Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa Efek Makan Daging Berlebihan bagi Ginjal?

Apa Efek Makan Daging Berlebihan bagi Ginjal?
ilustrasi makan daging (magnific.com/freepic.diller)
Intinya Sih
  • Konsumsi daging berlebihan membuat ginjal bekerja lebih keras karena meningkatnya limbah metabolisme protein, meski pada orang sehat belum terbukti langsung menyebabkan penyakit ginjal kronis.
  • Penelitian menunjukkan konsumsi tinggi daging merah dan olahan berkaitan dengan risiko gagal ginjal, terutama akibat beban asam tinggi serta kandungan natrium dan senyawa proinflamasi.
  • Ahli menyarankan variasi sumber protein, membatasi daging olahan, memperbanyak protein nabati, serta menjaga hidrasi agar fungsi ginjal tetap optimal tanpa harus menghindari daging sepenuhnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Daging merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung asam amino esensial, zat besi, vitamin B12, dan berbagai nutrisi penting lainnya. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa konsumsi daging berlebihan dapat membuat ginjal bekerja terlalu keras.

Apakah kekhawatiran tersebut benar? Ketahui jawabannya lewat ulasan di bawah ini, ya!

Table of Content

Kaitan antara ginjal dan konsumsi daging

Setiap kali kamu mengonsumsi protein, tubuh akan memecahnya menjadi asam amino untuk digunakan dalam berbagai proses biologis. Namun, tidak semua asam amino digunakan.

Sebagian akan dipecah lebih lanjut dan menghasilkan limbah nitrogen. Hati mengubah limbah tersebut menjadi urea, yang kemudian dibuang oleh ginjal melalui urine.

Karena itulah, makin tinggi asupan protein, makin banyak pula produk sisa metabolisme yang harus diproses ginjal.

Ini bukan berarti protein berbahaya, justru itu merupakan fungsi normal ginjal. Namun, ketika konsumsi protein meningkat secara signifikan dan berlangsung lama, ginjal harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.

Yang terjadi pada ginjal setelah makan protein dalam jumlah besar

Salah satu respons yang paling dikenal adalah hiperfiltrasi ginjal (glomerular hyperfiltration).

Sederhananya, ginjal meningkatkan laju penyaringan darah setelah kamu mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi. Ini sebenarnya merupakan adaptasi fisiologis yang normal. Bayangkan seperti mesin yang meningkatkan kecepatan ketika beban kerja bertambah.

Dalam jangka pendek, hiperfiltrasi bukanlah penyakit. Namun, para ilmuwan telah lama memperdebatkan apakah kondisi tersebut dapat menjadi masalah jika berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hiperfiltrasi kronis berpotensi mempercepat kerusakan unit penyaring ginjal (glomerulus) pada individu yang rentan.

Itulah mengapa hubungan antara konsumsi protein tinggi dan kesehatan ginjal menjadi topik penelitian yang terus berkembang.

Apakah makan daging berlebihan bisa menyebabkan penyakit ginjal?

Seseorang memegang potongan daging kambing panggang di atas piring berisi sayuran dan bumbu di meja makan.
ilustrasi makan daging kambing (magnific.com/stockking)

Untuk orang dengan ginjal sehat, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi protein tinggi secara langsung menyebabkan penyakit ginjal kronis. Namun, situasinya berbeda ketika melihat pola konsumsi jangka panjang dalam populasi besar.

Beberapa studi observasional menemukan bahwa konsumsi daging merah dan daging olahan dalam jumlah tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis.

Salah satu penelitian besar yang melibatkan lebih dari 63.000 orang dewasa di Singapura menemukan bahwa konsumsi daging merah yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko gagal ginjal stadium akhir. Dan, hubungan tersebut tidak ditemukan pada sumber protein lain seperti ikan, unggas, telur, produk susu, dan protein nabati.

Temuan ini menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian mungkin bukan cuma jumlah protein, tetapi juga jenis protein yang dikonsumsi.

Mengapa daging merah menjadi sorotan?

Ada beberapa alasan yang sedang diteliti para ilmuwan.

  • Beban asam yang lebih tinggi

Daging merah menghasilkan lebih banyak asam selama proses metabolisme dibandingkan banyak makanan nabati.

Ginjal berperan penting menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Jika pola makan secara konsisten menghasilkan beban asam tinggi, ginjal harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan tersebut.

  • Kandungan senyawa tertentu

Daging merah mengandung senyawa seperti heme iron, fosfor organik, dan produk akhir glikasi tertentu yang diduga dapat berkontribusi terhadap stres oksidatif dan peradangan pada sebagian kondisi.

  • Daging olahan

Risiko mungkin menjadi lebih besar pada daging olahan seperti sosis, kornet, daging asap, ham, dan nuget olahan. Produk-produk ini sering mengandung natrium yang tinggi serta bahan tambahan lain yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan ginjal dan kardiovaskular jika dikonsumsi berlebihan.

Bagaimana dengan orang yang sudah memiliki penyakit ginjal?

Pada pasien penyakit ginjal kronis, kemampuan ginjal untuk membuang limbah metabolisme protein sudah menurun. Karena itu, para ahli menyarankan pengaturan asupan protein yang lebih hati-hati.

