- Kepadatan manusia. Stadion dapat menampung puluhan ribu orang dalam satu lokasi.
- Mobilitas internasional. Suporter datang dari berbagai negara dengan profil penyakit yang berbeda.
- Interaksi intensif. Orang-orang bernyanyi, berteriak, berpelukan, dan menghabiskan waktu berjam-jam dalam kerumunan.
- Perubahan rutinitas. Kurang tidur, stres perjalanan, konsumsi alkohol berlebihan, dan kelelahan dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Piala Dunia dan Risiko Wabah, Ini Penyakit yang Perlu Diwaspadai

- Piala Dunia dikategorikan sebagai acara pertemuan massal yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular akibat kepadatan, mobilitas internasional, dan interaksi intensif antar suporter.
- Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai meliputi COVID-19, influenza, meningitis meningokokus, norovirus, hepatitis A, infeksi bakteri makanan, demam berdarah, serta campak.
- Langkah pencegahan utama mencakup vaksinasi lengkap, kebersihan tangan, konsumsi makanan-minuman aman, perlindungan terhadap nyamuk, serta kesadaran terhadap gejala penyakit selama perjalanan.
Piala Dunia selalu menghadirkan suasana yang sulit ditandingi: jutaan orang berkumpul di stadion, fan zone, transportasi umum, hotel, restoran, dan bandara, sehingga dalam beberapa minggu sebuah kota bisa mengalami lonjakan pengunjung yang sangat besar.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, kondisi tersebut memiliki dua sisi. Di satu sisi, turnamen internasional mempertemukan manusia melalui olahraga. Di sisi lain, pergerakan manusia dalam jumlah besar menciptakan peluang bagi mikroorganisme untuk menyebar.
Acara olahraga berskala besar dikategorikan sebagai acara pertemuan massal (mass gathering events), yaitu kegiatan yang berpotensi memengaruhi sistem kesehatan masyarakat karena tingginya kepadatan manusia. Memahami penyakit menular yang berpotensi mengancam suporter Piala Dunia dapat membantu merencanakan perlindungan diri terbaik.
Table of Content
Mengapa Piala Dunia meningkatkan risiko penyakit menular?
Ada beberapa faktor yang membuat acara pertandingan besar menjadi lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit:
Penyakit yang sebenarnya mudah dikendalikan dalam kehidupan sehari-hari dapat menyebar lebih cepat selama acara yang melibatkan kerumunan massa.
1. COVID-19
Berakhirnya pandemi tidak membuat COVID-19 hilang. Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi salah satu contoh bagaimana penyelenggara harus mempertimbangkan risiko COVID-19 di tengah arus jutaan pengunjung.
Para penonton yang menyaksikan Piala Dunia secara langsung berisiko karena virus SARS-CoV-2 menyebar terutama melalui droplet dan aerosol pernapasan.
Kondisi yang meningkatkan risiko meliputi stadion yang padat, transportasi umum, antrean panjang, dan ruang tertutup dengan ventilasi buruk.
Sekadar mengingatkan, gejala COVID-19 bisa meliputi:
- Demam.
- Batuk.
- Sakit tenggorokan.
- Kelelahan.
- Sesak napas pada kasus tertentu.
Meskipun banyak kasus kini lebih ringan dibanding awal pandemi, tetapi COVID-19 tetap dapat menyebabkan komplikasi serius pada lansia dan individu dengan penyakit kronis.
2. Influenza

Influenza dapat menyebabkan wabah besar saat banyak orang berkumpul. Penelitian mengenai acara olahraga dan festival besar menunjukkan bahwa virus influenza termasuk patogen yang paling mudah menyebar melalui kerumunan.
Cara penularan virusnya adalah lewat batuk, bersin, percikan napas, dan tangan yang terkontaminasi.
Gejalanya antara lain:
- Demam tinggi.
- Nyeri otot.
- Menggigil.
- Sakit kepala.
- Batuk.
Vaksin influenza tahunan menjadi salah satu cara perlindungan yang direkomendasikan, terutama bagi pelancong dengan risiko tinggi.
3. Meningitis meningokokus
Penyakit meningokokus disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Bakteri penyebabnya menyebar melalui kontak dekat dan droplet pernapasan.
Lingkungan yang mendukung penyebaran meliputi asrama, hotel padat, transportasi umum, dan kerumunan skala besar.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam mendadak.
- Sakit kepala berat.
- Leher kaku.
- Ruam.
- Penurunan kesadaran.
Meningitis meningokokus dapat berkembang sangat cepat dan menjadi keadaan darurat medis.
4. Norovirus
Norovirus dikenal sebagai salah satu penyebab utama gastroenteritis akut. Infeksinya ebih sering menyebar melalui makanan, minuman, atau tangan yang terkontaminasi.
Ada risiko norovirus dalam acara padat orang seperti Piala Dunia karena suporter sering makan di tempat ramai, mencoba street food, serta berbagi makanan dan minuman.
Norovirus sangat menular. Bahkan jumlah virus yang sangat sedikit dapat menyebabkan infeksi.
Gejalanya antara lain:
- Muntah mendadak.
- Diare.
- Kram perut.
- Mual.
Meski biasanya sembuh sendiri, tetapi dehidrasi dapat menjadi masalah serius.
5. Hepatitis A

