Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Wabah Polio 1952 Melahirkan ICU Modern, Ini Kisah Menariknya

Wabah Polio 1952 Melahirkan ICU Modern, Ini Kisah Menariknya
Seorang anak laki-laki dirawat dengan iron lung atau paru-paru besi di Herman Keifer Hospital, Detroit, Michigan, karena polio sekitar tahun 1955. (flickr.com/Otis Historical Archives)
  • Pada awal wabah polio Kopenhagen, 27 dari 31 pasien dengan gangguan napas berat meninggal dalam tiga minggu.

  • Ventilasi tekanan positif melalui trakeostomi menurunkan perkiraan angka kematian pada kelompok tersebut dari sekitar 90 menjadi 25 persen.

  • Pelajaran wabah kemudian diwujudkan menjadi unit khusus dengan pengawasan 24 jam—cikal bakal ICU modern.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada Agustus 1952, bangsal Blegdam Hospital di Kopenhagen dipenuhi pasien polio. Sebagian masih bisa bernapas sendiri, sementara sebagian lainnya kehilangan kekuatan untuk menelan, batuk, bahkan menggerakkan otot pernapasan.

Dalam beberapa bulan, hampir 3.000 pasien polio dirawat di kota itu. Sekitar 345 mengalami polio bulbar, yaitu bentuk penyakit yang mengganggu fungsi pernapasan dan menelan. Pada tiga minggu pertama krisis, 27 dari 31 pasien dengan kondisi tersebut meninggal.

  1. Paru-paru besi tak lagi memadai

    Rumah sakit hanya memiliki satu iron lung atau paru-paru besi dan 6 alat pernapasan berbentuk pelindung dada. Alat-alat ini bekerja dengan mengubah tekanan di luar dada sehingga udara dapat masuk ke paru-paru.

    Cara tersebut dapat membantu gangguan ringan. Namun, pasien polio bulbar juga kesulitan batuk dan membersihkan lendir. Membantu dada mengembang saja tidak selalu cukup jika jalan napas masih dipenuhi sekret.

    Di tengah krisis itu, seorang ahli anestesi bernama Bjørn Ibsen diminta menilai pasien-pasien yang terus memburuk. Ia memperhatikan hasil pemeriksaan darah mereka. Kadar karbon dioksida yang tinggi sebelumnya dianggap sebagai gangguan metabolisme yang belum dipahami.

    Ibsen membaca persoalannya secara berbeda, bahwa otot pernapasan pasien terlalu lemah untuk membuang karbon dioksida. Darah menjadi asam karena udara yang keluar-masuk terlalu sedikit. Dengan kata lain, pasien memerlukan ventilasi yang lebih efektif.

  2. Napas pertama melalui sebuah kantong karet

    Pasien pertama yang ditangani dengan cara baru itu adalah seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Keempat anggota geraknya lumpuh, sebagian paru-parunya mengempis, kulitnya membiru, dan lendir mengganggu jalan napas.

    Dokter membuat lubang pada batang tenggorok atau trakeostomi, memasang selang dengan balon penyekat, lalu membersihkan sekret.

    Udara kemudian didorong ke dalam paru-parunya dengan kantong ventilasi yang dipompa menggunakan tangan. Keadaan pasien anak tersebut membaik.

    Metode ini membalik cara kerja paru-paru besi. Alih-alih menarik dada dari luar, ventilasi tekanan positif mendorong udara langsung ke paru-paru. Selang yang terpasang juga memungkinkan petugas membersihkan jalan napas.

    Masalah berikutnya segera muncul, yakni rumah sakit tidak memiliki cukup ventilator otomatis. Sebagai gantinya, sekitar 200 mahasiswa kedokteran disusun dalam jadwal bergilir selama 6 atau 8 jam. Pada puncak wabah, mereka harus memompa kantong ventilasi bagi 70 pasien tanpa henti, siang dan malam.

    Karena pasien tidak dapat berbicara melalui selang trakeostomi, para mahasiswa belajar membaca gerakan bibir dan mata. Sebagian membacakan cerita atau bermain bersama pasien anak sambil tetap menjaga irama napas mereka.

