Comscore Tracker

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantina

Kenali gangguan tidur yang sedang kamu hadapi!

Salah satu masalah kesehatan yang banyak dilaporkan selama masa pandemik ini adalah gangguan tidur. Tak sedikit orang yang merasa bahwa dirinya sulit untuk tidur, sering mimpi buruk, atau justru malah tidur berlebihan. 

Dilansir dari Health.com, masalah ini terjadi karena pola hidup yang berubah menimbulkan rasa cemas, gelisah,atau bahkan depresi. Tingkat stres pun meningkat sehingga pola tidur kita terganggu. 

Masalah tidur yang ditimbulkan pun beragam, kondisi ini berbeda-beda untuk setiap orang. Apa sajakah macamnya? Simak berikut ini!

1. Insomnia

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinamelmagazine.com

Gangguan tidur yang paling umum di masyarakat adalah insomnia. Menurut riset University of Pennsylvania School of Medicine, setidaknya sepuluh persen orang dewasa mengalaminya secara kronis, sedangkan 25 persen orang dewasa mengalami kondisi yang sedang.

Insomnia sendiri merupakan masalah tidur yang paling banyak dihadapi saat masa karantina ini. Menurut laporan dari Express Scripts, layanan penyedia resep obat, permintaan akan obat insomnia meningkat hingga 21 persen pada bulan Februari hingga Maret 2020. 

Masalah yang satu ini terjadi ketika otak kita berhenti memproduksi hormon melatonin, si hormon pemicu tidur. Penyebabnya bisa berasal dari stres, depresi, atau bahkan terlalu banyak menatap layar gadget.

2. Fragmentasi tidur

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinawexnermedical.osu.edu

Berikutnya ada fragmentasi tidur. Apakah itu? Fragmentasi tidur singkatnya adalah tidur yang tidak nyenyak. Penderitanya tidak mendapatkan kesulitan untuk tidur di malam hari namun mereka sering terbangun setiap beberapa jam. 

Dilansir dari Eight Sleep, beberapa penyebabnya adalah tubuh yang sedang sakit, perubahan pola hidup, atau kebiasaan mengorok. Fragmentasi tidur juga bisa terjadi saat kita stres. Brandon Peter Mathews, dokter sekaligus penulis buku Sleep Through Insomnia mengatakan bahwa fenomena ini juga sering terjadi sepanjang pandemik ini tanpa kita sadari.

“Karena kita menghabiskan banyak waktu di rumah, tingkat stres dalam aspek keluarga dan hubungan pun meningkat. Sebab cara pelampiasan stres tidak bisa dilakukan, seperti olahraga, menghabiskan waktu dengan teman, makan di luar, nonton film, atau menikmati alam. Ketika otak memproses stres tersebut, kita akan sering terjaga di malam hari,” jelasnya dilansir Health.com.

3. Nightmare disorder

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinanyt.com

Sejak COVID-19 merebak di dunia dan di Indonesia, banyak orang yang mengeluhkan bahwa dirinya mengalami mimpi buruk. Entah mimpi terinfeksi virus corona, orang terdekat meninggal, dan lain sebagainya. 

Dilansir dari Time, ternyata pola mimpi buruk yang dihadapi sekarang ini mirip dengan yang terjadi setelah peristiwa 9/11, serangan di World Trade Center Amerika Serikat 19 tahun silam. Namun kenapa hal ini terjadi?

Lagi-lagi, jawabannya adalah stres yang berlebihan. Kita sedang menghadapi kondisi yang tidak biasa, semua aspek kehidupan pun berubah. Tak heran jika banyak orang yang merasa stres, cemas, terkekang, hingga depresi karenanya. 

Karena kita terus menerus terpapar berita mengerikan tentang COVID-19, terus membicarakannya, dan memikirkannya, otak pun memprosesnya hingga kita tidur. Alhasil, mimpi yang kita alami pun tidak jauh dari perkara tersebut.

Baca Juga: 8 Saran WHO soal Ramadan di Tengah COVID-19, Bolehkah Pasien Puasa?

