Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Cara Mengatasi Sariawan saat Puasa

7 Cara Mengatasi Sariawan saat Puasa
ilustrasi sariawan (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Sariawan bisa dipicu stres, dehidrasi, trauma ringan, dan kekurangan nutrisi.

  • Perawatan topikal seperti kortikosteroid oles, antiseptik, dan suplemen nutrisi efektif bila digunakan tepat waktu (sahur/berbuka).

  • Hindari makanan asam-pedas dan jaga kebersihan mulut untuk mempercepat penyembuhan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Rasa perih kecil di dalam mulut bisa terasa berlipat ganda saat berpuasa. Luka mungil itu bergesekan dengan makanan ketika sahur dan berbuka, membuat aktivitas makan yang seharusnya nyaman justru terasa menyiksa. Berbicara pun kadang terasa tidak leluasa.

Sariawan adalah kondisi umum berupa luka dangkal di mukosa mulut. Lesi ini biasanya berbentuk bulat atau oval dengan dasar putih kekuningan dan tepi kemerahan. Meski tidak menular, tetapi nyerinya dapat mengganggu kualitas hidup sementara.

Selama Ramadan, perubahan pola makan, hidrasi, dan ritme tidur dapat menjadi faktor pemicu tambahan. Dengan pendekatan yang tepat, sariawan tetap bisa ditangani tanpa mengganggu ibadah. Cek cara-caranya di bawah ini!

1. Gunakan kortikosteroid topikal

Kortikosteroid oles seperti triamcinolone acetonide dalam bentuk pasta dental terbukti efektif mengurangi inflamasi dan nyeri pada sariawan. Sebuah tinjauan ilmiah menyebutkan bahwa terapi topikal lini pertama untuk sariawan adalah kortikosteroid ringan hingga sedang.

Obat ini bekerja dengan menekan respons inflamasi/peradangan lokal sehingga luka lebih cepat membaik dan rasa nyeri berkurang.

Gunakan setelah sahur atau setelah berbuka, ketika tidak ada risiko makan atau minum dalam waktu dekat, agar obat tidak tertelan dan dapat bekerja optimal.

2. Berkumur dengan larutan antiseptik

Seorang perempuan berkumur untuk mengatasi sariawan.
ilustrasi berkumur dengan larutan antiseptik (vecteezy.com/Sakuna Thongkum)

Obat kumur antiseptik seperti chlorhexidine dapat membantu menurunkan jumlah bakteri di rongga mulut dan mencegah infeksi sekunder.

Berkumur juga membantu membersihkan sisa makanan yang bisa memperparah iritasi.

Karena berpotensi tertelan, lakukan berkumur saat sahur atau setelah berbuka puasa.

3. Kompres dingin atau es batu

Suhu dingin membantu mengurangi sensasi nyeri dengan menurunkan aliran darah sementara ke area luka. Ini bersifat simtomatik, tetapi cukup membantu sebelum makan.

Tempelkan es batu kecil yang dibungkus kain bersih langsung pada sariawan beberapa menit. Kamu bisa melakukannya saat berbuka atau sahur.

4. Konsumsi suplemen jika ada defisiensi

Ilustrasi seorang pria hendak mengonsumsi suplemen.
ilustrasi konsumsi suplemen (pexels.com/Guto Macedo)

Beberapa studi menunjukkan hubungan antara sariawan berulang dan kekurangan zat besi, vitamin B12, serta folat.

Jika sariawan sering kambuh, pemeriksaan laboratorium mungkin diperlukan. Suplementasi yang tepat dapat membantu mencegah kekambuhan.

Konsumsi suplemen saat sahur atau setelah berbuka untuk menghindari iritasi lambung saat perut kosong.

5. Hindari makanan pemicu

Makanan asam, pedas, asin, atau bertekstur keras dapat memperparah iritasi luka. Hindari makanan yang memicu nyeri hingga luka membaik.

Saat sahur dan berbuka, pilih makanan lembut dan tidak terlalu panas untuk mengurangi gesekan pada mukosa mulut.

6. Menjaga kebersihan mulut

Sikat gigi dan pasta gigi.
ilustrasi sikat gigi dan pasta gigi (pexels.com/AS Photography)

Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan pasta gigi tanpa sodium lauryl sulfate (SLS), karena beberapa penelitian menunjukkan SLS dapat memicu atau memperburuk sariawan berulang pada individu sensitif.

Menyikat gigi tetap penting untuk mencegah infeksi sekunder, tetapi lakukan dengan gerakan perlahan.

7. Kelola stres dan istirahat cukup

Stres merupakan salah satu faktor pemicu sariawan yang cukup konsisten dilaporkan dalam literatur ilmiah.

Perubahan jadwal selama Ramadan dapat meningkatkan stres fisiologis ringan. Tidur cukup dan teknik relaksasi sederhana seperti pernapasan dalam membantu menjaga keseimbangan sistem imun.

Sariawan saat puasa memang mengganggu, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan terapi topikal, kebersihan mulut yang tepat, hingga pengelolaan nutrisi, sariawan dapat sembuh lebih cepat dan tidak terlalu menyakitkan. Namun, sebelum mencoba obat apa pun, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau dokter gigi.

Kuncinya adalah memahami waktu yang tepat untuk melakukan perawatan, terutama jika melibatkan cairan atau obat kumur. Dengan strategi yang cermat, puasa tetap nyaman tanpa terganggu rasa perih berkepanjangan.

Referensi 

Mayo Clinic. “Canker Sore.” Diakses Februari 2026.

Natalie Rose Edgar, Dahlia Saleh, and Richard A Miller, “Recurrent Aphthous Stomatitis: A Review,” March 1, 2017, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5367879/.

Crispian Scully and Stephen Porter, “Oral Mucosal Disease: Recurrent Aphthous Stomatitis,” British Journal of Oral and Maxillofacial Surgery 46, no. 3 (September 12, 2007): 198–206, https://doi.org/10.1016/j.bjoms.2007.07.201.

Ilia Volkov et al., “Case Report: Recurrent Aphthous Stomatitis Responds to Vitamin B12 Treatment,” June 10, 2005, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1479540/#:~:text=Recurrent%20aphthous%20stomatitis%20can%20also,acid%2C%20or%20vitamin%20B12.

Bente Brokstad Herlofson and Pål Barkvoll, “Sodium Lauryl Sulfate and Recurrent Aphthous Ulcers: A Preliminary Study,” Acta Odontologica Scandinavica 52, no. 5 (January 1, 1994): 257–59, https://doi.org/10.3109/00016359409029036.

Camila De Barros Gallo, Maria Angela Martins Mimura, and Norberto Nobuo Sugaya, “Psychological Stress and Recurrent Aphthous Stomatitis,” Clinics 64, no. 7 (July 1, 2009): 645–48, https://doi.org/10.1590/s1807-59322009000700007.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More