Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Disfungsi Ereksi Bisa Jadi Tanda Penyakit Jantung?
ilustrasi pria yang mengalami disfungsi ereksi (pexels.com/cottonbro studio)
  • Disfungsi ereksi dan penyakit jantung dapat berhubungan karena sama-sama dipengaruhi kesehatan pembuluh darah.

  • Disfungsi ereksi, terutama yang muncul tanpa penyebab jelas, bisa menjadi penanda awal risiko penyakit kardiovaskular.

  • Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, gaya hidup, dan riwayat obat penting dilakukan sebelum hanya fokus pada obat kuat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di antara lelaki, disfungsi ereksi jarang dibicarakan, bahkan kadang disimpan sendirian. Secara medis, disfungsi ereksi adalah kondisi ketika seseorang sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk aktivitas seksual. Penyebabnya bisa banyak, seperti stres, kecemasan, kurang tidur, efek obat, gangguan hormon, diabetes, kebiasaan merokok, hingga masalah pembuluh darah.

Penyakit jantung bisa dikaitkan dengan disfungsi ereksi. Ereksi butuh aliran darah yang baik ke penis. Jantung dan pembuluh darah juga bekerja dengan prinsip yang sama, yaitu darah harus mengalir lancar. Ketika pembuluh darah mulai terganggu, penis bisa menjadi salah satu bagian tubuh yang lebih dulu menunjukkan tanda.

1. Kenapa disfungsi ereksi bisa berkaitan dengan jantung?

Disfungsi ereksi dan penyakit jantung berbagi banyak faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, dan usia. Semua faktor ini dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah atau endotel.

Ketika endotel tidak bekerja baik, pembuluh darah lebih sulit melebar. Aliran darah ke penis bisa berkurang, sehingga ereksi menjadi lebih sulit terjadi atau tidak bertahan lama. Proses yang sama juga dapat terjadi di pembuluh darah jantung dan berkontribusi pada aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding pembuluh darah.

Penjelasan sederhananya, pembuluh darah di penis lebih kecil daripada pembuluh darah koroner di jantung. Karena ukurannya lebih kecil, gangguan aliran darah bisa terasa lebih dulu sebagai disfungsi ereksi, sebelum seseorang merasakan gejala jantung seperti nyeri dada.

Namun, ini bukan berarti setiap disfungsi ereksi pasti tanda penyakit jantung. Ada faktor lain yang berperan dalam disfungsi ereksi, seperti faktor psikologis, hubungan pasangan, obat tertentu, alkohol, cedera, gangguan saraf, atau hormon.

2. Bukti ilmiahnya seperti apa?

ilustrasi disfungsi ereksi (pexels.com/Deon Black)

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa disfungsi ereksi berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Dalam metaanalisis yang melibatkan lebih dari 154 ribu orang, laki-laki dengan disfungsi ereksi memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, stroke, dan kematian dari semua penyebab dibandingkan laki-laki tanpa disfungsi ereksi.

Para ahli juga menyarankan agar laki-laki dengan disfungsi ereksi diberi tahu bahwa kondisi ini dapat menjadi penanda risiko penyakit kardiovaskular dan kondisi kesehatan lain yang perlu dievaluasi.

Sebuah konsensus menekankan bahwa disfungsi ereksi perlu dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit jantung, terutama jika muncul pada laki-laki yang tampak sehat, berusia lebih muda, atau belum pernah diperiksa faktor risiko jantungnya.

Disfungsi ereksi bisa menjadi kesempatan untuk memeriksa kesehatan lebih awal, sebelum masalah pembuluh darah berkembang lebih jauh.

3. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Kalau disfungsi ereksi terjadi sesekali, misalnya saat sedang merasa lelah, stres, atau kurang tidur, itu belum tentu tanda penyakit serius. Namun, jika ini terjadi berulang, berlangsung selama beberapa bulan, makin sering, atau muncul tanpa penyebab jelas, sebaiknya periksa ke dokter.

Dokter biasanya akan menilai tekanan darah, gula darah atau HbA1c, profil lipid, berat badan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kualitas tidur, obat yang sedang dikonsumsi, serta kemungkinan gangguan hormon seperti testosteron rendah jika ada indikasi.

Jangan langsung membeli obat kuat tanpa pemeriksaan. Obat disfungsi ereksi seperti sildenafil dan sejenisnya bisa membantu sebagian orang, tetapi tidak boleh digunakan sembarangan, terutama pada orang yang memakai obat nitrat untuk nyeri dada atau penyakit jantung. Kombinasi obat tersebut bisa menyebabkan tekanan darah turun berbahaya.

Di sisi lain, langkah yang baik untuk jantung biasanya juga baik untuk disfungsi ereksi, seperti berhenti merokok, bergerak rutin, mengelola berat badan, memperbaiki pola makan, membatasi alkohol, tidur cukup, dan mengontrol tekanan darah, gula darah, serta kolesterol.

Referensi

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Symptoms & Causes of Erectile Dysfunction.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic Staff. “Erectile Dysfunction: A Sign of Heart Disease?” Diakses Juni 2026.

Binghao Zhao et al., “Erectile Dysfunction Predicts Cardiovascular Events as an Independent Risk Factor: A Systematic Review and Meta-Analysis,” The Journal of Sexual Medicine 16, no. 7 (May 16, 2019): 1005–17, https://doi.org/10.1016/j.jsxm.2019.04.004.

Lima, Leonardo, Michael J. Blaha, Roger S. Blumenthal, and Raul Santos. “Erectile Dysfunction as an ASCVD Risk-Enhancing Factor: Highlights from the Princeton IV Consensus Guidelines.” American College of Cardiology, September 23, 2024.

Köhler, Tobias S., Robert A. Kloner, Raymond C. Rosen, et al. “The Princeton IV Consensus Recommendations for the Management of Erectile Dysfunction and Cardiovascular Disease.” Mayo Clinic Proceedings 99, no. 9 (2024): 1500–1525. https://doi.org/10.1016/j.mayocp.2024.06.002.

American Heart Association. “Sexual Activity and Heart Disease.” Diakses Juni 2026.

Burnett, Arthur L., Ajay Nehra, Rodney H. Breau, et al. “Erectile Dysfunction: AUA Guideline.” The Journal of Urology 200, no. 3 (2018): 633–641. https://doi.org/10.1016/j.juro.2018.05.004.

Editorial Team

Related Article