Betis yang mendapat julukan jantung kedua bukan cuma relevan untuk atlet, tetapi juga untuk siapa pun yang menjalani aktivitas harian. Duduk terlalu lama, kurang bergerak, atau jarang berjalan dapat menurunkan efektivitas pompa otot betis.
Para ahli terus-menerus mengingatkan akan pentingnya aktivitas fisik ringan untuk menjaga sirkulasi, termasuk berjalan secara rutin. Aktivitas sederhana ini sudah cukup untuk menghidupkan kembali fungsi betis sebagai pompa.
Dengan kata lain, menjaga kesehatan betis berarti ikut menjaga kesehatan jantung dan sistem peredaran darah secara keseluruhan.
Otot betis punya peran penting dalam sistem sirkulasi. Tanpa bantuan mekanisme ini, tubuh akan kesulitan menjaga aliran darah tetap efisien, terutama dari bagian bawah.
Menjaga betis tetap aktif melalui aktivitas fisik sederhana adalah investasi kecil dengan dampak besar. Dalam tubuh yang terus bergerak, setiap langkah bukan hanya membawa kita maju, tetapi juga membantu darah kembali ke pusat kehidupan, yaitu jantung.
Referensi
M. H. Laughlin, “Skeletal Muscle Blood Flow Capacity: Role of Muscle Pump in Exercise Hyperemia,” American Journal of Physiology-Heart and Circulatory Physiology 253, no. 5 (November 1, 1987): H993–1004, https://doi.org/10.1152/ajpheart.1987.253.5.h993.
Steven S. Segal, “Regulation of Blood Flow in the Microcirculation,” Microcirculation 12, no. 1 (January 2, 2005): 33–45, https://doi.org/10.1080/10739680590895028.
Cestmir Recek, “Calf Pump Activity Influencing Venous Hemodynamics in the Lower Extremity,” International Journal of Angiology 22, no. 01 (February 6, 2013): 023–030, https://doi.org/10.1055/s-0033-1334092.
Michael J. Joyner and Daniel J. Green, “Exercise Protects the Cardiovascular System: Effects Beyond Traditional Risk Factors,” The Journal of Physiology 587, no. 23 (September 8, 2009): 5551–58, https://doi.org/10.1113/jphysiol.2009.179432.
American Heart Association. “Physical Activity and Circulation.” Diakses Mei 2026.