Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gejala Flu Bisa Berbeda pada Setiap Orang?

Kenapa Gejala Flu Bisa Berbeda pada Setiap Orang?
ilustrasi sakit flu (unsplash.com/Curated Lifestyle)
Intinya Sih
  • Perbedaan gejala flu dipengaruhi oleh kekuatan sistem imun, usia, dan kondisi kesehatan tiap individu yang menentukan seberapa berat tubuh merespons infeksi.
  • Riwayat vaksinasi atau paparan virus sebelumnya membantu tubuh mengenali virus lebih cepat sehingga gejala bisa lebih ringan dan durasinya lebih singkat.
  • Gaya hidup, stres, serta kualitas tidur turut memengaruhi daya tahan tubuh dan kecepatan pemulihan saat terinfeksi flu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa hanya mengalami pilek ringan saat flu, sementara orang lain yang tertular virus serupa harus beristirahat total karena demam tinggi dan badan sangat pegal? Hal ini cukup umum terjadi. Meskipun sama-sama terkena influenza, tetapi setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda, baik dari jenis maupun tingkat keparahannya.

Perbedaan itu bukan hanya dipengaruhi oleh virus flu. Kondisi sistem kekebalan tubuh, usia, riwayat kesehatan, hingga strain virus yang menginfeksi juga dapat menentukan bagaimana tubuh merespons penyakit. Yuk, kita bahas lebih dalam kenapa gejala flu bisa berbeda pada setiap orang!

1. Respons sistem kekebalan tubuh setiap orang berbeda

Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi gejala flu adalah sistem kekebalan tubuh. Menariknya, gejala flu tidak selalu muncul hanya karena virus secara langsung merusak tubuh. Banyak gejala justru merupakan hasil dari usaha sistem imun dalam melawan infeksi.

Demam, misalnya, merupakan salah satu respons pertahanan tubuh. Ketika mendeteksi adanya virus, sistem kekebalan tubuh dapat memicu peningkatan suhu untuk membantu menghambat perkembangbiakan virus.

Itulah sebabnya, seseorang dengan respons imun yang lebih kuat atau lebih aktif mungkin mengalami demam dan peradangan yang lebih intens. Akibatnya, gejala yang dirasakan bisa lebih berat, meskipun jumlah virus di dalam tubuhnya belum tentu lebih banyak dibanding orang lain. Sebaliknya, orang dengan respons imun yang berbeda mungkin cuma mengalami gejala ringan seperti hidung tersumbat, pilek, atau rasa lelah.

2. Riwayat infeksi dan vaksinasi ikut berpengaruh

Tubuh juga bisa mengingat virus yang pernah ditemuinya. Jika seseorang sebelumnya pernah terinfeksi oleh strain influenza yang mirip atau telah mendapatkan vaksinasi flu, sistem kekebalan tubuh mungkin dapat mengenali virus dengan lebih cepat.

Respons yang lebih cepat dan terarah ini dapat membantu mengurangi tingkat keparahan serta durasi gejala. Sebaliknya, ketika seseorang terpapar strain virus yang belum pernah dikenali tubuh sebelumnya, sistem imun mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons. Perbedaan inilah yang dapat membuat dua orang yang terpapar virus flu yang sama mengalami kondisi yang berbeda.

3. Usia dapat mengubah cara flu muncul

Ilustrasi seseorang sedang flu.
ilustrasi seseorang sedang flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Usia juga berperan dalam menentukan gejala flu. Anak-anak, misalnya, terkadang mengalami gejala pencernaan seperti muntah dan diare selain gejala pernapasan. Keluhan seperti ini relatif lebih jarang ditemukan pada orang dewasa.

Pada orang lanjut usia, gejala flu juga bisa terlihat berbeda. Mereka tidak selalu mengalami demam tinggi seperti yang umum terjadi pada orang dewasa yang lebih muda. Sebaliknya, tanda-tandanya bisa berupa kebingungan, perubahan perilaku, penurunan nafsu makan, atau tubuh yang tiba-tiba menjadi sangat lemas. Sistem kekebalan tubuh yang melemah seiring bertambahnya usia juga membuat lansia lebih rentan mengalami komplikasi, seperti pneumonia.

4. Kondisi kesehatan sebelumnya bisa memperparah gejala

Orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu mungkin mengalami flu yang lebih berat. Penyakit seperti asma, diabetes, penyakit jantung, atau gangguan yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Sebagai contoh, infeksi flu dapat memperburuk gejala asma dan menyebabkan sesak atau mengi. Pada orang dengan diabetes, infeksi juga dapat membuat kadar gula darah lebih sulit dikendalikan.

Sementara itu, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah mungkin tidak selalu mengalami demam tinggi. Namun, infeksi dapat berlangsung lebih lama dan berisiko menyebabkan komplikasi serius.

5. Jenis virus flu dan faktor genetik juga berpengaruh

Virus influenza memiliki berbagai strain dengan karakteristik yang berbeda. Beberapa jenis virus mungkin lebih sering menimbulkan demam dan nyeri tubuh, sedangkan jenis lainnya dapat lebih dominan menyebabkan gejala pada saluran pernapasan.

Selain itu, faktor genetik setiap orang juga dapat memengaruhi bagaimana virus berinteraksi dengan tubuh. Perbedaan biologis pada saluran pernapasan dapat membuat virus lebih mudah menginfeksi atau berkembang biak pada sebagian orang dibandingkan yang lain. Karena itu, dua orang yang berada di lingkungan yang sama dan terpapar strain virus yang sama belum tentu mengalami penyakit dengan tingkat keparahan yang serupa.

6. Stres, kurang tidur, dan gaya hidup bisa memengaruhi pemulihan

Ilustrasi seseorang sedang flu.
ilustrasi seseorang sedang flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kondisi tubuh sebelum dan selama sakit juga ikut menentukan seberapa berat gejala flu yang dirasakan. Kurang tidur, stres berkepanjangan, pola makan yang kurang baik, dan dehidrasi dapat memengaruhi kinerja sistem kekebalan tubuh.

Ketika tubuh kurang mendapatkan waktu untuk beristirahat, proses pemulihan dari infeksi bisa menjadi lebih lambat. Sebaliknya, tidur yang cukup, asupan nutrisi yang baik, dan konsumsi cairan yang memadai dapat membantu tubuh menghadapi infeksi dengan lebih baik.

Perbedaan gejala flu terjadi karena tubuh setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Sistem imun, usia, riwayat paparan virus, vaksinasi, kondisi kesehatan, faktor genetik, serta gaya hidup dapat memengaruhi bagaimana infeksi influenza berkembang. Itulah sebabnya, flu yang sama bisa terasa seperti pilek ringan bagi satu orang, tetapi menyebabkan demam tinggi dan nyeri tubuh yang berat bagi orang lain.

Referensi

CDC. Diakses pada Juli 2026. "Clinical Signs and Symptoms of Influenza."

CDC. Diakses pada Juli 2026. "Signs and Symptoms of Flu."

Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Flu (Influenza)."

Fred Hutch. Diakses pada Juli 2026. "Why Does Flu Make Some People Sick, but Not Others?"

Mayo Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Influenza (flu) Symptoms and Causes."

Medical News Today. Diakses pada Juli 2026. "Flu: Symptoms, Treatment, Contagiousness."

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More