ilustrasi seorang dokter menjelaskan hasl lab ginjal kepada pasien (pexels.com/cottonbro studio)
Temuan ini tidak berarti bahwa jutaan orang dengan hasil eGFR normal sebenarnya mengidap penyakit ginjal. Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi ginjal sebaiknya tidak cuma dinilai berdasarkan satu angka batas universal. Konteks usia dan jenis kelamin juga penting.
Dalam praktik klinis saat ini, salah satu pemeriksaan penting untuk mendeteksi kerusakan ginjal dini adalah tes albumin urine atau urine albumin-to-creatinine ratio (uACR). Tes ini dapat menemukan kebocoran protein yang sering muncul jauh sebelum fungsi ginjal turun drastis.
Namun, studi tersebut menemukan bahwa di antara orang-orang yang memiliki eGFR di atas 60 tetapi berada di bawah persentil ke-25 untuk kelompok usia dan jenis kelaminnya, hanya sekitar satu dari empat yang menjalani pemeriksaan albumin urine lanjutan.
Dengan kata lain, ada peluang untuk mendeteksi risiko lebih dini yang mungkin belum dimanfaatkan secara optimal.
Hal ini sangat penting karena penyakit ginjal kronis sering berkembang diam-diam.
Menurut berbagai estimasi global, sekitar 10–15 persen orang dewasa hidup dengan penyakit ginjal kronis, dan banyak di antaranya baru tahu kondisinya setelah kehilangan sebagian besar fungsi ginjal. Penyakit ini bahkan diperkirakan akan menjadi salah satu dari lima penyebab utama hilangnya tahun kehidupan pada 2040.
Karena itu, para peneliti mengembangkan alat daring berbasis persentil eGFR yang memungkinkan tenaga kesehatan membandingkan hasil pasien dengan populasi seusia dan sejenis kelamin. Tujuannya bukan untuk menggantikan pemeriksaan yang sudah ada, melainkan membantu mengidentifikasi orang yang mungkin membutuhkan evaluasi lebih lanjut lebih awal.
Bagi masyarakat umum, pesan penelitian ini adalah jangan terpaku pada label "normal" atau "tidak normal" saat membaca hasil laboratorium. Riwayat kesehatan, tekanan darah, diabetes, kadar albumin urine, usia, dan faktor risiko lain tetap perlu dipertimbangkan bersama-sama.
Temuan ini membuka peluang agar risiko penyakit ginjal dapat dikenali lebih cepat, ketika intervensi masih memiliki kesempatan terbesar untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.
Referensi
Yuanhang Yang et al., “Population-based Estimated Glomerular Filtration Rate Distributions and Associated Health Outcomes Provide Opportunities for Early Identification of and Primary Prevention of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 109, no. 3 (January 21, 2026): 559–68, https://doi.org/10.1016/j.kint.2025.11.009.
Pierre Delanaye and Christophe Mariat, “Percentiles of Estimating Glomerular Filtration Rate: A New Personalized Tool for Detection of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 109, no. 3 (February 19, 2026): 436–38, https://doi.org/10.1016/j.kint.2025.12.010.
Science Daily. "Doctors may be missing early signs of kidney disease." Diakses Juni 2026.
Karolinska Institutet. “eGFR Percentile Explorer.” Diakses Juni 2026.