4. Sleep apnea

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinafatherly.com

Apakah kamu pernah atau sering mengorok? Hal ini terjadi karena tenggorokan kita menutup saat tidur sehingga aliran udara masuk dan keluar pun tidak lancar. Walaupun terlihat sepele, mengorok bisa memicu masalah yang lebih serius, yaitu sleep apnea

Dilansir dari Very Well Health, sleep apnea terjadi ketika katup tenggorokan menutup sehingga penderitanya berhenti bernapas lebih dari sepuluh detik, dan ini terjadi berkali-kali dalam satu jam. Akibatnya, tingkat oksigen pun menurun sehingga kita bisa benar-benar berhenti bernapas.

Selain kebiasaan mengorok, coba kenali gejala-gejala lain dari sleep apnea di bawah ini:

  • Sering terbangun di malam hari karena sesak napas sesaat;
  • Bangun dengan mulut kering;
  • Pusing di pagi hari;
  • Insomnia;
  • Hipersomnia, yaitu tidur berlebihan di siang hari;
  • Sulit fokus dan sering merasa terganggu.

5. Sleep paralysis

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinamedindia.net

Apakah kamu pernah mengalami “tindihan”? Masalah tersebut dalam dunia medis disebut sebagai sleep paralysis. Masalah ini akan mengakibatkan kita sulit untuk bergerak saat bangun tidur.

Sering kali, sleep paralysis juga diiringi dengan halusinasi. Sudah tidak bisa bergerak, ditambah lagi dengan melihat, mendengar, atau merasakan hal-hal yang aneh. Itulah kenapa banyak orang yang mengasosiasikannya dengan sesuatu yang mistis.  

Ingin tahu apa yang memicunya? Salah satunya adalah kondisi mental kita. Stres, cemas, gelisah, dan depresi dapat meningkatkan risiko sleep paralysis.

6. Narkolepsi

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinahelpguide.org

Selanjutnya ada narkolepsi. Ini merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan rasa ngantuk yang berlebihan di siang hari. Sementara di malam hari, penderitanya cenderung lebih sulit untuk tidur dan sering mengalami mimpi buruk. 

Lebih lanjut, rasa ngantuk yang dialami penderita narkolepsi cukup ekstrem. Terkadang mereka bisa tiba-tiba tertidur saat bekerja, menyetir, atau bahkan ketika berdiri. Tentunya ini sangat mengganggu kehidupan mereka. 

Dilansir dari Sleep Foundation, gangguan tidur ini disebabkan karena kurangnya zat kimia bernama hipokretin pada otak. Zat tersebut berperan untuk membuat kita terjaga dan mengaktifkan sel-sel otot. Hal yang memicunya adalah faktor genetik, kerusakan pada otak, dan penyakit autoimun.

7. Restless legs syndrome

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinalivekindly.co

Restless legs syndrome (RLS) atau sindrom kaki gelisah ditandai dengan perasaan tak nyaman pada kaki sehingga ingin terus menggerakkannya. Rasa tak nyaman tersebut berupa rasa sakit, panas, kesemutan, atau seperti digigiti semut.

Penyakit saraf ini dipicu oleh banyak hal. Mulai dari faktor genetik, diabetes, parkinson, hingga kekurangan zat besi. RLS juga bisa timbul ketika kita mengonsumsi obat antidepresan untuk menghilangkan stres dan depresi.

Lalu bagaimana cara memperbaikinya?

Tak Hanya Insomnia, 7 Gangguan Tidur Ini Bisa Dialami Selama Karantinaentrepreneur.com

Hal utama yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki kualitas tidurmu adalah dengan tetap tidur minimal delapan jam di malam hari. Coba untuk tidur lebih awal sehingga kamu bisa bangun dengan segar keesokan harinya.

Kemudian, kamu harus berusaha manajemen stres dengan lebih baik. Berikut ini hal-hal yang bisa membantumu:

  • Hindari membaca atau menonton berita pandemik yang membuatmu stres;
  • Lakukan hobimu selama di rumah;
  • Jangan memaksakan diri untuk selalu produktif hanya karena tertekan melihat orang lain;
  • Berolahraga dan meditasi;
  • Hindari tidur berlebihan di siang hari.

Semoga informasi ini bisa membantumu, ya!

Pembaca bisa membantu kelengkapan perlindungan bagi para tenaga medis dengan donasi di program #KitaIDN: Bergandeng Tangan Melawan Corona di Kitabisa.com (http://kitabisa.com/kitaidnlawancorona)

Baca Juga: Efek Kesehatan Makan Mi Instan saat Sahur dan Pengaruhnya pada Puasa

Topic:

  • Izza Namira
  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya