Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Batu Ginjal Lebih Sering Terjadi di Area Beriklim Panas?

Kenapa Batu Ginjal Lebih Sering Terjadi di Area Beriklim Panas?
ilustrasi akibat cuaca panas (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Dehidrasi kronis di area beriklim panas meningkatkan konsentrasi mineral pembentuk batu dalam urine.

  • Keringat berlebih tanpa kompensasi cairan mengurangi volume urine, mempercepat kristalisasi.

  • Perubahan fisiologis akibat panas (termasuk hormon dan metabolisme) turut memicu pembentukan batu ginjal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di banyak negara beriklim panas, kasus batu ginjal lebih sering ditemukan dibanding wilayah beriklim dingin. Ada beberapa alasan di baliknya, yang merupakan hasil interaksi kompleks antara iklim, kebiasaan minum, respons tubuh terhadap panas, hingga pola makan.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, memahami hubungan antara suhu lingkungan dan risiko batu ginjal penting, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Supaya paham, baca terus sampai habis, ya!

Table of Content

Dehidrasi adalah pemicu utama, tetapi sayangnya sering diabaikan

Dehidrasi adalah pemicu utama, tetapi sayangnya sering diabaikan

Penyebab paling signifikan adalah dehidrasi kronis. Di lingkungan panas, tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat. Jika cairan ini tidak digantikan secara adekuat, volume urine akan menurun drastis.

Akibatnya, urine menjadi lebih pekat dan mengandung konsentrasi tinggi zat seperti kalsium, oksalat, dan asam urat—komponen utama pembentuk batu ginjal.

Studi menunjukkan bahwa peningkatan suhu lingkungan berkorelasi langsung dengan peningkatan risiko batu ginjal, terutama karena efek dehidrasi ini.

Volume urine rendah, yang berarti risiko kristalisasi tinggi

Batu ginjal.
ilustrasi batu ginjal (commons.wikimedia.org/Jakupica)

Dalam kondisi normal, urine berfungsi layaknya pelarut yang menjaga mineral tetap terlarut. Namun, saat volume urine rendah, mineral-mineral ini lebih mudah mengendap dan membentuk kristal kecil.

Kristal ini bisa berkembang menjadi batu ginjal seiring waktu. Penelitian menegaskan bahwa produksi urine rendah adalah faktor risiko utama pembentukan batu ginjal, dan kondisi ini jauh lebih sering terjadi di tempat beriklim panas.

Keringat berlebih mengubah keseimbangan tubuh

Keringat tidak hanya mengandung air, tetapi juga elektrolit seperti natrium. Saat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit, terjadi perubahan dalam keseimbangan kimia tubuh.

Kehilangan cairan melalui keringat dapat meningkatkan reabsorpsi kalsium di ginjal, sehingga meningkatkan kadar kalsium dalam urine—faktor penting dalam pembentukan batu kalsium.

Adaptasi tubuh terhadap panas tidak selalu menguntungkan

Ilustrasi cuaca panas.
ilustrasi cuaca panas (freepik.com/freepik)

Tubuh manusia memiliki mekanisme adaptasi terhadap panas, termasuk peningkatan hormon antidiuretik (ADH). Hormon ini membantu tubuh mempertahankan cairan dengan mengurangi produksi urine.

Namun, efek sampingnya urine menjadi lebih pekat. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi pembentukan batu ginjal. Studi epidemiologi global menunjukkan bahwa wilayah dengan suhu rata-rata lebih tinggi memiliki prevalensi batu ginjal yang lebih tinggi secara signifikan.

Faktor tambahan dari pola makan dan gaya hidup di tempat beriklim panas

Selain faktor fisiologis, gaya hidup di negara beriklim panas juga berkontribusi. Misalnya:

  • Konsumsi minuman manis untuk mengatasi haus.
  • Asupan garam tinggi yang memperburuk ekskresi kalsium.
  • Kurangnya kesadaran hidrasi yang cukup.

Penelitian menyoroti bahwa kombinasi suhu tinggi dan pola makan tertentu memperparah risiko batu ginjal, terutama di negara berkembang.

Dampak dari perubahan iklim global

Ilustrasi seorang pasien penderita batu ginjal.
ilustrasi seorang pasien penderita batu ginjal (freepik.com/lifestylememory)

Yang menarik, tren ini tidak statis. Dengan meningkatnya suhu global akibat perubahan iklim, risiko batu ginjal diprediksi akan meningkat secara global.

Sebuah studi memperkirakan bahwa kenaikan suhu global dapat meningkatkan prevalensi batu ginjal hingga jutaan kasus tambahan dalam beberapa dekade mendatang, terutama di wilayah yang sudah panas.

Batu ginjal di negara beriklim panas bukan sekadar kebetulan geografis, melainkan hasil dari mekanisme biologis yang dipicu oleh suhu tinggi. Dehidrasi, penurunan volume urine, dan perubahan keseimbangan tubuh menjadi kombinasi yang mempercepat pembentukan batu.

Kabar baiknya, risiko ini sebenarnya bisa ditekan dengan intervensi sederhana—terutama menjaga hidrasi yang cukup setiap hari. Dalam konteks kesehatan masyarakat, edukasi tentang pentingnya minum air yang cukup di iklim panas menjadi langkah preventif yang sangat krusial dan berdampak besar.

Referensi

Gregory E. Tasian et al., “Daily Mean Temperature and Clinical Kidney Stone Presentation in Five U.S. Metropolitan Areas: A Time-Series Analysis,” Environmental Health Perspectives 122, no. 10 (July 10, 2014): 1081–87, https://doi.org/10.1289/ehp.1307703.

National Kidney Foundation. “Kidney Stones.” Diakses April 2026.

Gregory E. Tasian et al., “Daily Mean Temperature and Clinical Kidney Stone Presentation in Five U.S. Metropolitan Areas: A Time-Series Analysis,” Environmental Health Perspectives 122, no. 10 (July 10, 2014): 1081–87, https://doi.org/10.1289/ehp.1307703.

Victoriano Romero, Haluk Akpinar, and Dean G Assimos, “Kidney Stones: A Global Picture of Prevalence, Incidence, and Associated Risk Factors,” n.d., https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2931286/.

Charles D. Scales et al., “Prevalence of Kidney Stones in the United States,” European Urology 62, no. 1 (March 31, 2012): 160–65, https://doi.org/10.1016/j.eururo.2012.03.052.

Jovanna Rosen, “Climate, Environmental Health Vulnerability, and Physical Planning,” Journal of Planning Literature 31, no. 1 (September 6, 2015): 3–22, https://doi.org/10.1177/0885412215603769.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More