Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi Ungkap Kenapa Orang Percaya Teori Konspirasi Vaksin COVID-19

Studi Ungkap Kenapa Orang Percaya Teori Konspirasi Vaksin COVID-19
ilustrasi vaksin COVID-19 (pexels.com/Anna Tarazevich)
  • Studi 5 tahun di Jepang menemukan teori konspirasi vaksin COVID-19 tidak semuanya sama: ada yang berakar pada ketidakpercayaan terhadap institusi dan ada pula klaim ekstrem yang cuma dipercaya segelintir orang.

  • Kepercayaan konspirasi yang berkaitan dengan institusi terutama berhubungan dengan skeptisisme terhadap media arus utama yang sudah tinggi sejak awal dan makin meningkat selama pandemi.

  • Studi ini tidak membuktikan ketidakpercayaan terhadap media menyebabkan seseorang percaya teori konspirasi. Penggunaan media sosial juga tidak terbukti menjadi penyebab langsung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pandemi COVID-19 tidak hanya membawa virus baru, tetapi juga banjir informasi. Di antara informasi yang sahih, muncul klaim bahwa pemerintah atau perusahaan farmasi sengaja menyembunyikan informasi vaksin hingga narasi ekstrem seperti vaksin digunakan untuk memasukkan microchip ke tubuh.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dua jenis pemikiran tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai fenomena yang sama.

Studi dalam jurnal Scientific Reports yang terbit pada 3 Agustus 2026 menemukan bahwa bentuk teori konspirasi vaksin yang lebih umum justru berkaitan erat dengan ketidakpercayaan yang menetap terhadap institusi dan media arus utama, bukan semata-mata dengan kemunculan klaim ekstrem di media sosial.

  1. Tim peneliti mengikuti responden selama 5 tahun

    Hitoshi Yamamoto dan tim melakukan survei panel setiap tahun di Jepang dari 2020 hingga 2024. Pada awal penelitian terdapat 2.000 responden, sementara 600 orang masih berpartisipasi pada survei terakhir pada 2024. Responden direkrut melalui platform Yahoo! Crowdsourcing.

    Selama periode tersebut, para peneliti mengamati penggunaan media massa dan media sosial, tingkat skeptisisme terhadap media, serta persepsi responden mengenai kemampuan mereka memahami dan mengevaluasi media. Kepercayaan terhadap teori konspirasi vaksin kemudian dinilai pada gelombang survei terakhir.

    Analisis menghasilkan dua kelompok kepercayaan konspirasi yang berbeda.

    Pertama adalah institutional conspiracy beliefs. Ini mencakup kecurigaan bahwa pemerintah atau perusahaan farmasi sengaja menyembunyikan informasi merugikan tentang vaksin.

    Kedua adalah implausible conspiracy beliefs, berupa klaim yang secara ilmiah sangat tidak masuk akal, misalnya vaksin mengandung alat untuk melacak atau mengendalikan manusia. Menariknya, kepercayaan ekstrem kelompok kedua ternyata hanya dianut sebagian sangat kecil responden.

  2. Yang lebih menonjol adalah ketidakpercayaan pada media

    Pada kelompok pertama, pola yang terlihat cukup konsisten.

    Orang dengan skor kepercayaan konspirasi institusional lebih tinggi cenderung berusia lebih muda, lebih jarang menggunakan media massa, dan lebih skeptis terhadap media arus utama.

    Mereka yang sudah sangat skeptis sejak awal penelitian—serta mereka yang skeptisismenya meningkat selama 5 tahun—juga memperoleh skor lebih tinggi untuk jenis kepercayaan tersebut.

    Namun, ketika peneliti memperhitungkan skeptisisme terhadap media dan persepsi literasi media secara bersamaan, hubungan antara frekuensi penggunaan media massa dan kepercayaan konspirasi tidak lagi terlihat.

    Dengan kata lain, persoalannya tampaknya bukan semata-mata orang percaya teori konspirasi karena jarang membaca berita. Sikap terhadap kredibilitas sumber informasi tampak memberikan penjelasan yang lebih kuat.

    Para peneliti menilai pola tersebut dapat menunjukkan bahwa sebagian kepercayaan konspirasi berkaitan dengan ketidakpercayaan yang lebih luas dan relatif menetap terhadap institusi sosial dan informasi. Meski begitu, ini tetap merupakan interpretasi berdasarkan hubungan yang ditemukan dalam data.

