Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kebiasaan Pakai Parfum di Leher, Bahaya buat Kesehatan?

Kebiasaan Pakai Parfum di Leher, Bahaya buat Kesehatan?
ilustrasi menyemprotkan parfum pada area leher (pexels/Ron Lach)
Intinya Sih
  • Parfum di leher umumnya aman, tetapi bisa memicu iritasi atau alergi pada kulit sensitif.

  • Kandungan seperti alkohol dan fragrance compounds dapat menyebabkan dermatitis kontak.

  • Paparan sinar matahari setelah memakai parfum dapat meningkatkan risiko fotosensitivitas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Leher sering menjadi titik favorit untuk menyemprotkan parfum, salah satu alasannya karena dipercaya membantu menyebarkan aroma lebih optimal. Apakah kamu termasuk yang memiliki kebiasaan ini?

Di balik kebiasaan tersebut, muncul pertanyaan tentang keamanannya. Apakah menyemprotkan parfum di leher benar-benar aman, atau justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan tertentu? Umumnya, sih, aman, tetapi ada kondisi tertentu yang membuat kebiasan ini berisiko. Menarik untuk diketahui, baca terus sampai habis, ya!

Table of Content

1. Risiko iritasi dan alergi kulit

1. Risiko iritasi dan alergi kulit

Kulit leher tergolong lebih tipis dan sensitif dibanding beberapa bagian tubuh lain. Ini membuatnya lebih rentan terhadap iritasi. Produk dengan kandungan fragrance merupakan salah satu penyebab utama dermatitis kontak alergi.

Parfum biasanya mengandung:

  • Alkohol.
  • Minyak esensial.
  • Senyawa aroma sintetis.

Penelitian menunjukkan bahwa fragrance mix (campuran beberapa bahan pewangi) adalah salah satu alergen paling umum dalam produk perawatan pribadi.

Gejala yang bisa muncul di antaranya:

  • Kemerahan.
  • Gatal.
  • Rasa terbakar.
  • Kulit kering atau mengelupas.

2. Fotosensitivitas: kulit bereaksi dengan sinar matahari

Ilustrasi seorang laki-laki menyemprotkan parfum.
ilustrasi seorang laki-laki menyemprotkan parfum (pexels.com/Franco Monsalvo)

Salah satu risiko yang sering tidak disadari adalah fotosensitivitas, yakni reaksi kulit terhadap sinar ultraviolet (UV) setelah terpapar zat tertentu. Beberapa bahan dalam parfum, terutama minyak sitrus seperti bergamot, dapat menyebabkan reaksi ini.

Beberapa bahan kosmetik diketahui dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari.

Akibatnya:

  • Muncul bercak gelap (hiperpigmentasi).
  • Iritasi setelah terpapar matahari.
  • Kulit menjadi lebih sensitif.

Kondisi ini dikenal sebagai fotodermatitis dan bisa berlangsung lama jika tidak ditangani.

3. Paparan zat kimia

Parfum mengandung campuran kompleks bahan kimia, termasuk pelarut dan zat pewangi.

Menurut Environmental Working Group, beberapa produk parfum dapat mengandung senyawa volatil (VOCs) yang berpotensi terhirup atau diserap melalui kulit.

Meski sebagian besar aman dalam batas penggunaan normal, tetapi paparan berulang dalam jangka panjang masih menjadi perhatian dalam penelitian.

Studi menunjukkan bahwa beberapa komponen pewangi dapat berkontribusi terhadap iritasi saluran napas atau sensitivitas kimia pada individu tertentu.

4. Area leher dekat dengan organ vital

Ilustrasi menyemprotkan parfum.
ilustrasi menyemprotkan parfum (freepik.com/freepic.diller)

Leher adalah area dengan pembuluh darah besar dan kelenjar penting, seperti kelenjar tiroid. Meskipun tidak ada bukti kuat bahwa parfum langsung memengaruhi organ ini, tetapi area tersebut tetap lebih sensitif dibanding bagian tubuh lain.

Karena itu, penggunaan produk beraroma di area ini perlu lebih hati-hati, terutama bagi individu dengan kulit sensitif atau memiliki kondisi medis tertentu.

5. Jadi, aman atau tidak?

Secara umum, menyemprotkan parfum di leher aman bagi sebagian besar orang, selama:

  • Tidak ada riwayat alergi.
  • Tidak digunakan berlebihan.
  • Tidak terpapar langsung sinar matahari setelah pemakaian.

Namun, bagi individu dengan kulit sensitif, riwayat dermatitis, atau mudah mengalami iritasi, sebaiknya pertimbangkan area alternatif seperti pakaian atau bagian tubuh lain.

Kebiasaan yang tampak sepele seperti menyemprotkan parfum ternyata bisa memiliki risiko bagi kesehatan. Gunakan parfum secara bijak dengan memilih produk yang sesuai, hindari paparan berlebih, dan perhatikan reaksi kulit adalah langkah-langkah mudah agar tetap aman.

Referensi

American Academy of Dermatology. “Contact Dermatitis.” Diakses Maret 2026.

Environmental Working Group. “Fragrance in Products.” Diakses Maret 2026.

Jeanne D Johansen, “Fragrance Contact Allergy,” American Journal of Clinical Dermatology 4, no. 11 (January 1, 2003): 789–98, https://doi.org/10.2165/00128071-200304110-00006.

Anne Steinemann, “Fragranced Consumer Products: Exposures and Effects From Emissions,” Air Quality Atmosphere & Health 9, no. 8 (October 20, 2016): 861–66, https://doi.org/10.1007/s11869-016-0442-z.

U.S. Food and Drug Administration. “Cosmetics and Skin Safety.” Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More