Tujuannya bukan menghilangkan protein sama sekali, melainkan untuk:

  • Mengurangi akumulasi limbah metabolik.
  • Menurunkan tekanan kerja ginjal.
  • Memperlambat progresivitas penyakit ginjal.

Kebutuhan protein pada pasien penyakit ginjal harus disesuaikan dengan stadium penyakit dan kondisi klinis masing-masing.

Apakah orang yang asupan proteinnya tinggi perlu khawatir?

Beberapa tusuk sate daging sedang dipanggang di atas panggangan besar saat acara barbeku di luar ruangan pada siang hari.
ilustrasi pesat bbq (pexels.com/Ines M. Fotografie)

Atlet kekuatan, binaragawan, dan pelari endurance sering mengonsumsi protein dalam jumlah lebih tinggi dibanding populasi umum.

Sejumlah penelitian pada individu sehat menunjukkan bahwa ginjal biasanya mampu beradaptasi terhadap pola makan tinggi protein tanpa menunjukkan kerusakan ginjal dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, para ahli tetap mengingatkan bahwa data jangka sangat panjang masih terbatas.

Selain itu, hasil penelitian pada atlet sehat tidak dapat langsung diterapkan pada orang yang memiliki diabetes, hipertensi, penyakit ginjal kronis, dan riwayat batu ginjal. Kelompok ini perlu pendekatan yang berbeda.

Bisakah makan daging berlebihan memicu batu ginjal?

Konsumsi protein hewani dalam jumlah banyak dapat meningkatkan ekskresi kalsium, asam urat, serta menurunkan kadar sitrat urine yang berfungsi mencegah pembentukan batu ginjal.

Karena itu, pola makan tinggi daging merah diketahui dapat meningkatkan risiko jenis batu ginjal tertentu pada individu yang rentan.

Berapa banyak daging yang masih dianggap wajar?

Tidak ada angka universal yang berlaku untuk semua orang. Namun, para ahli umumnya menganjurkan untuk:

  • Mengutamakan variasi sumber protein.
  • Memperbanyak protein nabati.
  • Membatasi konsumsi daging olahan.
  • Tidak menjadikan daging merah sebagai satu-satunya sumber protein harian.

Pendekatan ini tidak hanya baik untuk ginjal, tetapi juga mendukung kesehatan jantung dan metabolisme secara keseluruhan.

Cara menikmati daging tanpa membebani ginjal

Beberapa strategi sederhana dapat membantu:

  • Perhatikan porsi. Konsumsi daging secukupnya, bukan berlebihan dalam satu waktu.
  • Variasikan sumber protein. Selingi dengan ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
  • Perbanyak sayur dan buah. Makanan nabati membantu menurunkan beban asam dari pola makan.
  • Cukupi kebutuhan cairan. Hidrasi yang baik membantu ginjal menjalankan fungsinya secara optimal.
  • Batasi daging olahan. Risiko kesehatan cenderung lebih besar pada daging olahan dibandingkan daging segar.

Makan daging wajar tidak terbukti merusak ginjal pada orang sehat. Namun, konsumsi berlebihan, terutama daging merah dan olahan, dapat menambah beban ginjal dan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis dalam beberapa studi besar. Risiko ini lebih penting pada orang dengan penyakit ginjal, diabetes, atau hipertensi. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan, bukan menghindari daging sepenuhnya.

Referensi

Quan-Lan Jasmine Lew et al., “Red Meat Intake and Risk of ESRD,” Journal of the American Society of Nephrology 28, no. 1 (July 14, 2016): 304–12, https://doi.org/10.1681/asn.2016030248.

Renal and Urology News. "Higher Red Meat Intake Raises Kidney Failure Risk." Diakses Juni 2026.

Denise Mafra et al., “Low‐protein Diet for Chronic Kidney Disease: Evidence, Controversies, and Practical Guidelines,” Journal of Internal Medicine 298, no. 4 (July 31, 2025): 319–35, https://doi.org/10.1111/joim.20117.

William F Martin, Lawrence E Armstrong, and Nancy R Rodriguez, “Dietary Protein Intake and Renal Function,” Nutrition & Metabolism 2, no. 1 (September 20, 2005): 25, https://doi.org/10.1186/1743-7075-2-25.

National Kidney Foundation. "CKD Diet: How much protein is the right amount?" Diakses Juni 2026.

Gang Jee Ko et al., “Dietary Protein Intake and Chronic Kidney Disease,” Current Opinion in Clinical Nutrition & Metabolic Care 20, no. 1 (November 1, 2016): 77–85, https://doi.org/10.1097/mco.0000000000000342.

Thomas Remer and Friedrich Manz, “Potential Renal Acid Load of Foods and Its Influence on Urine pH,” Journal of the American Dietetic Association 95, no. 7 (July 1, 1995): 791–97, https://doi.org/10.1016/s0002-8223(95)00219-7.

Andrew D. Rule et al., “The ROKS Nomogram for Predicting a Second Symptomatic Stone Episode,” Journal of the American Society of Nephrology 25, no. 12 (August 8, 2014): 2878–86, https://doi.org/10.1681/asn.2013091011.

Paul E. Stevens et al., “KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 105, no. 4 (March 13, 2024): S117–314, https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.018.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More