World Health Organization. "Coronavirus Disease (COVID-19) Symptoms." Diakses Maret 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. "COVID-19 Symptoms." Diakses Maret 2026.
Kenrie P. Y. Hui et al., “SARS-CoV-2 Omicron Variant Replication in Human Bronchus and Lung Ex Vivo,” Nature 603, no. 7902 (February 1, 2022): 715–20, https://doi.org/10.1038/s41586-022-04479-6.
Cristina Menni et al., “Symptom Prevalence, Duration, and Risk of Hospital Admission in Individuals Infected With SARS-CoV-2 During Periods of Omicron and Delta Variant Dominance: A Prospective Observational Study From the ZOE COVID Study,” The Lancet 399, no. 10335 (April 1, 2022): 1618–24, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(22)00327-0.
Ani Nalbandian et al., “Post-acute COVID-19 Syndrome,” Nature Medicine 27, no. 4 (March 22, 2021): 601–15, https://doi.org/10.1038/s41591-021-01283-z.
E. Moro et al., “The International European Academy of Neurology Survey on Neurological Symptoms in Patients With COVID‐19 Infection,” European Journal of Neurology 27, no. 9 (June 17, 2020): 1727–37, https://doi.org/10.1111/ene.14407.
COVID-19 Varian Cicada: Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala varian Cicada (BA.3.2) mirip Omicron, dominan di saluran napas atas.
Sebagian besar kasus ringan, tetapi tetap berisiko pada kelompok rentan.
Gejala bisa berbeda antar individu, tergantung imun dan status vaksinasi.
Varian virus penyebab COVID-19 terus berkembang, membawa perubahan kecil yang bisa memengaruhi cara virus menular dan menimbulkan gejala. Salah satu yang dibicarakan adalah varian “Cicada” dengan kode BA.3.2, bagian dari keluarga besar Omicron.
Meski belum menjadi varian dominan secara global, tetapi memahami gejalanya tetap penting. Mengenali tanda-tanda awal bisa membantu mencegah penularan lebih luas.
Berikut ini gejala umum COVID-19 varian Cicada.
Table of Content
1. Sakit tenggorokan
Salah satu gejala paling sering dilaporkan pada varian turunan Omicron adalah sakit tenggorokan. Pada BA.3.2, pola ini tampaknya tetap konsisten.
Varian Omicron cenderung menyerang saluran napas atas, sehingga gejala seperti tenggorokan kering, nyeri saat menelan, atau rasa “gatal” lebih dominan dibanding varian sebelumnya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa replikasi virus Omicron lebih banyak terjadi di bronkus dibanding jaringan paru dalam, yang menjelaskan kenapa gejalanya terasa seperti flu atau radang tenggorokan.
2. Batuk kering atau ringan

Batuk pada varian ini umumnya bersifat kering dan tidak terlalu berat, terutama pada kasus ringan. Ini berbeda dengan infeksi saluran napas bawah yang biasanya menghasilkan batuk berdahak.
Batuk tetap menjadi salah satu gejala utama COVID-19, termasuk pada subvarian Omicron. Namun, karena intensitasnya sering ringan, banyak orang tidak langsung mengaitkannya dengan infeksi COVID-19, terutama jika tidak disertai demam tinggi.
3. Pilek dan hidung tersumbat
Gejala seperti pilek dan hidung tersumbat lebih umum pada varian Omicron dan turunannya, termasuk BA.3.2.
Menurut studi, varian Omicron menunjukkan pola gejala yang lebih menyerupai infeksi saluran napas atas dibanding varian sebelumnya seperti Delta. Akibatnya, banyak kasus awal terlihat seperti flu biasa, sehingga risiko penularan meningkat karena penderita tetap beraktivitas.
4. Kelelahan dan nyeri otot

Rasa lelah yang tidak biasa dan nyeri otot juga sering dilaporkan. Ini merupakan respons tubuh terhadap infeksi virus dan aktivasi sistem imun.
Kelelahan pada COVID-19 berkaitan dengan respons inflamasi sistemik, yang dapat berlangsung bahkan setelah gejala lain mereda.
Pada beberapa orang, kelelahan ini bisa cukup mengganggu aktivitas harian meskipun gejala lain tergolong ringan.
5. Demam (tidak selalu tinggi)
Demam tetap menjadi gejala umum, tetapi pada varian Omicron, termasuk BA.3.2, suhu tubuh tidak selalu meningkat drastis.
Beberapa pasien hanya mengalami demam ringan atau bahkan tidak demam sama sekali, terutama jika sudah divaksinasi. Ini membuat infeksi lebih sulit dikenali tanpa tes, karena tidak selalu disertai tanda klasik seperti demam tinggi.
6. Sakit kepala

Sakit kepala menjadi salah satu gejala yang sering dilaporkan pada infeksi COVID-19 varian Omicron.
Sakit kepala pada COVID-19 berkaitan dengan respons inflamasi dan perubahan pada sistem saraf akibat infeksi virus.
Gejala ini bisa muncul sejak awal dan terkadang menjadi tanda pertama sebelum gejala lain berkembang.
7. Hilangnya penciuman dan perasa (lebih jarang)
Berbeda dengan varian awal COVID-19, kehilangan penciuman dan perasa (anosmia dan ageusia) lebih jarang terjadi pada Omicron dan turunannya. Perubahan ini kemungkinan terkait dengan perbedaan cara virus menginfeksi jaringan di saluran napas.
Meski lebih jarang, tetapi gejala ini tetap bisa muncul pada sebagian kasus dan tetap menjadi indikator khas infeksi COVID-19.
Gejala varian Cicada (BA.3.2) secara umum tidak jauh berbeda dari varian Omicron lainnya, diketahui lebih ringan, tetapi lebih mudah disalahartikan sebagai flu biasa. Jadi, penting untuk tetap waspada.
Memahami pola gejalanya membantu mengambil langkah lebih cepat, baik untuk isolasi maupun pemeriksaan, serta melindungi diri sendiri dan orang di sekitar.
Referensi

![[QUIZ] Pilihan Workout Gym Ungkap Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20251004/pexels-johnny-garcia-1041229-2011384_578acb59-8f12-4259-b6c5-fd10c0d342bb.jpg)






![[QUIZ] Dari Outfit Gym Kamu, Kami Bisa Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260222/13746_6ad6395a-d1b1-411c-825c-b6d6f4dfc0c3.jpg)



![[QUIZ] Dari Mesin Gym Favoritmu, Kami Bisa Tebak Karaktermu](https://image.idntimes.com/post/20260328/kobe-kian-clata-ogl329_snoi-unsplash_364c779e-b84e-4fb4-9db9-39d67f841b53.jpg)




