Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Seseorang Bisa Mengalami ISPA Berulang Kali?

4 min read
Kenapa Seseorang Bisa Mengalami ISPA Berulang Kali?
ilustrasi ISPA (magnific.com/rawpixel.com)
  • ISPA berulang tidak selalu serius; orang dewasa sehat dapat mengalami 4–8 infeksi saluran napas atas per tahun karena paparan berbagai virus dan bakteri.

  • Kurang tidur, stres, merokok, asap, polusi, alergi, gangguan struktur hidung, serta penyakit paru seperti asma dan PPOK dapat meningkatkan kerentanan infeksi.

  • Pemeriksaan medis diperlukan apabila infeksi sangat sering, lama, makin berat, atau disertai demam berkepanjangan, berat badan turun, batuk berdarah, dan sesak napas.

  • ISPA berulang tidak selalu serius; orang dewasa sehat dapat mengalami 4–8 infeksi saluran napas atas per tahun, terutama akibat paparan beragam virus dan bakteri.

  • Kurang tidur, stres berkepanjangan, merokok, asap rokok, polusi, alergi, serta gangguan struktur hidung dapat melemahkan pertahanan saluran pernapasan dan menghambat pemulihan.

  • Asma, PPOK, fibrosis kistik, gangguan imun, refluks asam lambung, atau gangguan menelan dapat memicu keluhan berulang; periksa bila infeksi berat, lama, atau disertai tanda bahaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan yang cukup umum. Gejalanya bisa berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Namun, ada orang yang merasa baru sembuh dari ISPA, tetapi tidak lama kemudian kembali mengalami keluhan serupa.

Mengalami infeksi pernapasan beberapa kali dalam setahun sebenarnya tidak selalu menandakan penyakit serius. Orang dewasa yang sehat pun bisa mengalami sekitar 4–8 episode infeksi saluran pernapasan atas setiap tahun. Meski begitu, infeksi yang terlalu sering, berlangsung lama, atau makin parah jangan diabaikan.

  1. 1. Sering terpapar virus dan bakteri

    Salah satu penyebab ISPA berulang adalah terlalu sering terpapar kuman penyebab infeksi. Penularan dapat terjadi melalui percikan cairan dari batuk atau bersin, kontak langsung, maupun tangan yang menyentuh permukaan terkontaminasi.

    Risiko paparan biasanya lebih tinggi pada orang yang bekerja di sekolah, fasilitas kesehatan, atau lingkungan padat penduduk. Tinggal bersama anak kecil juga bisa meningkatkan risiko karena anak-anak cenderung lebih sering mengalami infeksi pernapasan.

    Selain itu, sembuh dari satu infeksi tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap semua virus. Ada banyak jenis virus penyebab pilek dan ISPA sehingga tubuh masih bisa terinfeksi oleh jenis lainnya.

  2. 2. Kurang tidur dan stres berkepanjangan

    Kebiasaan sehari-hari turut memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi. Kurang tidur dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan sehingga tubuh tidak mampu merespons ancaman penyakit secara optimal.

    Stres berkepanjangan juga bisa memengaruhi kerja sistem imun. Sementara itu, kebiasaan merokok dan paparan asap rokok dapat merusak mekanisme alami saluran pernapasan dalam membersihkan lendir serta partikel asing.

    Paparan polusi udara, debu, dan asap bahan kimia juga dapat mengiritasi saluran pernapasan. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini berpotensi memperburuk peradangan dan menghambat pemulihan.

  3. 3. Alergi dan gangguan saluran pernapasan

    Ilustrasi perempuan mengalami alergi dengan ekspresi tidak nyaman akibat gejala yang dirasakan pada tubuhnya.
    ilustrasi perempuan mengalami alergi (magnific.com/magnific)

    ISPA yang berulang terkadang berkaitan dengan gangguan pada hidung dan saluran pernapasan. Alergi dapat menyebabkan lapisan hidung dan sinus membengkak sehingga aliran lendir terhambat. Akibatnya, kuman lebih mudah berkembang dan memicu infeksi sinus.

