"Kalau mau mencegah, maka kita mesti periksa pada orang yang belum ada keluhan. Karena keluhan biasa muncul pada saat kanker sudah lanjut. Jadi kalau kita mau mencegah kanker ini, kita mesti periksa pada saat orang belum ada keluhan. Yang diperiksa adalah kelompok berisiko. Kita tahu bahwa kanker ini hasil dari multiple mutation, mutasi yang berulang-ulang," kata Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, FACG, FASGE, Kepala Human Cancer Research Centre IMERI FKUI.
Indonesia Ikuti Jejak Jepang-Taiwan Lakukan Skrining Kanker Kolorektal

- Kasus kanker kolorektal di Indonesia meningkat pesat, menjadi beban besar bagi masyarakat dan pemerintah, sehingga diperlukan deteksi dini melalui skrining pada kelompok berisiko sebelum muncul gejala.
- PB PGI bersama pakar Jepang dan Taiwan merumuskan peta jalan nasional skrining kanker kolorektal berbasis bukti untuk menekan angka kematian dan meningkatkan deteksi dini di Indonesia.
- Rekomendasi utama mencakup implementasi bertahap tes FIT, peningkatan mutu kolonoskopi, integrasi data nasional, edukasi publik, serta stratifikasi risiko guna efisiensi sumber daya kesehatan.
Dalam dua dekade terakhir, kasus kanker kolorektal meningkat. Ini merupakan kanker nomor 3 terbanyak pada perempuan dan kedua untuk laki-laki. Praktis, hal ini menjadi beban, baik untuk pemerintah, keluarga maupun individu yang mengalaminya.
Kanker kolorektal sebenarnya tidak langsung muncul menjadi kanker, butuh waktu 5 sampai 15 tahun, sehingga sebenarnya cukup banyak waktu bagi pasien untuk mencegahya menjadi kanker.
Table of Content
Merumuskan peta jalan nasional skrining kanker kolorektal

Dalam upaya menekan angka kematian akibat kanker kolorektal (kanker usus besar) yang terus meningkat di Indonesia, Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI)/Indonesian Society of Gastroenterology (ISG) menyelenggarakan The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 dengan tema "Colorectal Cancer Screening and Management: Bridging Gaps for Early Detection and Better Outcomes".
Acara ini menghadirkan pakar skrining kanker kolorektal internasional, di antaranya Prof. Takahisa Matsuda, MD, PhD, President of The Japanese Society of Gastrointestinal Cancer Screening, Prof. Han-Mo Chiu, MD, PhD, National Taiwan University & Hospital, serta para pemangku kepentingan utama di Indonesia, untuk merumuskan peta jalan nasional skrining berbasis bukti.
“PGI berkomitmen untuk tidak hanya menjadi wadah ilmiah, tetapi juga menjadi lokomotif perubahan kebijakan. Kami akan terus berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan mitra internasional untuk mewujudkan program skrining kanker kolorektal yang berkeadilan, berkelanjutan, dan menyelamatkan nyawa rakyat Indonesia,” ujar Ketua Pengurus Besar PGI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, FACP, FACG.
Skrining di Jepang dan Taiwan

Profesor Takahisa memaparkan bahwa Jepang telah menerapkan skrining tahunan dengan Fecal Immunochemical Test (FIT) pada pasien usia 40 tahun. Ia menegaskan bahwa skrining FIT adalah langkah pertama yang paling realistis dan berbasis bukti.
"FIT memiliki keunggulan berupa biaya rendah, noninvasif, skalabel, dan terbukti menurunkan mortalitas. Namun, tantangan terbesar di Jepang bukan pada tes FIT-nya, melainkan pada kolonoskopi diagnostik lanjutan. Sekitar 30 persen individu dengan hasil FIT positif tidak menjalani kolonoskopi lanjutan. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang juga akan dihadapi Indonesia," dia mengatakan.
Ia juga menyoroti risiko FIT-interval CRC (kanker yang muncul di antara jadwal skrining) yang cenderung berada di sisi kanan usus dan memiliki mutasi BRAF positif lebih tinggi, sehingga membutuhkan strategi tata laksana khusus.
Sementara Taiwan memiliki pendekatan yang berbeda dengan Jepang. Prof. Han-Mo memaparkan keberhasilan program skrining nasional Taiwan yang terstruktur sejak 2004. Dengan program FIT dua tahunan, Taiwan berhasil menurunkan 35 persen mortalitas kanker kolorektal dan 29 persen insiden kanker stadium lanjut pada peserta skrining.
"Keberhasilan program skrining tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi koordinasi sistemik yang terintegrasi. Taiwan membangun sistem call-recall, standarisasi laporan patologi, serta pengawasan kualitas kolonoskopi yang ketat, termasuk adenoma detection rate (ADR). Sejak 2025, kami bahkan menurunkan usia inisiasi skrining menjadi 45 tahun karena meningkatnya insiden early-onset CRC," jelasnya.
Rekomendasi yang disepakati
Menggambarkan kesenjangan antara beban penyakit dan kapasitas, Prof. Murdani menyajikan peta jalan konkret dengan menyoroti bahwa dari data Global Cancer Observatory 2024, di mana Indonesia memiliki estimasi prevalensi 5 tahun untuk mencapai 104.235 kasus kanker kolorektal atau 37,3 per 100 ribu populasi.
"Kapasitas kolonoskopi Indonesia saat ini sangat terbatas, sementara populasi mencapai 281 juta jiwa dengan luas wilayah lima kali lipat Jepang dan ribuan pulau berpenghuni. Karena itu, strategi kita harus bertahap mulai dari pilot project FIT di fasilitas primer, kolonoskopi terkonsentrasi di rumah sakit kabupaten/kota, dan penguatan sistem rujukan digital," imbuhnya.
Risk stratification atau stratifikasi risiko (usia, riwayat keluarga, indeks massa tubuh, merokok) menjadi kunci untuk menghemat sumber daya kolonoskopi yang terbatas.
Para pakar menyepakati beberapa rekomendasi mendesak, berupa:
- Implementasi bertahap program FIT terstruktur: Dimulai dari daerah pilot dengan sistem rujukan yang jelas.
- Peningkatan kapasitas dan mutu kolonoskopi: Wajib menerapkan indikator mutu seperti Cecal Intubation Rate dan Adenoma Detection Rate (ADR).
- Integrasi data dan registri nasional: Menghubungkan data skrining, hasil FIT, tindak lanjut kolonoskopi dan outcome kanker.
- Edukasi massal dan inovasi digital: Mengatasi hambatan partisipasi masyarakat yang masih rendah akibat kurangnya pengetahuan dan ketakutan terhadap prosedur.
- Stratifikasi risiko: Menerapkan sistem scoring (seperti model 8-point dari Jepang) untuk memprioritaskan pasien risiko tinggi ke kolonoskopi.
Kanker kolorektal merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan gaya hidup sehat, mengurangi makan daging, perbanyak sayur, mencukupi kebutuhan minum serta tetap aktif bergerak.






![[QUIZ] Pilih Jenis Lari Favorit Kamu, Kami Tebak Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260327/side-view-man-training-outdoors_23-2150828873_09337711-e762-477c-bfeb-fef172d4355e.jpg)











