Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Bakteri yang Bisa Menyebar di Toilet dan Cara Mencegahnya

7 Bakteri yang Bisa Menyebar di Toilet dan Cara Mencegahnya
ilustrasi toilet umum (vecteezy.com/roberto moratore)
Intinya Sih
  • Toilet dapat menjadi sumber penyebaran berbagai bakteri seperti E. coli, Salmonella, Shigella, C. difficile, Staphylococcus aureus, Enterococcus, dan Pseudomonas aeruginosa melalui tinja, kulit, air, serta permukaan sentuhan.

  • Penyebaran bakteri terjadi lewat aerosol saat flush dan kontak tangan dengan permukaan terkontaminasi seperti tombol flush, keran wastafel, gagang pintu, serta dispenser sabun.

  • Pencegahan efektif meliputi menutup toilet sebelum flush, mencuci tangan minimal 20 detik dengan sabun, membersihkan area sering disentuh, menyimpan sikat gigi jauh dari toilet, dan memakai disinfektan sesuai anjuran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Toilet adalah salah satu tempat yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang fokus pada kebersihan toilet. Namun, ancaman dari toilet sering kali tidak terlihat.

Setiap kali seseorang menggunakan toilet, jutaan mikroorganisme ikut masuk dan keluar dari lingkungan tersebut. Sebagian berasal dari tinja, sebagian dari kulit manusia, dan sebagian lagi dari udara atau air. Ketika tombol flush ditekan, mikroorganisme dapat menyebar ke udara dalam bentuk tetesan mikroskopis yang dikenal sebagai toilet plume.

Kabar baiknya, sebagian besar paparan bakteri di toilet tidak otomatis menyebabkan penyakit karena tubuh punya sistem pertahanan yang baik. Namun, memahami apa saja bakteri yang dapat ditemukan di toilet penting, terutama untuk melindungi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan sistem imun yang lemah.

Table of Content

Bagaimana bakteri bisa menyebar di toilet

Bagaimana bakteri bisa menyebar di toilet

Penelitian menunjukkan, menyiram toilet dapat menghasilkan aerosol yang mengandung mikroorganisme dari isi mangkuk toilet. Partikel-partikel ini dapat menyebar ke udara dan mengendap pada permukaan di sekitarnya, termasuk dudukan toilet, tombol flush, gagang pintu, wastafel, lantai, bahkan benda pribadi seperti sikat gigi jika disimpan terlalu dekat.

Namun, para ahli menegaskan bahwa jalur penularan paling umum tetap melalui tangan yang terkontaminasi lalu menyentuh mulut, hidung, atau makanan.

1. Escherichia coli

Escherichia coli (E. coli) secara alami hidup di usus manusia dan hewan. Sebagian besar strain tidak berbahaya dan bahkan membantu proses pencernaan. Yang jadi masalah adalah ketika strain tertentu berpindah ke tempat yang tidak semestinya atau ketika seseorang terpapar jenis E. coli yang patogen.

Karena berasal dari tinja, E. coli dapat ditemukan pada mangkuk toilet, dudukan toilet, tombol flush, dan tangan yang tidak dicuci dengan benar.

Beberapa strain patogen dapat menyebabkan:

  • Diare.
  • Kram perut.
  • Muntah.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Infeksi ginjal.

Strain seperti E. coli O157:H7 bahkan dapat menyebabkan komplikasi serius berupa hemolytic uremic syndrome (HUS), terutama pada anak-anak.

2. Salmonella

Gambar mikroskop elektron memperlihatkan beberapa sel bakteri Salmonella berbentuk batang dengan permukaan bertekstur halus.
ilustrasi bakteri Salmonella (en.wikipedia.org/Volker Brinkmann)

Salmonella lebih dikenal sebagai bakteri yang berhubungan dengan makanan terkontaminasi, seperti telur atau daging yang tidak matang sempurna. Akan tetapi, bakteri ini juga dapat ditemukan dalam tinja orang yang terinfeksi dan kemudian mencemari lingkungan toilet.

