“Demensia bukan sekadar masalah lupa dan bukan bagian normal dari penuaan,” ujar Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, PhD, neurolog dan Rektor Unika Atma Jaya, dalam sebuah rilis.
Diagnosis Dini Demensia: Mengapa Sebaiknya Tidak Menunggu?

Demensia bukan bagian normal dari penuaan dan tidak selalu diawali oleh pikun.
Diagnosis lebih awal dapat membantu mencari penyebab, mengendalikan faktor risiko, serta menyiapkan dukungan bagi keluarga.
Hingga 45 persen kasus demensia secara global berpotensi ditunda atau dicegah dengan menangani faktor risiko tertentu.
Perubahan daya ingat sering dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, kesulitan menjalankan kegiatan yang sebelumnya rutin, sering tersesat di tempat yang dikenal, atau perubahan kemampuan berkomunikasi dapat menjadi tanda yang perlu dibicarakan dengan dokter.
Lupa sesekali tidak otomatis berarti demensia. Namun, jika itu berulang, makin berat, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan menunda pemeriksaan. Demensia bukan pikun dan bukan bagian normal dari penuaan.
Pesan ini menjadi fokus kampanye World Alzheimer's Day atau Bulan Alzheimer Sedunia 2026 yang digelar Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama Alzheimer’s Disease International (ADI). Kampanye bertajuk “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters” mengajak masyarakat mencari informasi dan berbicara dengan tenaga kesehatan ketika muncul kekhawatiran tentang daya ingat atau kemampuan berpikir.
Menurut laporan WHO, jumlah orang yang hidup dengan demensia diproyeksikan mencapai 78 juta pada 2030 dan 139 juta pada 2050. Namun, banyak orang belum memperoleh diagnosis formal.
ADI memperkirakan sekitar 75 persen orang dengan demensia di dunia belum terdiagnosis. Di sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah, angkanya dapat mencapai 90 persen.
Table of Content
Mengapa diagnosis dini penting?
Pemeriksaan membantu dokter menilai apakah perubahan kognitif disebabkan oleh penyakit Alzheimer, jenis demensia lain, atau masalah kesehatan yang masih dapat ditangani. Depresi, kekurangan vitamin, efek obat tertentu, dan penyakit akut dapat menimbulkan keluhan yang menyerupai demensia.
Menurut Prof. Yuda, perubahan biologis pada otak dapat berlangsung bertahun-tahun sebelum gejala tampak jelas. Pemeriksaan lebih awal memberi kesempatan untuk menilai kesehatan otak, mengendalikan tekanan darah dan diabetes, serta mempertahankan fungsi sehari-hari selama mungkin.
Penelitian memperkirakan hingga 45 persen kasus demensia dapat ditunda atau dicegah pada tingkat populasi dengan menangani 14 faktor risiko, termasuk tekanan darah tinggi, gangguan pendengaran, kurang aktivitas fisik, merokok, diabetes, kolesterol LDL tinggi, depresi, dan isolasi sosial.
Diagnosis yang tepat waktu juga membantu orang dengan demensia dan keluarganya merencanakan perawatan, mengatur dukungan sehari-hari, dan mengambil keputusan ketika orang tersebut masih mampu menyampaikan keinginannya.
“Diagnosis dini bukanlah vonis, melainkan pintu masuk untuk bertindak,” kata Imelda Theresia, Plt. Direktur Eksekutif ALZI.
Pada penyakit Alzheimer tahap awal, sebagian terapi yang menargetkan proses penyakit telah dikembangkan dan diteliti. Namun, terapi tersebut tidak berlaku untuk semua jenis demensia, bukan obat penyembuh, dan memerlukan pemeriksaan serta seleksi medis yang ketat.
Studi dalam New England Journal of Medicine, misalnya, meneliti lecanemab pada orang dengan gangguan kognitif ringan atau demensia Alzheimer tahap awal.
Tanda-tanda yang perlu diperiksa

ilustrasi demensia Alzheimer (IDN Times/Aditya Pratama) Menurut ADI, beberapa tanda peringatan meliputi:
- Kehilangan ingatan yang mengganggu aktivitas harian.
- Kesulitan melakukan tugas yang sebelumnya sudah terbiasa.
- Kesulitan menemukan kata atau mengikuti percakapan.
- Bingung terhadap waktu atau tempat.
- Perubahan penilaian, suasana hati, perilaku, atau minat bersosialisasi.
Tidak semua orang mengalami tanda yang sama. Pemeriksaan biasanya mencakup riwayat kesehatan, perubahan fungsi sehari-hari, obat yang dikonsumsi, penilaian kemampuan berpikir, serta pemeriksaan laboratorium atau pencitraan bila diperlukan.
Tidak ada satu tes tunggal yang dapat memastikan semua jenis demensia.
Jika perubahan muncul, keluarga dapat mencatat kapan gejala mulai terlihat, contoh aktivitas yang terdampak, serta obat dan penyakit yang dimiliki. Catatan tersebut dapat membantu dokter memperoleh gambaran yang lebih jelas.
Diagnosis lebih awal dapat membuka akses pada informasi, perawatan, rehabilitasi, dukungan caregiver, dan perencanaan yang lebih sesuai.
Mencari bantuan bukan berarti menyerah pada penyakit, melainkan memberi kesempatan bagi orang dengan demensia dan keluarganya untuk menentukan langkah bersama.
Referensi
World Health Organization, "Global Status Report on the Public Health Response to Dementia," diakses September 2026.
Alzheimer’s Disease International and McGill University, "World Alzheimer Report 2021: Journey through the Diagnosis of Dementia," diakses September 2026.
Alzheimer’s Disease International, “Warning Signs of Dementia Infographic,” diakses September 2026.
National Institute on Aging, “What Is Dementia? Symptoms, Types, and Diagnosis,” diakses September 2026.
Gill Livingston et al., “Dementia Prevention, Intervention, and Care: 2024 Report of the Lancet Standing Commission,” The Lancet 404, no. 10452 (2024): 572–628, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01296-0.
Christopher H. van Dyck et al., “Lecanemab in Early Alzheimer’s Disease,” New England Journal of Medicine 388, no. 1 (2023): 9–21, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2212948.
Alzheimer’s Disease International, Sara Evans-Lacko et al., "World Alzheimer Report 2024: Global Changes in Attitudes to Dementia", diakses September 2026.
Apakah lupa sesekali berarti demensia? Tidak. Kekhawatiran muncul jika lupa berulang, memburuk, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Apakah demensia sama dengan penuaan normal? Tidak. Penuaan dapat menyebabkan perubahan ringan, tetapi demensia mengganggu kemampuan berpikir dan menjalani aktivitas harian.
Apakah diagnosis dini berarti seseorang pasti mengalami Alzheimer? Tidak. Demensia memiliki banyak penyebab dan Alzheimer hanya salah satunya.
Apakah tes darah saja cukup untuk mendiagnosis Alzheimer? Tidak. Biomarker darah dapat membantu dalam kondisi tertentu, tetapi harus ditafsirkan bersama gejala, pemeriksaan kognitif, dan penilaian dokter.
Ke mana harus berkonsultasi? Mulailah dari dokter umum, neurolog, atau geriatri. Sertakan anggota keluarga yang mengetahui perubahan perilaku dan aktivitas sehari-hari.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Anxiety? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250920/arctic-qu-dtokmihuuqi-unsplash_8b1ef92d-ab4e-46ef-884b-123bdd4a932b.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)













