Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Gigitan Nyamuk Masih Terasa Gatal setelah Beberapa Hari?
ilustrasi gatal (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Air liur nyamuk mengandung protein dan enzim yang memicu sistem imun bereaksi, menyebabkan rasa gatal serta pembengkakan di area gigitan.
  • Sisa protein air liur tetap di kulit dan memicu reaksi hipersensitivitas tertunda, membuat gatal bertahan hingga beberapa hari setelah gigitan.
  • Menggaruk memperparah gatal karena merusak kulit, memicu pelepasan histamin tambahan, dan membuka risiko infeksi bakteri sekunder.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gigitan nyamuk berlangsung kurang dari satu menit. Tapi rasa gatal yang ditinggalkannya bisa bertahan dua hingga tiga hari, bahkan lebih.

Kebanyakan orang mengira itu karena lukanya belum sembuh. Padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih kompleks daripada itu. Penasaran kenapa bekas gigitan nyamuk masih terasa gatal setelah beberapa hari? Yuk, scroll sampai habis artikel ini untuk menemukan jawabannya!

1. Sesuatu yang masuk ke kulitmu bukan sekadar gigitan

ilustrasi gigitan nyamuk (pexels.com/Jimmy Chan)

Nyamuk betina tidak langsung menghisap darah saat probosisnya menembus kulit. Probosis adalah organ mulut nyamuk yang berbentuk seperti jarum panjang tipis, alat yang ia gunakan untuk menembus kulit dan menjangkau pembuluh darah. Sebelum menghisap, nyamuk menyuntikkan air liurnya terlebih dahulu ke dalam jaringan kulit untuk mencegah darah membeku selama proses penghisapan berlangsung.

Air liur nyamuk bukan cairan biasa. Di dalamnya terkandung campuran protein, enzim antikoagulan (zat yang mencegah pembekuan darah), dan senyawa vasodilatasi (zat yang membuat pembuluh darah melebar agar darah lebih mudah mengalir). Protein-protein asing inilah yang kemudian dikenali tubuh sebagai antigen, yaitu zat dari luar yang dianggap berpotensi membahayakan. Dari sinilah seluruh reaksi yang kamu rasakan sebagai gatal itu dimulai.

2. Sistem imun merespons lebih keras dari yang diperlukan

ilustrasi gigitan nyamuk (pexels.com/Jimmy Chan)

Begitu antigen dari air liur nyamuk terdeteksi, sel mast yang tersebar di jaringan kulit langsung bereaksi. Sel mast adalah sel imun yang bertugas sebagai penjaga pertama di jaringan tubuh, selalu siaga mendeteksi zat asing yang masuk. Sel-sel ini kemudian melepaskan histamin dalam jumlah besar ke area sekitar gigitan.

Histamin sendiri merupakan sebutan untuk senyawa kimia yang menjadi sinyal darurat sistem imun. Cara kerjanya dengan mengikat reseptor H1, yaitu titik penerima sinyal khusus yang ada di ujung saraf sensorik kulit. Begitu histamin menempel di reseptor itu, saraf mengirimkan pesan ke otak dan otak menerjemahkannya sebagai sensasi gatal. Histamin juga menyebabkan vasodilatasi lokal, pelebaran pembuluh darah kecil di sekitar titik gigitan, yang menghasilkan benjolan kemerahan yang terasa hangat dan membengkak itu.

3. Reaksi tidak berhenti saat nyamuk pergi

ilustrasi gigitan nyamuk (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Banyak yang mengira begitu nyamuk terbang, proses gatalnya akan segera mereda. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Sisa protein air liur nyamuk masih tertinggal di jaringan kulit dan terus diperlakukan sebagai ancaman aktif oleh sistem imun. Sel-sel imun seperti limfosit T, yaitu sel darah putih yang bertugas mengenali dan menghancurkan zat asing spesifik, terus berdatangan ke lokasi gigitan untuk memproses antigen yang tersisa.

