Margaret Gatz et al., “Incidence of Dementia and Mild Cognitive Impairment in Two Indigenous Bolivian Cohorts,” Alzheimer’s & Dementia 22, no. 9 (2026): e71750, https://doi.org/10.1002/alz.71750.
Margaret Gatz et al., “Prevalence of Dementia and Mild Cognitive Impairment in Indigenous Bolivian Forager-Horticulturalists,” Alzheimer’s & Dementia 19, no. 1 (2023): 44–55, https://doi.org/10.1002/alz.12626.
Andrei Irimia et al., “The Indigenous South American Tsimane Exhibit Relatively Modest Decrease in Brain Volume With Age Despite High Systemic Inflammation,” The Journals of Gerontology: Series A 76, no. 12 (2021): 2147–55, https://doi.org/10.1093/gerona/glab138.
Tingkat Demensia 2 Komunitas Terpencil di Amazon Ini Terendah di Dunia

- Studi pada 730 dewasa Tsimané dan Mosetén selama 4,7 tahun menemukan 22 kasus baru demensia; prevalensinya tetap di bawah 2 persen.
- Insidensi demensia menurut usia, terutama di bawah 80 tahun, serupa dengan studi AS dan Eropa, sehingga prevalensi rendah tidak otomatis menandakan risiko lebih kecil.
- Peserta dengan demensia berisiko meninggal lebih dari enam kali lipat; pola gangguan diduga lebih terkait pembuluh darah otak daripada biomarker Alzheimer.
Di sejumlah desa terpencil di Amazon Bolivia, aktivitas harian sangat bergantung pada kemampuan setiap orang. Menanam, berburu, menangkap ikan, mengumpulkan makanan, dan menyiapkan kebutuhan keluarga dilakukan bersama-sama. Ketika kemampuan berpikir seseorang mulai menurun, ini juga bisa berdampak pada kemampuan untuk tetap mandiri.
Kondisi inilah yang dipelajari peneliti pada masyarakat adat Tsimané dan Mosetén. Penelitian sebelumnya menemukan prevalensi demensia yang sangat rendah pada kedua komunitas tersebut, walaupun belum menjawab pertanyaan apakah lebih sedikit orang yang mengalami demensia, atau mereka tidak hidup lama setelah penyakit berkembang?
Studi terbaru mencoba menjawabnya.
Table of Content
Bedanya prevalensi dan insidensi
Demensia merupakan penurunan kemampuan berpikir—seperti mengingat, menilai situasi, atau memecahkan masalah—yang cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Peneliti menggunakan dua ukuran untuk memahami seberapa sering kondisi ini muncul.
Insidensi menghitung kasus baru dalam periode tertentu. Sementara itu, prevalensi menghitung jumlah orang yang sedang hidup dengan kondisi tersebut pada satu waktu. Prevalensi dipengaruhi oleh dua hal, yakni seberapa sering penyakit muncul dan berapa lama orang dapat hidup setelah diagnosis.
Artinya, prevalensi yang rendah tidak selalu menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang pernah mengalami penyakit tersebut.
Mengikuti 730 orang selama hampir lima tahun
Peneliti mengikuti 730 orang dewasa Tsimané dan Mosetén yang tidak mengalami demensia saat penelitian dimulai. Rata-rata usia peserta 67 tahun, dan sekitar setengahnya laki-laki.
Mereka menjalani pemeriksaan ulang sekitar 4,7 tahun kemudian.
Agar hasilnya lebih akurat, wawancara dan tes kognitif disesuaikan dengan bahasa, budaya, serta tingkat literasi setempat.
Selama masa pemantauan, ditemukan 22 kasus demensia baru. Secara keseluruhan, prevalensi demensia tetap rendah, yaitu kurang dari 2 persen. Namun, ketika angka kejadian dibandingkan berdasarkan usia, hasilnya serupa dengan beberapa penelitian di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, terutama pada kelompok usia di bawah 80 tahun.
Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu berarti masyarakat tersebut terlindungi dari demensia.
Risiko kematian setelah demensia lebih tinggi

ilustrasi demensia (IDN Times/NRF) Peserta yang mengalami demensia memiliki risiko meninggal lebih dari enam kali lebih tinggi dibandingkan peserta tanpa demensia. Dibandingkan dengan data dari AS, mereka juga tampak memiliki harapan hidup yang lebih pendek setelah diagnosis ditegakkan.
Peneliti menduga beberapa faktor dapat berperan. Demensia dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk membantu memperoleh makanan, sehingga berisiko memengaruhi status gizi dan meningkatkan beban keluarga.
Selain itu, keterbatasan akses layanan kesehatan dapat membuat penyakit lain menjadi lebih sulit ditangani.
Meskipun belum membuktikan hubungan sebab-akibat, tetapi temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa jumlah orang yang hidup dengan demensia tetap rendah, meski kasus baru tidak selalu jauh lebih sedikit.
Polanya mungkin tidak sama dengan Alzheimer pada umumnya
Peneliti menemukan bahwa demensia pada kedua komunitas ini mungkin lebih sering berkaitan dengan gangguan pembuluh darah di otak daripada pola Alzheimer yang umum dikenal. Beberapa peserta lebih mengalami kesulitan dalam perhatian, penalaran, dan menjalankan aktivitas sehari-hari dibandingkan gangguan ingatan yang menonjol.
Analisis awal juga menunjukkan bahwa beberapa faktor, seperti penanda kerusakan sel saraf (NfL), kalsifikasi pada pembuluh darah besar, dan varian gen APOE ε4, berhubungan dengan demensia atau munculnya kasus baru. Sebaliknya, penanda yang sering dikaitkan dengan Alzheimer (amiloid dan tau terfosforilasi) tidak menunjukkan hubungan yang jelas.
Namun, temuan ini bukan berarti penyakit Alzheimer tidak ada pada masyarakat tersebut. Karena data biomarker hanya tersedia pada sebagian peserta, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami penyebab demensia dengan lebih pasti.
Gaya hidup memberi petunjuk
Penelitian sebelumnya menemukan bahwa prevalensi demensia pada masyarakat Tsimané hanya sekitar 1 persen. Kasus yang ditemukan juga sering disertai gangguan kemampuan visual-spasial, gejala mirip parkinsonisme, dan pengapuran pembuluh darah di otak.
Studi lain menunjukkan bahwa volume otak orang Tsimané menyusut lebih lambat seiring bertambahnya usia dibandingkan beberapa populasi di AS dan Eropa. Temuan ini sejalan dengan gaya hidup mereka yang aktif secara fisik dan memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang relatif rendah.
Namun, belum diketahui faktor mana yang paling berperan, apakah aktivitas fisik, pola makan, genetik, kesehatan pembuluh darah, paparan infeksi, atau kombinasi dari semuanya. Selain itu, hubungan antara aktivitas fisik dan risiko demensia tidak selalu mudah ditafsirkan, karena penurunan fungsi kognitif dapat membuat seseorang menjadi kurang aktif.
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa angka demensia perlu dilihat bersama faktor sosial, akses layanan kesehatan, pola kematian, dan metode diagnosis. Penelitian lanjutan diharapkan dapat menjelaskan peran berbagai faktor tersebut sekaligus memperluas pemahaman tentang demensia pada beragam populasi di dunia.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Anxiety? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250920/arctic-qu-dtokmihuuqi-unsplash_8b1ef92d-ab4e-46ef-884b-123bdd4a932b.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)













