Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Kebiasaan Makan Ini Bantu Hilangkan Lemak Perut

7 Kebiasaan Makan Ini Bantu Hilangkan Lemak Perut
ilustrasi lemak perut (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya Sih
  • Lemak perut bisa berkurang lewat pola makan seimbang dengan defisit energi sehat, fokus pada protein, serat, dan pengurangan gula tambahan serta makanan ultraproses.

  • Pola makan ala Mediterania yang kaya akan sayur, buah, ikan, kacang, dan lemak sehat terbukti membantu menurunkan lemak viseral dan obesitas sentral.

  • Kunci keberhasilan ada pada kebiasaan makan yang konsisten dan realistis, bukan diet instan. Perubahan kecil seperti tambah protein dan kurangi minuman manis bisa berdampak besar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Setuju nggak kalau lemak perut itu jenis lemak yang sulit dihilangkan? Berat badan bisa turun sedikit, tetapi lingkar perut seolah tak banyak berubah. Banyak orang terobsesi menghilangkannya dengan berbagai cara.

Kabar baiknya, lemak perut, terutama lemak viseral yang berada di dalam rongga perut dan mengelilingi organ, bisa berkurang jika pola makan dan gaya hidup mendukung tubuh berada dalam defisit energi yang sehat.

Kalau kamu termasuk yang sedang berusaha untuk "membabat" lemak perut, ketahui apa saja kebiasaan makan yang bisa membantu menguranginya secara lebih realistis.

1. Utamakan protein setiap waktu makan

Protein membantu bikin kamu kenyang lebih lama dan mendukung massa otot, terutama kalau kamu juga rutin latihan kekuatan. Massa otot penting karena membantu tubuh tetap aktif secara metabolik saat berat badan turun.

Tinjauan ilmiah tentang diet tinggi protein menyebut beberapa uji klinis menemukan konsumsi protein di atas kebutuhan minimum dapat membantu menurunkan berat badan dan massa lemak, meski hasilnya tetap dipengaruhi total kalori dan kepatuhan pola makan.

Jadi, pastikan ada sumber protein di piring makan, seperti telur, ikan, ayam, daging tanpa lemak, tempe, tahu, edamame, yoghurt tanpa gula, atau kacang-kacangan.

2. Perbanyak serat dari makanan utuh

Serat membantu kenyang, memperlambat pengosongan lambung, dan membuat pola makan lebih stabil. Serat juga membantu orang mengurangi asupan kalori.

Pilih serat dari makanan utuh, seperti sayur, buah utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, oat, dan biji-bijian utuh. Sebuah studi menunjukkan asupan biji-bijian utuh berkaitan dengan lebih rendahnya lemak viseral, sedangkan refined grain atau biji-bijian olahan cenderung sebaliknya.

Kamu bisa mengganti sebagian nasi putih dengan nasi merah, oat, kentang, ubi, atau roti gandum utuh. Tambahkan sayur minimal setengah piring jika memungkinkan.

3. Kurangi minuman manis

Dua tangan masing-masing memegang botol air putih dan botol minuman manis di atas permukaan meja berwarna terang.
ilustrasi air putih vs minuman manis (pexels.com/yaroslavshuraev)

Minuman manis sering menjadi penyumbang asupan gula yang tidak disadarai. Kopi susu, teh manis, minuman kemasan, boba, es sirop, dan jus dengan gula tambahan bisa menambah kalori tanpa memberi rasa kenyang.

American Heart Association merekomendasikan gula tambahan tidak lebih dari 6 persen kalori harian. Patokan sederhananya sekitar 6 sendok teh per hari untuk perempuan dan 9 sendok teh untuk laki-laki.

Untuk mengurangi asupan gula tambahan, mulailah dari minuman harian. Minta varian less sugar, pilih kopi atau teh tanpa gula, dan jadikan minuman manis sebagai sesekali, bukan rutinitas.

4. Batasi makanan ultraproses

Makanan ultraproses biasanya mudah dimakan dalam jumlah banyak karena rasanya enak porsinya sering kali besar. Contohnya camilan kemasan, mi instan, makanan cepat saji, sosis, nuget, pastri, minuman manis, dan dessert kemasan.

Dalam uji klinis terkontrol yang diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism, peserta yang makan diet ultraproses mengonsumsi lebih banyak kalori dan mengalami kenaikan berat badan dibanding saat makan diet minim makanna ultraproses, meski makanan yang disajikan dibuat serupa dari sisi kalori yang ditawarkan, gula, lemak, serat, dan makronutrien.

Kamu tidak harus berhenti total makan makanan ultraproses. Mulailah dengan mengganti satu camilan kemasan dengan buah, yoghurt tawar, telur rebus, kacang secukupnya, atau makanan rumahan.

5. Pilih pola makan ala Mediterranean

Pola makan Mediterranean-style banyak menekankan sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, minyak zaitun, dan lebih sedikit daging merah serta makanan olahan. Tidak harus berarti makanan menu Eropa. Prinsipnya lebih banyak makanan utuh, protein berkualitas, dan lemak sehat.

