Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

High Functioning Anxiety: Penyebab, Karakteristik, dan Perawatan

High Functioning Anxiety: Penyebab, Karakteristik, dan Perawatan
ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Gangguan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental paling umum yang dialami masyarakat dunia, dengan spektrum keparahan yang bervariasi. Orang dengan gangguan mental ini biasanya menunjukkan efek kecemasan seperti mengembangkan rasa takut atau khawatir berlebihan yang memengaruhi kehidupannya.

Namun, pada kasus lain, ada orang dengan gangguan kecemasan yang dari luar tampak baik-baik saja. Mereka cenderung memperlihatkan kehidupan yang tenang dan sukses, khususnya dalam kegiatan sosial. Keadaan ini menggambarkan high functioning anxietydi mana individu yang hidup dengan gangguan kecemasan terdorong untuk “berfungsi dengan baik” dalam berbagai aspek kehidupan.

Menarik untuk disimak, yuk, kenali fakta menarik tentang high functioning anxiety di bawah ini!

1.Apa itu high functioning anxiety?

ilustrasi seseorang dengan high functioning anxiety (pexels.com/August de Richelieu)
ilustrasi seseorang dengan high functioning anxiety (pexels.com/August de Richelieu)

Beberapa orang dengan high functioning anxiety menggambarkan diri mereka sebagai orang yang berhasil menunjukkan citra baik dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin sering datang ke tempat kerja lebih awal dengan tampilan necis. Selain itu, mereka pun tidak pernah gagal dan melewatkan tenggat waktu dalam menjalankan tugas.

Dilansir The South African College of Applied Psychology, individu dengan high functioning anxiety selalu bersedia membantu orang lain saat diminta meskipun jadwalnya sangat padat. Apa yang tampak di luar nyatanya tidak mewakili apa yang terjadi di dalam, karena pada dasarnya individu yang bersangkutan sedang melawan gejolak kecemasan.

Tidak jarang, pemikiran takut gagal dan takut mengecewakan sering menyelimuti, sehingga mereka terdorong untuk melakukan berbagai hal yang konteksnya positif untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

2. Karakteristik positif

ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/RODNAE Productions)
ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/RODNAE Productions)

Jika mengacu pada sisi objektivitas, individu dengan high functioning anxiety terlihat sebagai pribadi yang senantiasa proaktif. Adapun karakteristik yang sering dianggap positif mencakup:

  • Aktif, tertib, dan rapi.
  • Berkepribadian ramah.
  • Menepati waktu.
  • Terorganisir.
  • Berprestasi tinggi.
  • Berorientasi pada detail.
  • Tampak tenang.
  • Selalu bersemangat.
  • Loyalitas dalam hubungan.

3. Gejala negatif

ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/Andrew Neel)
ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/Andrew Neel)

Individu dengan high functioning anxiety secara internal tetap harus berjuang melawan kecemasan yang dirasakannya. Karakteristik negatif terkait high functioning anxiety di antaranya:

  • Terlalu banyak berpikir.
  • Menjadi people pleaser dengan selalu berusaha menyenangkan orang lain.
  • Menunjukkan tanda kegugupan dengan memainkan rambut atau menggigit bibir.
  • Sering melakukan hal-hal secara berulang.
  • Kebutuhan untuk diyakinkan.
  • Menghindari kontak mata.
  • Insomnia.
  • Kehidupan sosial terbatas.
  • Ketidakmampuan menikmati momen.
  • Kelelahan fisik dan mental.
  • Memiliki kecenderungan memikirkan hal-hal negatif, misalnya membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
  • Berpotensi melakukan penyalahgunaan alkohol atau obat terlarang sebagai metode coping yang tidak sehat.

4. Penyebab

ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/Vlad Bagacian)
ilustrasi high functioning anxiety (pexels.com/Vlad Bagacian)

Mengacu artikel pada laman National Institute of Mental Health, high functioning anxiety kemungkinan besar terjadi karena kombinasi beberapa faktor, yang bisa mencakup:

  • Genetika: Orang dengan riwayat gangguan kecemasan yang diturunkan dalam keluarga lebih mungkin mengembangkan kecemasan dalam berbagai jenis spektrumnya.
  • Kepribadian: Jika sedari kecil sudah mengembangkan rasa malu atau gugup dalam situasi baru, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan saat menginjak dewasa.
  • Paparan stresor (pemicu stres): Mengalami stres atau trauma pada titik kehidupan nyatanya bisa memicu kecemasan.
  • Penggunaan alkohol atau narkoba: Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang juga dapat memicu kecemasan pada beberapa orang.
  • Masalah kesehatan lain: Masalah kesehatan terkait penyakit fisik, seperti gangguan jantung atau tiroid, diyakini dapat memicu dan memperburuk gejala kecemasan. Selain itu, punya masalah kesehatan terkait mental juga menjadi faktor risiko high functioning anxiety berkembang.

5. Diagnosis

ilustrasi proses diagnosis oleh ahli (pexels.com/Alex Green)
ilustrasi proses diagnosis oleh ahli (pexels.com/Alex Green)

Karena high functioning anxiety bukan termasuk gangguan mental yang dikenal berdiri sendiri, profesional kesehatan mental mungkin akan kesulitan dalam menegakkan diagnosis. Akan tetapi, hal ini mungkin dikaitkan dengan spektrum kecemasan.

Sementara itu, untuk mengesampingkan kondisi medis lain yang menyebabkan kecemasan, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik.

Pada individu dengan high functioning anxiety, gangguannya tampak tidak terlalu jelas. Ada kemungkinan dampak yang dirasakan memengaruhi kualitas hidup dengan cara yang tidak terlalu signifikan. Oleh karena itu, konsultasi dengan profesional kesehatan akan sangat membantu.

6. Perawatan

ilustrasi sesi psikoterapi (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi sesi psikoterapi (pexels.com/cottonbro)

Pada dasarnya opsi perawatan akan bergantung pada hasil diagnosis. Adapun pengobatan yang umum untuk mengelola gejala kecemasan di antaranya:

  • Terapi perilaku kognitif.
  • Pemberian obat-obatan seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).
  • Anjuran untuk pelatihan kesadaran.

High functioning anxiety tetap menjadi masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Hindari mendiagnosis diri sendiri karena gejala yang mengindikasikan suatu kondisi mental bersifat kompleks dan butuh prosedur medis untuk diagnosis akurat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Bayu Aditya Suryanto
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

10 Penyebab Telapak Kaki Sakit setelah Lari, dari Sepatu hingga Cedera

03 Apr 2026, 17:29 WIBHealth