"Stress effects on the body." American Psychological Association. Diakses Februari 2026.
Bruce S. McEwen, “Protective and Damaging Effects of Stress Mediators,” New England Journal of Medicine 338, no. 3 (January 15, 1998): 171–79, https://doi.org/10.1056/nejm199801153380307.
Adrian Liston and Daniel H. D. Gray, “Homeostatic Control of Regulatory T Cell Diversity,” Nature Reviews. Immunology 14, no. 3 (January 31, 2014): 154–65, https://doi.org/10.1038/nri3605.
"Relationship quality impacts heart health, study shows." News Medical Life Sciences. Diakses Februari 2026.
Karen Bouchard et al., “Better Together: Relationship Quality and Mental Health Among Cardiac Patients and Spouses,” Family Process 62, no. 4 (November 20, 2022): 1624–39, https://doi.org/10.1111/famp.12836.
Christian Templin et al., “Clinical Features and Outcomes of Takotsubo (Stress) Cardiomyopathy,” New England Journal of Medicine 373, no. 10 (September 2, 2015): 929–38, https://doi.org/10.1056/nejmoa1406761.
Andrew Steptoe and Mika Kivimäki, “Stress and Cardiovascular Disease,” Nature Reviews Cardiology 9, no. 6 (April 3, 2012): 360–70, https://doi.org/10.1038/nrcardio.2012.45.
Ji Hyun Lee, William J. Chopik, and Lawrence B. Schiamberg, “Longitudinal Associations Between Marital Quality and Sleep Quality in Older Adulthood,” Journal of Behavioral Medicine 40, no. 5 (April 11, 2017): 821–31, https://doi.org/10.1007/s10865-017-9850-2.
"Stress and Heart Health." American Heart Association. Diakses Februari 2026.
"About Sleep and Your Heart Health." CDC. Diakses Februari 2026.
Menjalani Toxic Relationship? Awas, Ini Dampaknya pada Tubuh

- Stres kronis akibat hubungan toksik dapat mengaktifkan respons biologis yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik.
- Gaslighting dan konflik berkepanjangan berkaitan dengan gangguan tidur, tekanan darah lebih tinggi, dan inflamasi sistemik.
- Dampaknya bukan hanya psikologis. Tubuh benar-benar “mencatat” stres dalam bentuk perubahan hormon dan imunologis.
Hubungan seharusnya menjadi ruang aman. Tempat pulang ketika hari terasa berat, bukannya menambah tekanan. Namun, tidak semua hubungan berjalan demikian. Ada hubungan yang perlahan menggerus rasa percaya diri, membuat seseorang meragukan dirinya sendiri, atau hidup terus-terusan dalam kondisi waspada. Istilah seperti gaslighting kini makin akrab, tetapi dampaknya sering dipersempit hanya pada kesehatan mental.
Padahal, tubuh tidak pernah benar-benar memisahkan emosi dan fisik. Ketika konflik, manipulasi, atau kekerasan emosional terjadi secara berulang, sistem stres di otak aktif lebih lama dari yang seharusnya. Detak jantung meningkat, tekanan darah naik, hormon stres dilepaskan. Jika situasi ini menjadi pola, tubuh dipaksa berada dalam mode “siaga” berkepanjangan.
Dalam dunia medis, itu dikenal sebagai stres kronis, kondisi yang dalam jangka panjang berkaitan dengan berbagai penyakit serius. Hubungan toksik bisa menjadi faktor risiko biologis yang nyata.
Table of Content
1. Bagaimana gaslighting mengaktifkan respons stres
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, atau kewarasannya sendiri. Secara klinis, pengalaman ini dapat memicu kecemasan kronis dan rasa tidak aman yang persisten. Stres kronis terjadi ketika respons “fight-or-flight” terus aktif tanpa periode pemulihan yang cukup.
Secara biologis, stres mengaktifkan sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA axis), yang meningkatkan pelepasan kortisol. Dalam jangka pendek, kortisol membantu tubuh bertahan. Namun, paparan berkepanjangan dapat mengganggu regulasi gula darah, meningkatkan tekanan darah, dan memengaruhi fungsi imun.
Penelitian menjelaskan bahwa stres psikologis kronis dapat memicu inflamasi sistemik tingkat rendah melalui perubahan regulasi imun. Inflamasi kronis inilah yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga gangguan autoimun.
2. Konflik berkepanjangan dan risiko penyakit jantung

Hubungan yang penuh konflik bukan hanya menguras emosi, tetapi juga berdampak pada sistem kardiovaskular. Sebuah studi menemukan bahwa kualitas hubungan pernikahan yang buruk berkaitan dengan hasil kesehatan jantung yang lebih buruk pada pasien penyakit jantung koroner.
Konflik interpersonal yang intens juga dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah sementara. Jika terjadi berulang, kondisi ini dapat berkontribusi pada hipertensi kronis. Stres emosional yang berkepanjangan dapat menjadi faktor risiko penyakit jantung melalui mekanisme tekanan darah tinggi dan inflamasi.
Fenomena broken heart syndrome atau takotsubo cardiomyopathy menunjukkan bahwa stres emosional akut bahkan dapat memicu gangguan fungsi jantung yang menyerupai serangan jantung. Meski jarang, tetapi kondisi ini menjadi bukti bahwa jantung merespons tekanan emosional secara nyata.
3. Gangguan tidur diam-diam bisa menyebabkan efek domino
Hubungan toksik sering kali membuat seseorang sulit tidur. Pikiran berputar, kecemasan meningkat, tubuh sulit rileks. Padahal, tidur adalah fase penting untuk pemulihan hormon dan sistem imun.
Kurang tidur kronis berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes. Penelitian juga menunjukkan bahwa stres interpersonal berhubungan dengan kualitas tidur yang lebih buruk dan peningkatan inflamasi.
Ketika tidur terganggu, kadar kortisol bisa tetap tinggi pada malam hari. Ini menciptakan lingkaran setan: stres memicu insomnia, insomnia memperburuk regulasi stres. Dalam jangka panjang, pola ini dapat mempercepat risiko gangguan metabolik.
4. Stres kronis dan risiko metabolik

Paparan stres berkepanjangan dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, yakni kumpulan kondisi seperti obesitas sentral, hipertensi, dan resistansi insulin.
Sebuah tinjauan ilmiah menyoroti peran stres psikososial sebagai faktor yang berkontribusi pada penyakit kardiometabolik melalui jalur neuroendokrin dan inflamasi. Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan nafsu makan, terutama terhadap makanan tinggi gula dan lemak. Kombinasi perubahan hormonal dan pola makan emosional ini memperbesar risiko kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme.
Dengan kata lain, tubuh menyimpan jejak stres dalam bentuk perubahan fisiologis yang terukur.
Hubungan toksik bukan sekadar pengalaman emosional yang menyakitkan. Beberapa bukti menunjukkan bahwa stres kronis akibat konflik, manipulasi, atau kekerasan emosional dapat memengaruhi tekanan darah, kualitas tidur, sistem imun, hingga metabolisme. Tubuh dan pikiran bekerja sebagai satu kesatuan.
Mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat adalah langkah awal untuk melindungi kesehatan secara menyeluruh. Mencari dukungan profesional, membangun jaringan sosial yang suportif, dan menetapkan batasan yang jelas bukan hanya keputusan emosional, tetapi juga keputusan kesehatan.
Referensi


















