Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Diskusi media "Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental" dan peluncuran kampanye "Hidup Lebih Ringan" untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas pada Kamis (5/11) di Jakarta. (Dok. Novo Indonesia)
  • Novo Indonesia meluncurkan kampanye “Hidup Lebih Ringan” untuk memperluas pemahaman obesitas sebagai penyakit kronis kompleks, dengan fokus pada kesehatan fisik, mental, kualitas hidup, dan pengurangan stigma.

  • Metaanalisis 15 studi menemukan hubungan dua arah antara obesitas dan depresi; survei ACTION APAC Indonesia mencatat hanya 30 persen responden pernah membahas berat badan dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun.

  • Pengelolaan obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang personal, mencakup pola makan, aktivitas fisik, serta dukungan medis; NovoCare.id menyediakan edukasi, kalkulator BMI, dan pencarian dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Novo Indonesia meluncurkan kampanye “Hidup Lebih Ringan” di Jakarta pada Kamis (5/11). Kampanye ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat tentang obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks, sekaligus mendorong pengelolaan yang memperhatikan kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup.

Peluncuran kampanye tersebut disertai diskusi media bertajuk Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental. Dalam diskusi itu, para pakar membahas hubungan antara obesitas dan kesehatan mental, serta pentingnya dukungan profesional yang empatik dan bebas stigma.

Menurut Novo Indonesia, keberhasilan pengelolaan obesitas tidak hanya diukur dari angka di timbangan. Masyarakat diajak untuk melihat kondisi ini dari sisi medis yang lebih menyeluruh, mengurangi stigma, membuka percakapan dengan tenaga kesehatan, dan mendukung penanganan yang sesuai dengan kebutuhan tiap orang.

“Melalui 'Hidup Lebih Ringan', kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa perjalanan mengelola obesitas bukan semata tentang menurunkan berat badan, melainkan tentang meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup secara berkelanjutan. Yang ingin kami ringankan bukan hanya berat badan, tetapi juga beban untuk menjalaninya sendirian. Kami berharap orang dengan obesitas merasa lebih didukung, tidak dihakimi, dan terdorong mencari informasi serta bantuan medis yang tepat,” ujar Inggita Sistha Widyawan, Associate Director, Customer Engagement, Novo Indonesia.

Hubungan obesitas dan kesehatan mental

Sebuah metaanalisis terhadap 15 studi jangka panjang yang melibatkan sekitar 58.000 peserta menemukan bahwa orang dengan obesitas memiliki kemungkinan 55 persen lebih tinggi untuk mengalami depresi seiring waktu. Sebaliknya, orang dengan depresi memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi untuk mengalami obesitas. Hasil penelitian menunjukkan hubungan pada kelompok yang diteliti, bukan kepastian tentang kondisi setiap orang.

Meski hubungan tersebut dibahas dalam riset, tetapi masih banyak orang yang belum mendiskusikan berat badannya dengan tenaga kesehatan. Survei ACTION APAC Indonesia menemukan hanya 30 persen responden dengan obesitas pernah membicarakan berat badan dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 43 persen menyebut anggapan bahwa penurunan berat badan merupakan tanggung jawab pribadi sebagai salah satu alasan tidak memulai percakapan itu.

Survei tersebut dilakukan secara daring pada tahun 2022. Responden yang dikategorikan sebagai orang dengan obesitas dalam survei memiliki IMT minimal 25 berdasarkan tinggi dan berat badan yang dilaporkan sendiri. Studi ini didanai oleh Novo Nordisk.

Stigma dapat menambah beban psikologis

ilustrasi seseorang merasa frustrasi (pexels.com/SHVETS production)

Diskriminasi dan komentar negatif tentang bentuk tubuh dapat memengaruhi kesejahteraan emosional, serta kemungkinan stigma mengakibatkan sebagian orang enggan mencari bantuan medis.

“Hubungan obesitas dan kesehatan mental berjalan dua arah dan berbeda pada setiap individu. Orang dengan obesitas dapat menghadapi stigma, tekanan psikologis, dan pengalaman sosial yang memengaruhi kesejahteraannya. Sebaliknya, kondisi kesehatan mental tertentu juga dapat memengaruhi pola tidur, aktivitas, nafsu makan, dan perilaku sehari-hari. Setiap orang dengan obesitas memiliki pengalaman yang berbeda. Kondisi tubuh seseorang tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental, karakter, maupun kualitas dirinya. Hindari asumsi, pahami setiap individu secara utuh,” ujar dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa.

Pengelolaan obesitas tidak hanya soal disiplin

Selain faktor psikologis dan sosial, tubuh juga memiliki sistem biologis yang memengaruhi rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Hal ini dapat membuat pengelolaan berat badan menjadi tantangan jangka panjang.

“Obesitas tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kurang disiplin. Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Bahkan setelah berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar sehingga mempertahankan hasil menjadi lebih menantang. Itu sebabnya pengelolaan obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi setiap individu,” jelas dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik.

Dokter Christopher menambahkan, pola makan sehat dan aktivitas fisik merupakan fondasi penanganan. Dokter dapat mempertimbangkan dukungan tambahan—seperti pendampingan psikologis dan perilaku, terapi obat, atau bedah bariatrik—sesuai kondisi klinis seseorang.

Salah satu pilihan terapi obat adalah agonis reseptor GLP-1. Obat ini bekerja menyerupai hormon alami yang memberi sinyal kenyang dan dapat membantu mengurangi rasa lapar. Ini merupakan obat keras yang harus digunakan dengan resep serta pemantauan dokter, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kemungkinan efek samping, termasuk keluhan pencernaan.

NovoCare.id dan ajakan mencari bantuan

ilustrasi konsultasi dengan dokter secara online (pexels.com/Anna Shvets)

Untuk mendukung kampanye, Novo Indonesia menyediakan NovoCare.id sebagai platform edukasi tentang obesitas. Platform ini mencakup informasi kesehatan, kalkulator BMI, dan akses untuk mencari dokter spesialis secara daring maupun tatap muka.

“Kami ingin mendorong masyarakat untuk memahami obesitas secara lebih menyeluruh dan tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Langkah awal dapat dimulai dengan berdiskusi bersama dokter mengenai kondisi kesehatan dan pilihan penanganan yang sesuai. Melalui NovoCare.id, masyarakat juga dapat mengakses informasi seputar obesitas dan menemukan dukungan untuk mengambil langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan,” jelas dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia.

Referensi

Floriana S. Luppino et al., “Overweight, Obesity, and Depression: A Systematic Review and Meta-Analysis of Longitudinal Studies,” Archives of General Psychiatry 67, no. 3 (2010): 220–29, https://doi.org/10.1001/archgenpsychiatry.2010.2.

Sidartawan Soegondo et al., “Perceptions, Attitudes, Behaviours and Barriers towards Obesity among People with Obesity and Health Care Professionals in Indonesia: An Exploratory Online Survey,” PLOS ONE 21, no. 6 (2026): e0350857, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0350857

Editorial Team

Related Article