Proses ini dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau dalam istilah medis disebut delayed-type hypersensitivity, artinya reaksi alergi yang tertunda dan baru mencapai puncaknya beberapa jam hingga beberapa hari setelah paparan pertama. Berbeda dengan reaksi alergi cepat yang selesai dalam hitungan menit, jenis reaksi ini memang bekerja secara bertahap dan menyeluruh. Selama proses itu belum tuntas, produksi histamin terus berlangsung dan sinyal gatal terus dikirimkan ke otak.

4. Menggaruk memperpanjang durasi gatal secara kimiawi

ilustrasi menggaruk kulit (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

Menggaruk memberikan sensasi lega sesaat karena tekanan dari kuku menginterupsi transmisi sinyal gatal di saraf, semacam mengganggu jalur komunikasi antara kulit dan otak untuk beberapa detik. Tapi efek lega pasca menggaruk ternyata tidak bertahan lama. Begitu kamu berhenti, sinyal gatal kembali dikirim, bahkan dengan intensitas yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Gesekan dari garukan secara fisik merusak lapisan epidermis, yaitu lapisan terluar kulit yang berfungsi sebagai pelindung utama tubuh. Kerusakan sel kulit ini memicu sel mast di sekitarnya untuk melepaskan histamin tambahan, sehingga gatal yang kamu rasakan setelah menggaruk justru lebih parah. Lebih jauh lagi, kulit yang tergores membuka jalur masuk bagi bakteri oportunistik seperti Staphylococcus aureus, bakteri yang sebenarnya hidup normal di permukaan kulit, tapi bisa menyebabkan infeksi serius jika masuk ke lapisan yang lebih dalam. Infeksi sekunder inilah yang bisa mengubah gigitan nyamuk biasa menjadi luka yang butuh waktu berminggu-minggu untuk sembuh.

5. Intensitas dan durasi gatal ditentukan oleh riwayat imun

ilustrasi menggaruk kulit (vecteezy.com/kitsanaphong burarat)

Tidak semua orang mengalami reaksi yang sama meski digigit nyamuk yang sama. Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh seberapa sering sistem imun seseorang sebelumnya terpapar protein air liur nyamuk. Anak-anak yang belum banyak terpapar cenderung mengalami reaksi lebih intens karena sistem imun mereka bereaksi berlebihan terhadap antigen yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Sebaliknya, orang dewasa yang tumbuh di daerah dengan populasi nyamuk tinggi sering kali mengembangkan toleransi parsial, yaitu kondisi di mana sistem imun sudah hafal protein tertentu sehingga tidak lagi merespons setinggi pertama kali. Faktor genetik yang memengaruhi sensitivitas reseptor H1 juga berperan besar dalam menentukan seberapa lama histamin tetap aktif di jaringan. Ini menjelaskan kenapa dua orang yang digigit nyamuk yang sama di waktu yang sama bisa mengalami durasi dan intensitas gatal yang sangat berbeda satu sama lain.

Gigitan nyamuk masih terasa gatal setelah beberapa hari bukanlah pertanda ada yang salah dengan tubuhmu. Itu adalah bukti bahwa sistem imunmu bekerja persis seperti yang seharusnya, memproses setiap zat asing dengan serius sampai tuntas. Memahami mekanisme di baliknya bisa membantumu mengambil keputusan yang lebih tepat, mulai dari menghindari kebiasaan menggaruk hingga memilih antihistamin yang sesuai saat gejalanya terasa mengganggu.

Referensi

"Mosquito Bites." Cleveland Clinic. Diakses pada April 2026

"Update on mosquito bite reaction: Itch and hypersensitivity, pathophysiology, prevention, and treatment." Frontiers in Immunology. Diakses pada April 2026

"Here's Why Mosquito Bites Itch for Such a Long Time." Live Science. Diakses pada April 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team