ilustrasi ibu hamil (magnific.com/DC Studio)
Infeksi campak selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran, terutama jika terjadi pada trimester pertama atau trimester kedua.
Demam tinggi dan respons peradangan yang muncul akibat infeksi diduga menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu perkembangan janin pada masa awal kehamilan.
Selain keguguran, terdapat peningkatan risiko bayi lahir mati (stillbirth) pada ibu yang mengalami campak saat hamil.
Meski tidak semua kasus berakhir demikian, tetapi risiko ini tetap menjadi alasan mengapa campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan selama kehamilan.
Campak dapat meningkatkan kemungkinan persalinan prematur, yaitu ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan, masalah makan, infeksi, hingga hambatan tumbuh kembang pada masa berikutnya.
Ibu yang mengalami campak saat hamil juga lebih berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah atau ukuran tubuh yang lebih kecil dibanding usia kehamilannya. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan bayi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Meskipun campak tidak menyebabkan sindrom cacat bawaan khas seperti rubella, tetapi virus tetap dapat menular dari ibu ke janin atau bayi yang baru lahir. Risiko ini terutama meningkat apabila ibu terinfeksi menjelang waktu persalinan. Bayi yang lahir dalam kondisi tersebut dapat mengalami campak sejak lahir atau beberapa hari setelah dilahirkan.
Bayi baru lahir yang terinfeksi campak memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia, ensefalitis (radang otak), hingga kematian. Karena sistem kekebalan tubuh bayi belum berkembang sempurna, mereka belum mampu melawan infeksi seefektif anak yang lebih besar maupun orang dewasa.