Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Cara Memilih Camilan Rendah Gula dari Label Kemasan yang Benar

5 Cara Memilih Camilan Rendah Gula dari Label Kemasan yang Benar
ilustrasi makan camilan (.freepik.com/freepikI)
Intinya Sih
  • Banyak camilan berlabel 'rendah gula' ternyata tetap mengandung pemanis tersembunyi, sehingga penting membaca label gizi secara menyeluruh sebelum membeli.
  • Takaran saji dan urutan bahan pada label sering diabaikan, padahal keduanya menentukan seberapa besar kandungan gula sebenarnya dalam satu kemasan.
  • Mengenali istilah lain dari gula serta membandingkan produk sejenis membantu konsumen memilih camilan yang benar-benar rendah gula dan sesuai kebutuhan tubuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat memilih camilan di minimarket atau supermarket, banyak yang langsung tergoda dengan klaim seperti “lebih sehat”, atau tanpa “tambahan gula” yang terpampang jelas di bagian depan kemasan. Sekilas, klaim tersebut memang terdengar meyakinkan, tetapi kenyataannya tidak semua produk memiliki kandungan gula serendah yang dibayangkan. Jika tidak teliti membaca informasi pada label kemasan, camilan yang terlihat sehat justru bisa menyumbang asupan gula lebih banyak dari yang diperkirakan.

Di tengah semakin banyaknya pilihan camilan di pasaran, kemampuan membaca label kemasan menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Informasi seperti jumlah gula per sajian, ukuran porsi, hingga daftar bahan sering kali menyimpan petunjuk yang membantu dalam menentukan apakah suatu produk layak masuk keranjang belanja atau tidak. Agar tidak mudah terkecoh oleh tampilan kemasan dan bisa memilih camilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan, simak lima cara memilih camilan rendah gula dari label kemasan berikut ini.

1. Tertipu klaim “rendah gula” di depan kemasan

ilustrasi snack kemasan di minimarket
ilustrasi snack kemasan di minimarket (pexels.com/Kenneth Surillo)

Banyak orang langsung memasukkan camilan ke keranjang hanya karena label “rendah gula” terlihat jelas di bagian depan kemasan. Sekilas, tulisan tersebut memang terdengar meyakinkan dan membuat produk tersebut tampak lebih sehat dibanding pilihan lainnya. Masalahnya klaim di kemasan sering tidak mencerminkan jumlah gula sebenarnya yang terkandung di dalam produk tersebut.

Beberapa camilan tetap memiliki gula tambahan dari bahan lain seperti sirup, maltosa, atau pemanis tersembunyi. Jika tidak membaca detail informasi gizi, konsumsi gula harian bisa jadi tetap tinggi tanpa disadari. Karena itu, penting untuk tidak berhenti di bagian depan kemasan saja, melainkan lanjut mengecek label nutrisi secara menyeluruh.

2. Mengabaikan informasi takaran saji

ilustrasi membeli camilan di supermarket
ilustrasi membeli camilan di supermarket (unsplash.com/Dollar Gill)

Saat melihat tabel nutrisi, banyak orang yang cenderung langsung terpaku pada angka gula tanpa memperhatikan takaran sajian. Padahal, satu kemasan sering kali terdiri dari lebih dari satu porsi sehingga angka gula yang terlihat lebih kecil dari konsumsi sebenarnya. Hal ini cukup sering terjadi karena banyak yang mengira satu bungkus camilan otomatis dihitung sebagai satu kali makan.

Akibatnya, asupan gula yang masuk bisa berlipat tanpa disadari ketika camilan habis dalam sekali makan. Hal ini tentu bisa berdampak pada pola makan harian yang tidak terkontrol. Maka dari itu, selalu cek bagian “serving size” sebelum mempercayai angka gula di label kemasan.

3. Tidak mengecek urutan bahan pada komposisi

ilustrasi membaca label kemasan produk
ilustrasi membaca label kemasan produk (magnific.com/freepik)

Saat membaca label, banyak orang hanya melihat jumlah gula tanpa memperhatikan daftar bahan. Padahal, urutan bahan biasanya menunjukkan komposisi terbanyak dalam produk tersebut. Jika gula atau sirup berada di urutan awal, artinya kandungan tersebut cukup dominan dalam camilan itu.

Kondisi ini sering tidak disadari karena kemasan biasanya lebih menonjolkan klaim sehat di bagian depan. Akibatnya, orang bisa merasa sudah memilih produk yang lebih baik, padahal belum tentu kandungannya benar-benar sesuai harapan. Supaya lebih aman, biasakan untuk membaca daftar bahan secara lengkap sebelum memutuskan membeli.

4. Mengabaikan istilah gula tersembunyi

ilustrasi camilan yang dibuka
ilustrasi camilan yang dibuka (pexels.com/Mikhail Nilov)

Banyak orang tidak menyadari bahwa gula tidak selalu tertulis dengan nama “gula” saja pada label kemasan. Ada berbagai istilah lain seperti fruktosa, glukosa, dekstrosa, hingga sirup jagung yang tetap termasuk dalam kategori gula. Hal ini membuat konsumen sering merasa produk tersebut rendah gula karena tidak menemukan kata “gula” secara langsung.

Kalau dihitung secara keseluruhan, berbagai jenis pemanis tersebut tetap bisa memberikan asupan gula yang cukup tinggi. Hal ini sering membuat orang salah menilai seberapa sehat sebenarnya sebuah camilan. Karena itu, penting untuk mengenali berbagai istilah lain dari gula agar tidak mudah terkecoh.

5. Tidak membandingkan dengan produk sejenis

ilustrasi camilan
ilustrasi camilan (pexels.com/Diego Girón)

Saat memilih camilan, banyak orang cenderung langsung mengambil produk tanpa sempat membandingkannya dengan pilihan lain di rak. Padahal, camilan dengan jenis yang sama bisa punya kadar gula yang cukup berbeda tergantung merek dan komposisinya. Hal ini sering terjadi karena kemasan yang menarik atau promo yang terlihat lebih menggoda membuat keputusan jadi lebih cepat.

Akibatnya, pilihan yang diambil belum tentu yang paling rendah gula di antara opsi yang tersedia. Dengan sedikit membandingkan label kemasan, seseorang bisa menemukan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh. Jadi, meluangkan waktu sebentar untuk cek beberapa pilihan bisa membuat keputusan jauh lebih bijak.

Memilih camilan rendah gula ternyata tidak cukup hanya melihat klaim di bagian depan kemasan. Banyak hal kecil seperti takaran sajian, urutan bahan, hingga nama lain dari gula yang perlu diperhatikan agar tidak salah pilih. Jadi, sebelum mengambil camilan berikutnya, sempatkan sedikit waktu untuk membaca labelnya supaya pilihan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan dan tetap enak dinikmati.

Referensi

“Kemampuan Membaca Label Gizi dengan Konsumsi Makanan dan Minuman Kemasan Tinggi Gula.” Jurnal Kesehatan Masyarakat/Repository Universitas Indonesia. Diakses Juni 2026.

“Sikap dan Perilaku Membaca Informasi Gizi pada Label Pangan serta Pemilihan Pangan Kemasan.” Media Gizi Indonesia (Universitas Airlangga). Diakses Juni 2026.

“Pemahaman dan Penerimaan Label Gizi Front of Pack Produk Snack oleh Siswa SMA.” Jurnal Mutu Pangan, IPB University. Diakses Juni 2026.

“Persepsi dan Perilaku Membaca Label Pangan dan Informasi Gizi pada Siswa.” Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. Diakses Juni 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More