Bakteri ini perlu diwaspadai karena mampu bertahan hidup cukup lama pada berbagai permukaan.

Infeksi Salmonella dapat menyebabkan:

  • Diare.
  • Demam.
  • Nyeri perut.
  • Dehidrasi.

Pada kelompok rentan, infeksi dapat menyebar ke aliran darah dan menjadi kondisi yang serius.

3. Shigella

Shigella merupakan salah satu penyebab diare menular yang paling mudah menyebar dari manusia ke manusia. Yang membuat Shigella unik adalah jumlah bakteri yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi sangat sedikit.

Cara penularannya adalah lewat kontak dengan partikel tinja dalam jumlah mikroskopis.

Toilet umum, fasilitas penitipan anak, atau rumah tangga dengan anggota keluarga yang sedang diare berpotensi menjadi tempat penyebaran.

Gejala infeksi Shigella antara lain:

  • Diare berdarah.
  • Kram perut.
  • Demam.
  • Mual.

Shigellosis masih menjadi penyebab penting penyakit diare di berbagai negara.

4. Clostridioides difficile

Clostridioides difficile (C. difficile) menghasilkan spora yang sangat tahan terhadap kondisi lingkungan. Berbeda dengan banyak bakteri lain yang mudah mati oleh pembersih biasa, spora C. difficile dapat bertahan selama berbulan-bulan pada permukaan.

Bakteri ini dapat menyebabkan:

  • Diare berat.
  • Radang usus besar.
  • Komplikasi serius setelah penggunaan antibiotik.

Kelompok yang paling berisiko adalah lansia, pasien rumah sakit, dan orang-orang yang baru menjalani terapi antibiotik.

5. Staphylococcus aureus

Citra mikroskop elektron memperlihatkan koloni bakteri Staphylococcus aureus berwarna ungu pada permukaan berwarna hijau.
Bakteri Staphylococcus aureus (phil.cdc.gov/Janice Haney Carr)

Tidak semua bakteri toilet berasal dari feses. Staphylococcus aureus sering berasal dari kulit, hidung, atau tangan manusia. Karena banyak orang menyentuh permukaan toilet, bakteri ini dapat berpindah ke berbagai benda yang sering disentuh.

Staphylococcus aureus dapat menyebabkan:

  • Infeksi kulit.
  • Bisul.
  • Infeksi luka.
  • Pneumonia.
  • Infeksi aliran darah pada kasus tertentu.

Beberapa strain yang resistan terhadap antibiotik, seperti MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus), menjadi perhatian khusus di fasilitas kesehatan.

6. Enterococcus

Enterococcus merupakan penghuni normal saluran pencernaan. Dalam kondisi tertentu, bakteri ini dapat keluar dari habitat aslinya dan menyebabkan penyakit.

Penyakit yang dapat terjadi akibat infeksi Enterococcus di antaranya:

  • Infeksi saluran kemih.
  • Infeksi luka.
  • Infeksi darah.
  • Endokarditis (infeksi lapisan jantung).

Keberadaan Enterococcus pada permukaan toilet sering digunakan sebagai indikator kontaminasi tinja dalam penelitian lingkungan.

7. Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa menyukai lingkungan yang lembap. Jadi, bakteri ini dapat ditemukan di wastafel, saluran pembuangan, area basah di toilet, dan spons pembersih.

Pada orang sehat, risiko infeksi relatif rendah. Akan tetapi, pada individu dengan daya tahan tubuh lemah, Pseudomonas dapat menyebabkan:

  • Infeksi kulit.
  • Infeksi paru.
  • Infeksi luka.
  • Infeksi aliran darah.

Bakteri ini juga terkenal karena kemampuannya bertahan terhadap banyak antibiotik.

Apa benda di toilet yang paling terkontaminasi?

Tombol flush toilet berwarna krom di atas tangki toilet putih dengan latar dinding keramik abu-abu di kamar mandi.
ilustrasi tombol flush toilet (pexels.com/Алексей Вечерин)

Kalau jawabanmu adalah dudukan toilet, kamu salah. Permukaan yang justru lebih sering menjadi sumber perpindahan bakteri adalah:

  • Tombol flush.
  • Keran wastafel.
  • Gagang pintu.
  • Dispenser sabun.