  3. Apakah media sosial penyebabnya?

    Ilustrasi media sosial dengan ponsel yang menampilkan ikon aplikasi dan simbol percakapan di layar berwarna cerah.
    ilustrasi sosial media (unsplash.com/dlxmedia.hu)

    Para peneliti memang melihat beberapa petunjuk hubungan antara perubahan penggunaan media sosial dan kepercayaan konspirasi ekstrem. Namun, karena sangat sedikit responden yang benar-benar menyetujui klaim seperti microchip atau pengendalian pikiran, kemampuan analisis untuk menjelaskan kelompok tersebut terbatas.

    Para peneliti juga secara eksplisit menyatakan datanya tidak dapat menentukan mekanisme sebab-akibat yang jelas antara penggunaan media sosial dan kepercayaan konspirasi.

    Para peneliti memperingatkan bahwa unggahan yang sangat terlihat di platform digital belum tentu mencerminkan pandangan masyarakat secara keseluruhan.

  4. Mengapa kepercayaan semacam ini penting bagi kesehatan?

    Paparan terhadap misinformasi dapat memengaruhi keputusan kesehatan.

    Dalam uji acak yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour pada 2021, paparan misinformasi vaksin COVID-19 menurunkan proporsi orang yang mengatakan mereka “pasti” akan menerima vaksin sekitar 6,2 poin persentase di Inggris dan 6,4 poin persentase di Amerika Serikat, dibandingka paparan informasi faktual.

    Penelitian eksperimental yang lebih lama juga menunjukkan bahwa orang yang terpapar materi pendukung teori konspirasi antivaksin melaporkan niat vaksinasi lebih rendah. Persepsi bahwa vaksin berbahaya, rasa tidak berdaya, kekecewaan, dan ketidakpercayaan terhadap otoritas ikut menjelaskan hubungan tersebut.

    Data lintas 19 negara tahun 2025 juga menemukan kecenderungan berpikir konspiratif dan rendahnya kepercayaan kepada pemerintah menjadi prediktor penolakan vaksin di banyak—meski tidak semua—negara.

  5. Keterbatasan penelitian

    Studi terbaru ini memiliki beberapa keterbatasan. Responden berasal dari Jepang dan direkrut secara daring, sehingga hasilnya belum tentu sama pada masyarakat di negara lain.

    Dari 2.000 responden awal, hanya 600 yang tersisa pada 2024; kelompok akhir didominasi laki-laki. Para peneliti mencatat perempuan dan responden yang lebih muda lebih sering keluar dari penelitian selama masa tindak lanjut.

    Selain itu, desain longitudinal membantu melihat bagaimana sikap berubah dari waktu ke waktu, tetapi tetap tidak membuktikan bahwa skeptisisme media menyebabkan teori konspirasi vaksin.

    Faktor lain seperti kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan, identitas kelompok, norma sosial, dan kondisi politik juga dapat berperan.

    Dari temuan studi ini, menangani misinformasi vaksin tidak cukup hanya dengan membantah klaim paling ekstrem. Pada sebagian orang, masalah yang lebih mendasar mungkin berupa kepercayaan terhadap sumber yang menyampaikan informasi kesehatan.

    Karena itu, para peneliti menilai komunikasi kesehatan publik perlu membedakan antara ketidakpercayaan terhadap institusi yang lebih luas dan teori konspirasi ekstrem yang hanya dianut sebagian kecil orang.

    Referensi

    Hitoshi Yamamoto, Takahisa Suzuki, Yuki Ogawa, and Ryohei Umetani, “Longitudinal Predictors of Vaccine Conspiracy Beliefs: Findings from a Five-Wave Panel Study in Japan,” Scientific Reports 16 (2026): 23869, https://doi.org/10.1038/s41598-026-57049-5.

    Sahil Loomba, Alexandre de Figueiredo, Simon J. Piatek, Kristen de Graaf, and Heidi J. Larson, “Measuring the Impact of COVID-19 Vaccine Misinformation on Vaccination Intent in the UK and USA,” Nature Human Behaviour 5 (2021): 337–48, https://doi.org/10.1038/s41562-021-01056-1.

    Daniel Jolley and Karen M. Douglas, “The Effects of Anti-Vaccine Conspiracy Theories on Vaccination Intentions,” PLOS ONE 9, no. 2 (2014): e89177, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0089177.

    Jan Zilinsky et al., “Conspiracism and Government Distrust Predict COVID-19 Vaccine Refusal,” Humanities and Social Sciences Communications 12 (2025), https://doi.org/10.1057/s41599-025-05267-z.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More