Hepatitis A merupakan penyakit yang ditularkan melalui jalur fekal-oral, yang artinya virus dapat menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Faktor risikonya antara lain:
- Sanitasi yang buruk.
- Kebersihan tangan yang kurang baik.
- Makanan yang tidak dimasak dengan benar.
Gejala yang perlu diwaspadai:
- Mual.
- Muntah.
- Demam.
- Nyeri perut.
- Kulit dan mata menguning.
Para ahli merekomendasikan vaksin hepatitis A bagi pelancong ke banyak negara dengan tingkat penularan menengah hingga tinggi.
6. Penyakit diare akibat Salmonella dan E. coli
Acara besar biasanya meningkatkan konsumsi makanan dari berbagai sumber. Dalam kondisi tertentu, makanan yang tidak ditangani dengan benar dapat menjadi media penyebaran bakteri seperti Salmonella dan Escherichia coli.
Gejalanya meliputi:
- Diare.
- Nyeri perut.
- Demam.
- Muntah.
Risiko meningkat jika makanan kurang matang, disimpan pada suhu yang tidak aman, dan terkontaminasi setelah dimasak.
7. Demam berdarah
Jika negara tuan rumah berada di wilayah tropis atau subtropis, risiko penyakit yang ditularkan nyamuk juga perlu diperhatikan. Demam berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes.
Risiko ini perlu diperhatikan karena banyak pengunjung menghabiskan waktu di area terbuka, fan zone, taman kota, dan tempat wisata.
Waspadai gejala seperti:
- Demam tinggi.
- Nyeri kepala.
- Nyeri otot.
- Nyeri sendi.
- Ruam.
8. Campak

Campak merupakan salah satu penyakit paling menular yang diketahui manusia dan kasusnya masih terjadi di berbagai negara. Virus penyebabny dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah orang yang terinfeksi meninggalkan ruangan.
Gejalanya antara lain:
- Demam.
- Batuk.
- Pilek.
- Mata merah.
- Ruam.
Bagi orang yang belum menerima dosis vaksin lengkap atau tidak divaksinasi campak sama sekali, perjalanan internasional meningkatkan risiko paparan.
Apa penyakit yang paling mungkin menyebar?
Kalau melihat berbagai acara olahraga internasinal yang sudah-sudah, penyakit yang paling sering muncul bukanlah penyakit langka, seperti:
- Infeksi saluran pernapasan (COVID-19, influenza).
- Diare akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi.
- Infeksi gastrointestinal akibat virus seperti norovirus.
Penyakit-penyakit tersebut sama-sama dapat menyebar di kerumunan, kontak dekat, dan perubahan rutinitas selama perjalanan.
Cara melindungi diri saat menonton Piala Dunia
- Pastikan vaksinasi rutin lengkap. Ini termasuk campak (MMR), COVID-19 jika direkomendasikan, flu musiman, dan vaksin lain sesuai tujuan perjalanan atau rekomendasi dokter.
- Rajin cuci tangan. Cuci tangan adalah salah satu intervensi paling efektif untuk mencegah penyakit menular.
- Pastikan makanan dan minuman yang aman. Makanan harus matang sempurna, minum air yang aman, dan hindari makanan maupun minuman yang tampak tidak higienis.
- Gunakan repelan nyamuk jika diperlukan, terutama jika di negara tuan rumah Piala Dunia atau tempat kamu nonton bareng pertandingan memiliki risiko demam berdarah atau penyakit bawaan nyamuk lainnya.
- Jangan memaksakan diri saat sakit. Jika mengalami gejala infeksi, batasi kontak dengan orang lain dan mencari bantuan medis bila diperlukan.
Perayaan olahraga global, seperti Piala Dunia, dari sudut pandang kesehatan masyarakat menciptakan peluang penularan berbagai bagi berbagai penyakit menular untuk menyebar. COVID-19, influenza, meningitis meningokokus, norovirus, hepatitis A, infeksi Salmonella dan E. coli, demam berdarah, serta campak termasuk penyakit yang perlu diwaspadai.
Kabar baiknya, sebagian besar risiko tersebut dapat ditekan melalui langkah sederhana, seperti vaksinasi, rutin cuci tangan, keamanan makanan, perlindungan terhadap nyamuk, dan kesadaran terhadap gejala penyakit.
Referensi
Ziad A Memish et al., “Mass Gatherings Medicine: Public Health Issues Arising From Mass Gathering Religious and Sporting Events,” The Lancet 393, no. 10185 (May 1, 2019): 2073–84, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(19)30501-x.
Z.A. Memish et al., “Mass Gathering and Globalization of Respiratory Pathogens During the 2013 Hajj,” Clinical Microbiology and Infection 21, no. 6 (February 18, 2015): 571.e1-571.e8, https://doi.org/10.1016/j.cmi.2015.02.008.
Van-Thuan Hoang and Philippe Gautret, “Infectious Diseases and Mass Gatherings,” Current Infectious Disease Reports 20, no. 11 (August 28, 2018): 44, https://doi.org/10.1007/s11908-018-0650-9.
World Health Organization. "Communicable Disease Alert and Response for Mass Gatherings: Key Considerations." Geneva: World Health Organization, 2015.
Centers for Disease Control and Prevention. "CDC Yellow Book 2026: Health Information for International Travel." Atlanta: U.S. Department of Health and Human Services, 2025.

![[QUIZ] Kuis Kehamilan: Seberapa Paham Kamu soal Trimester Pertama?](https://image.idntimes.com/post/20240404/ilustrasi-ibu-hamil-3-439ba35c2eddc3609f4199c00217243d.png)









![[QUIZ] Kebiasaan Nonton Bola Kamu Berisiko bagi Kesehatan atau Tidak?](https://image.idntimes.com/post/20260607/61726_917d5531-e4ad-4461-83f6-2aeffb197629.jpg)






