Ketika kabut asap karhutla menyelimuti lingkungan, sebagian anak mulai mengalami batuk, tenggorokan perih, atau napas berbunyi. Ini terjadi karena asap dapat mengiritasi saluran pernapasan. Selain itu, partikel halus dalam asap juga dapat masuk hingga ke bagian paru yang lebih dalam dan mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi.
Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Paru-paru dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Di saat yang sama, anak bernapas lebih cepat daripada orang dewasa, sehingga mereka relatif menghirup lebih banyak udara dan partikel polusi dibandingkan ukuran tubuhnya.