Awal Oktober, empat warga di Semanu, Gunungkidul, dilaporkan positif antraks setelah terpapar daging kambing yang sakit dan mati mendadak. Mereka kemudian dilaporkan pulih. Kementerian Pertanian juga mengonfirmasi penanganan kejadian antraks di wilayah Dadapayu, Semanu, termasuk pemeriksaan ternak, disinfeksi, dan vaksinasi.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa daging dari hewan yang tampak masih bisa diolah belum tentu aman. Terlebih jika hewan itu sakit atau mati mendadak dan penyebabnya belum diketahui. Memasaknya sampai matang pun bukan jaminan untuk membuat daging tersebut aman dikonsumsi.
Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Dr. drh. Denny Widaya Lukman, mengatakan daging dari hewan sakit atau mati mendadak tidak boleh dianggap aman.
“Daging dari hewan yang sakit dan mati mendadak tidak boleh dianggap aman untuk dikonsumsi, sekalipun telah dimasak,” katanya, dilansir laman resmi IPB University.
Ia menegaskan, daging dan jeroan hewan yang terinfeksi antraks tidak boleh dikonsumsi.