    Gangguan struktur hidung, seperti polip atau septum yang bengkok, juga bisa menghambat aliran lendir. Dalam jangka panjang, infeksi berat yang berulang dapat berkaitan dengan bronkiektasis, yaitu kerusakan dan pelebaran permanen pada saluran pernapasan yang membuat lendir lebih sulit dikeluarkan.

  4. 4. Memiliki penyakit paru-paru tertentu

    Penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan fibrosis kistik lebih rentan mengalami infeksi pernapasan berulang. Pada penderita asma, peradangan dan penyempitan saluran napas dapat mengganggu aliran udara.

    Sementara itu, PPOK dapat merusak saluran pernapasan sehingga kemampuan paru-paru membersihkan lendir dan kuman berkurang. Pada fibrosis kistik, lendir yang terlalu kental dapat menumpuk dan memerangkap bakteri di paru-paru. Infeksi yang berulang juga dapat memperburuk kondisi paru-paru sehingga seseorang semakin rentan mengalami gangguan pernapasan.

  5. 5. Sistem kekebalan tubuh melemah

    Sistem imun berperan penting dalam melindungi tubuh dari virus dan bakteri. Ketika fungsinya menurun, seseorang bisa lebih mudah mengalami infeksi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

    Kondisi ini dapat terjadi akibat malnutrisi, stres berat, penggunaan obat penekan kekebalan, atau penyakit tertentu seperti HIV. Ada pula imunodefisiensi primer, yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan bagian tertentu dari sistem kekebalan tidak bekerja dengan baik. Kondisi tersebut perlu dicurigai jika infeksi terjadi sangat sering, berlangsung berat, sulit sembuh, atau disebabkan oleh mikroorganisme yang jarang menyerang orang sehat.

  6. 6. Refluks asam lambung dan gangguan menelan

    Ilustrasi seseorang mengalami gejala GERD dengan rasa nyeri atau panas pada dada, perut, dan tenggorokan.
    ilustrasi sakit GERD (pexels.com/cottonbrostudio)

    Tidak semua keluhan pernapasan berulang berasal dari infeksi. Refluks asam lambung dapat menyebabkan isi lambung naik dan mengiritasi tenggorokan atau saluran pernapasan.

    Gangguan menelan juga bisa meningkatkan risiko aspirasi, yaitu masuknya makanan, minuman, atau muntahan ke saluran pernapasan. Jika mencapai paru-paru, kondisi ini dapat memicu pneumonia.

  7. Kapan ISPA berulang perlu diperiksakan ke dokter?

    ISPA yang sesekali terjadi umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan jika infeksi terus berulang, berlangsung lebih lama dari biasanya, atau tidak membaik setelah mendapatkan pengobatan.

    Waspadai juga gejala seperti demam berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, batuk berdarah, dan sesak napas. Dokter dapat mengevaluasi kondisi paru-paru, alergi, serta fungsi sistem kekebalan untuk menemukan penyebabnya.

    Pada akhirnya, ISPA berulang tidak selalu berarti seseorang memiliki daya tahan tubuh yang buruk. Paparan kuman, kebiasaan sehari-hari, gangguan saluran pernapasan, hingga penyakit tertentu bisa menjadi pemicunya. Mengetahui penyebab yang mendasari keluhan penting agar penanganan tidak hanya berfokus pada gejala, tetapi juga mencegah infeksi kembali terjadi.

    Referensi

    Eureka. Diakses pada November 2026. "Why do I Keep Getting One Respiratory Infection After Another?"

    Florida Medical Clinic. Diakses pada November 2026. "Why You Keep Getting Respiratory Infections & Understanding When to See a Doctor."

    Immune Deficiency Foundation. Diakses pada November 2026. "Respiratory Health."

    WebMD. Diakses pada November 2026. "Respiratory Infections: Symptoms, Causes, and Treatment."

Related Articles

See More