Menurut sebuah studi, pola makan Mediterania yang diperkaya polifenol dan lebih rendah daging merah/olahan dapat membantu menurunkan jaringan adiposa viseral. Studi lainnya juga menyebut diet Mediterania berpotensi menurunkan obesitas sentral.

Dala pola makan sehari-hari, perbanyak konsumsi ikan, sayur, buah, kacang, dan lauk minim proses. Kurangi daging olahan, gorengan berulang, dan makanan tinggi lemak jenuh.

6. Jangan cuma mengurangi porsi nasi, tetapi rapikan isi piring

Sepiring ikan goreng utuh disajikan dengan nasi putih, sayuran rebus, taburan bawang goreng, dan sambal pedas dalam wadah kecil.
ilustrasi menu makanan sehat berisi ikan goreng, nasi putih, dan sayuran (pexels.com/Man Fong Wong)

Bicara soal lemak perut, beberapa orang menyalahkan konsumsi nasi. Padahal, masalahnya sering kali isi piring secara keseluruhan. Contohnya porsi nasi segunung, lauk minim protein atau lauknya berupa karbo juga, sayur sedikit atau tidak ada, plus minuman manis dan camilan.

Gunakan komposisi sederhana: setengah piring sayur dan buah, seperempat piring protein, seperempat piring karbohidrat, lalu tambahkan lemak sehat secukupnya. Penting untuk memperbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, dan protein sehat dalam susunan makan harian.

Jadi, tetap boleh makan nasi, tetapi kurangi pendamping yang membuat kalorinya melonjak, seperti gorengan, kerupuk, saus manis, minuman manis, dan porsi lauk yang tinggi lemak.

7. Buat pola makan yang bisa dilakukan terus-menerus

Lemak perut tidak hilang karena satu minggu diet intens. Biasanya, hasilnya lebih bertahan jika kebiasaan makan bisa dilakukan terus-terusan.

Pencegahan dan pengelolaan obesitas perlu didukung oleh lingkungan makan yang sehat, termasuk mengurangi makanan tinggi gula, garam, dan lemak serta memperbanyak pilihan makanan bergizi.

Kamu bisa mencoba memilih 2–3 perubahan dulu. Misalnya, berhenti minum manis setiap hari, tambah protein saat sarapan, dan makan sayur setiap makan siang. Setelah konsisten, baru tambah kebiasaan lain.

Kapan perlu bantuan profesional?

Kalau lingkar perut terus naik, berat badan sulit turun walaupun sudah mengubah pola makan, atau ada kondisi seperti diabetes, hipertensi, PCOS, perlemakan hati, kolesterol tinggi, atau riwayat gangguan makan, sebaiknya konsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Jadi, tidak ada solusi instan untuk menghilangkan lemak perut. Kuncinya adalah membuat tubuh lebih sering kenyang dari makanan bergizi, lebih jarang mendapat kalori cair dan makanan ultraproses, serta menjaga pola yang bisa dijalani cukup lama.

Lemak perut memang tidak hilang dalam semalam, tetapi kebiasaan kecil yang konsisten bisa membuat lingkar perut pelan-pelan menyusut.

Referensi

Harvard Health Publishing. “Losing the Belly Fat.” Diakses Juli 2026.

Harvard Health Publishing. “Taking Aim at Belly Fat.” Diakses Juli 2026.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Healthy Eating Plate.” Diakses Juli 2026.

Moon, Jihye, and Hee-Sook Jun. “Clinical Evidence and Mechanisms of High-Protein Diet-Induced Weight Loss.” Journal of Obesity & Metabolic Syndrome 29, no. 3 (2020): 166–173. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7539343/.

McKeown, Nicola M., et al. “Whole- and Refined-Grain Intakes Are Differentially Associated with Abdominal Visceral and Subcutaneous Adiposity in Healthy Adults: The Framingham Heart Study.” American Journal of Clinical Nutrition 92, no. 5 (2010): 1165–1171. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2954448/.

American Heart Association. “Added Sugars.” Diakses Juli 2026.

American Heart Association. “How Much Sugar Is Too Much?” Diakses Juli 2026.

Hall, Kevin D., Alexis Ayuketah, Robert Brychta, et al. “Ultra-Processed Diets Cause Excess Calorie Intake and Weight Gain: An Inpatient Randomized Controlled Trial of Ad Libitum Food Intake.” Cell Metabolism 30, no. 1 (2019): 67–77.e3. https://doi.org/10.1016/j.cmet.2019.05.008.

Zelicha, Hila, Anat Yaskolka Meir, Ehud Rinott, et al. “The Effect of High-Polyphenol Mediterranean Diet on Visceral Adiposity: The DIRECT PLUS Randomized Controlled Trial.” BMC Medicine 20 (2022): 327. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9523931/.

Bendall, Catherine L., et al. “Central Obesity and the Mediterranean Diet: A Systematic Review of Intervention Trials.” Critical Reviews in Food Science and Nutrition 58, no. 18 (2018): 3070–3084. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29039967/.

World Health Organization. “Obesity and Overweight.” Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More