    Telaah sejarah fisiologi pernapasan memperkirakan angka kematian pada pasien dengan gangguan napas berat kemudian turun dari sekitar 90 menjadi sekitar 25 persen.

  3. Dasar dari ICU modern

    Peralatan medis dan monitor pasien di ruang ICU rumah sakit, menggambarkan fasilitas perawatan intensif.
    ilustrasi peralatan di ruang ICU rumah sakit (pexels.com/Anna Shvets)

    Keberhasilan tersebut tidak hanya berasal dari kantong ventilasi. Pasien dikumpulkan di area khusus, diawasi terus-menerus, jalan napasnya dirawat, dan kondisi darahnya diperiksa berulang.

    Penelitian laboratorium Poul Astrup dan rekan-rekannya membantu menunjukkan pentingnya pengukuran keasaman darah serta kadar karbon dioksida untuk menilai apakah ventilasi sudah memadai.

    Pengalaman itu mengubah gagasan tentang perawatan pasien kritis. Dokter tidak harus selalu bisa langsung menyembuhkan penyakit yang mendasarinya. Mereka dapat menopang fungsi vital, seperti pernapasan, agar tubuh memiliki waktu untuk pulih.

    Pada Desember 1953, Ibsen mendirikan unit khusus di Kommunehospitalet, Kopenhagen. Kajian sejarah menyebutnya sebagai unit perawatan intensif multidisiplin pertama yang sesuai dengan pengertian modern, di mana pasien kritis ditempatkan bersama, dipantau 24 jam, dan ditangani oleh dokter serta perawat dari berbagai bidang.

    Ruang pengawasan pascaoperasi dan teknik ventilasi tekanan positif sebenarnya telah digunakan sebelumnya. Wabah Kopenhagen tidak menciptakan semuanya dari nol. Peristiwa tersebut menyatukan ventilasi, pemantauan fisiologis, perawatan jalan napas, tenaga terlatih, dan pengawasan sepanjang waktu menjadi satu sistem terorganisasi.

    Sistem itulah yang menjadi dasar ICU modern. Walaupun mesin kini jauh lebih canggih, tetapi prinsipnya tetap serupa, yaitu menopang organ yang gagal, mengamati perubahan sekecil mungkin, dan menjaga pasien melewati masa paling kritis.

    Referensi

    H. C. A. Lassen, “A Preliminary Report on the 1952 Epidemic of Poliomyelitis in Copenhagen with Special Reference to the Treatment of Acute Respiratory Insufficiency,” The Lancet 261, no. 6749 (1953): 37–41, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(53)92530-6.

    John B. West, “The Physiological Challenges of the 1952 Copenhagen Poliomyelitis Epidemic and a Renaissance in Clinical Respiratory Physiology,” Journal of Applied Physiology 99, no. 2 (2005): 424–32, https://doi.org/10.1152/japplphysiol.00184.2005.

    Bjørn Ibsen, “The Anaesthetist’s Viewpoint on the Treatment of Respiratory Complications in Poliomyelitis during the Epidemic in Copenhagen, 1952,” Proceedings of the Royal Society of Medicine 47, no. 1 (1954): 72–74, https://doi.org/10.1177/003591575404700120.

    Poul Astrup, H. Gøtzsche, and F. Neukirch, “Laboratory Investigations during Treatment of Patients with Poliomyelitis and Respiratory Paralysis,” British Medical Journal 1, no. 4865 (1954): 780–86, https://doi.org/10.1136/bmj.1.4865.780.

    Preben G. Berthelsen and M. Cronqvist, “The First Intensive Care Unit in the World: Copenhagen 1953,” Acta Anaesthesiologica Scandinavica 47, no. 10 (2003): 1190–95, https://doi.org/10.1046/j.1399-6576.2003.00256.x.

    Fiona E. Kelly, Kevin Fong, Nicholas Hirsch, and Jerry P. Nolan, “Intensive Care Medicine Is 60 Years Old: The History and Future of the Intensive Care Unit,” Clinical Medicine 14, no. 4 (2014): 376–79, https://doi.org/10.7861/clinmedicine.14-4-376.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More