Alasannya karena benda-benda tersebut disentuh banyak tangan sebelum dicuci.

Cara mengurangi risiko terpapar bakteri di toilet

  • Tutup toilet sebelum flush. Penelitian menunjukkan bahwa menutup tutup toilet sebelum menyiram dapat mengurangi penyebaran aerosol yang membawa mikroorganisme.
  • Cuci tangan dengan sabun. Cuci tangan merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif untuk mencegah penyakit menular. Lakukan minimal 20 detik dengan sabun dan air mengalir.
  • Bersihkan permukaan yang sering disentuh. Fokuslah pada tombol flush, keran, gagang pintu, dan sakelar lampu. Area-area ini sering menjadi titik perpindahan bakteri.
  • Simpan sikat gigi jauh dari toilet. Jika memungkinkan: simpan dalam lemari tertutup, beri jarak dari mangkuk toilet, dan hindari menyimpan sikat gigi dalam keadaan terbuka tepat di samping toilet.
  • Gunakan disinfektan yang tepat. Tidak semua produk pembersih memiliki kemampuan yang sama terhadap semua mikroorganisme. Untuk lingkungan berisiko tinggi, ikuti petunjuk penggunaan disinfektan yang direkomendasikan otoritas kesehatan.

Berbagai bakteri seperti E. coli, Salmonella, Shigella, C. difficile, Staphylococcus aureus, Enterococcus, dan Pseudomonas aeruginosa dapat ditemukan di lingkungan toilet melalui tinja, kulit, air, maupun permukaan yang sering disentuh.

Terdengar mengkhawatirkan, ya? Namun, risiko terbesar justru muncul ketika kamu mengabaikan kebersihan tangan. Jadi, strategi terbaik adalah memahami bagaimana bakteri menyebar dan memutus rantai penularannya lewat praktik cuci tangan, membersihkan permukaan yang sering disentuh, serta rutin membersihkant toilet.

Referensi

E.L. Best, J.A.T. Sandoe, and M.H. Wilcox, “Potential for Aerosolization of Clostridium Difficile After Flushing Toilets: The Role of Toilet Lids in Reducing Environmental Contamination Risk,” Journal of Hospital Infection 80, no. 1 (December 7, 2011): 1–5, https://doi.org/10.1016/j.jhin.2011.08.010.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “About E. coli Infection.” Accessed June 14, 2026. https://www.cdc.gov/ecoli/index.html.

CDC. “About Salmonella Infection.” Accessed June 14, 2026. https://www.cdc.gov/salmonella/.

CDC. “About Clostridioides difficile.” Accessed June 14, 2026. https://www.cdc.gov/c-diff/.

David L. Johnson et al., “Lifting the Lid on Toilet Plume Aerosol: A Literature Review With Suggestions for Future Research,” American Journal of Infection Control 41, no. 3 (October 5, 2012): 254–58, https://doi.org/10.1016/j.ajic.2012.04.330.

Samantha D. Knowlton et al., “Bioaerosol Concentrations Generated From Toilet Flushing in a Hospital-based Patient Care Setting,” Antimicrobial Resistance and Infection Control 7, no. 1 (January 26, 2018): 16, https://doi.org/10.1186/s13756-018-0301-9.

David Johnson et al., “Aerosol Generation by Modern Flush Toilets,” Aerosol Science and Technology 47, no. 9 (June 18, 2013): 1047–57, https://doi.org/10.1080/02786826.2013.814911.

Murray, Patrick R., Ken S. Rosenthal, and Michael A. Pfaller. "Medical Microbiology. 9th ed." Philadelphia: Elsevier, 2020.

World Health Organization. “Shigellosis.” Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nena Zakiah
Nuruliar F
3+
Nena Zakiah
EditorNena Zakiah

Related Articles

See More