Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DNA Kuno Ungkap Wabah Pes Berulang Selama Empat Abad
ilustrasi warga Tournai mengubur korban Black Death (commons.wikimedia.org/Pierart dou Tielt)
  • Black Death pada 1347–1353 bukan akhir wabah pes di Eropa; penyakit itu muncul kembali dalam gelombang selama beberapa abad.

  • Analisis 26 genom bakteri dari 11 situs arkeologi membantu peneliti mencocokkan DNA kuno dengan catatan wabah.

  • Perang dan perpindahan manusia kemungkinan ikut menyebarkan pes. Penyakit ini masih ada di beberapa wilayah, tetapi bisa diobati dengan antibiotik jika ditangani dini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 1347–1353, Black Death menewaskan jutaan orang di Eropa. Namun, setelah gelombang awal itu berlalu, pes belum berakhir. Bukti DNA dari kerangka manusia menunjukkan wabah muncul kembali di berbagai wilayah selama berabad-abad. Temuan studi ini dituliskan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

1. Black Death hanyalah satu gelombang dalam rangkaian panjang

Black Death merujuk pada gelombang pes yang melanda Eropa pada pertengahan abad ke-14. Periode yang lebih luas disebut “pandemi pes kedua”, yaitu rangkaian wabah pes dari abad ke-14 hingga ke-18. Setelah 1353, penyakit ini berulang kali muncul di kota dan wilayah berbeda.

Meski demikian, studi tersebut tidak menyatakan bahwa wabah yang sama menyebar tanpa henti selama 400 tahun. Temuannya menunjukkan gelombang-gelombang pes muncul kembali dari waktu ke waktu.

2. DNA dari tulang membantu menyusun ulang jejak wabah

Tim peneliti merekonstruksi 26 genom Yersinia pestis, bakteri penyebab pes, dari 11 situs arkeologi di Estonia, Rusia, Inggris, Belanda, dan Swiss. Sampel itu berasal dari tahun 1349 hingga 1710. Genom adalah kumpulan informasi genetik yang dapat membantu ilmuwan membandingkan satu sampel bakteri dengan sampel lainnya.

Tantangannya, penanggalan radiokarbon pada sisa-sisa manusia kuno kadang hanya memberi rentang waktu yang lebar, bahkan lebih dari satu abad. Para peneliti mengembangkan metode yang menggabungkan rentang radiokarbon dengan posisi genom pada pohon evolusi bakteri. Cara ini membantu mempersempit perkiraan waktu dan membandingkannya dengan catatan wabah setempat. Secara tentatif, tim mengaitkan 75 genom dengan wabah yang tercatat dalam dokumen sejarah.

3. Pes tampaknya muncul kembali dari lebih dari satu sumber

Peta yang menunjukkan sejarah Black Death di dunia. (commons.wikimedia.org/Munro Scott Orr)

Temuan genom menunjukkan bahwa pes berulang kali muncul di berbagai bagian Eropa, alih-alih bertahan dari satu sumber geografis saja setelah Black Death. Sekitar 1450–1500, garis keturunan bakteri berkembang menjadi tiga kelompok utama. Peneliti menduga sebagian cabang mungkin membentuk reservoir baru pada populasi hewan pengerat liar.

Perubahan iklim, termasuk kekeringan besar yang dikenal sebagai Great Renaissance Drought, disebut sebagai kemungkinan faktor yang turut berperan. Namun, ini masih berupa dugaan.

4. Perang dan perpindahan manusia membuka jalur penyebaran

Studi ini menemukan kaitan genom dengan wabah pada masa Perang Tiga Puluh Tahun dan Perang Utara Besar. Tentara, pengungsi, dan pedagang bergerak melintasi berbagai wilayah; jalur yang mereka gunakan kemungkinan menjadi jalur penyebaran penyakit pula.

Salah satu contoh berasal dari pengepungan Tallinn pada 1710. Temuan arkeologi dan catatan sejarah menunjukkan bahwa korban pes mencakup warga sipil serta tentara Swedia dan Rusia. Kecocokan genom membantu memperjelas hubungan antara lokasi dan periode wabah, tetapi tidak selalu dapat memastikan rute persis yang ditempuh bakteri.

5. Pes masih ada, tetapi kisah abad pertengahan bukan gambaran risiko hari ini

Studi ini menelusuri sejarah bakteri. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Y. pestis masih ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya di sejumlah wilayah.

Pada 2019–2025, sebagian besar kasus manusia yang dilaporkan kepada WHO berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.

Penularan umumnya terjadi melalui gigitan kutu yang terinfeksi. Pes paru juga dapat menular melalui partikel pernapasan. Antibiotik efektif, terutama jika diagnosis dan pengobatan diberikan dini.

Referensi

Marcel Keller et al., “A Refined Phylochronology of the Second Plague Pandemic in Western Eurasia,” Proceedings of the National Academy of Sciences 123, no. 37 (2026): e2534899123, https://doi.org/10.1073/pnas.2534899123.

ScienceAlert, “New Study Shows What Really Happened after the Black Death Wiped Out Millions,” diakses 29 September 2026.

Integrative Prehistory and Archeological Science (IPAS), University of Basel, “A Sharper Picture of a Pandemic: New Study Uncovers the Complex History of the Plague after the Black Death,” diakses 29 September 2026.

Keller et al., “A Refined Phylochronology”; University of Birmingham, “A Refined Phylochronology of the Second Plague Pandemic in Western Eurasia,” diakses 29 September 2026.

World Health Organization, “Plague,” diakses 29 September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Plague,” diakses 29 September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article