, “Tuberculosis,” The Lancet 405, no. 10481 (2025): 850–66, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)02479-6.

    World Health Organization, “Tuberculosis,” Questions and Answers, diakses 20 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More