Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kamu Kecanduan Mi Instan? Ini Gejala dan Cara Mengatasinya
ilustrasi perempuan makan mi instan (freepik.com/freepik)
  • Mi instan termasuk makanan ultraproses yang dapat memicu keinginan makan berulang karena kombinasi garam, lemak, dan karbohidrat olahan.

  • Konsumsi berulang bisa memicu pola makan mirip kecanduan, seperti craving kuat dan sulit berhenti.

  • Mengubah pola makan secara bertahap dan menambah protein serta serat dapat membantu mengurangi ketergantungan pada mi instan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai warga negara Indonesia, kamu tentu sudah familier dengan rasa mi instan sejak kecil. Ibu kamu dulu mungkin sering menyiapkannya sebagai bekal, kamu pun sering menyantapnya sebagai comfort food. Terlebih di akhir bulan, ketika uang di rekening menipis, mi instan adalah penyelamat.

Mi instan memang begitu digemari, bahkan di seluruh dunia. Sekitar 120 miliar porsi mi instan dikonsumsi secara global pada 2023. Data per‑negara menunjukkan China, Indonesia, India, dan Vietnam sebagai konsumen terbesar.

Makan mi instan memang sah saja. Masalah timbul ketika kamu sudah berada di tahap kecanduan. Ada yang merasa sulit berhenti memakannya, bahkan tahu bahwa terlalu sering mengonsumsinya tidak baik bagi kesehatan. Keinginan itu bisa muncul berulang.

Fenomena ini mulai mendapat perhatian dalam penelitian nutrisi dan perilaku makan. Beberapa ilmuwan menilai bahwa makanan tertentu, terutama yang tergolong makanan ultraproses, dapat memicu pola konsumsi yang mirip dengan perilaku adiktif.

1. Mengapa mi instan bisa terasa adiktif?

Mi instan termasuk dalam kategori makanan ultraproses, yaitu makanan yang diproduksi melalui proses industri dan biasanya mengandung kombinasi bahan seperti karbohidrat olahan, lemak, garam, serta berbagai aditif untuk meningkatkan rasa.

Penelitian menjelaskan bahwa makanan ultraproses dirancang dengan kombinasi rasa yang sangat menarik, sehingga dapat merangsang pusat penghargaan (reward system) di otak dan mendorong konsumsi berulang.

Dalam kasus mi instan, ada beberapa faktor yang membuatnya “menggiurkan” bagi otak:

  • Kombinasi garam dan lemak

Mi instan biasanya mengandung sodium tinggi. Garam diketahui dapat meningkatkan palatabilitas makanan, sehingga membuat makanan terasa lebih lezat dan memicu keinginan makan lebih banyak.

  • Karbohidrat olahan

Mi instan terbuat dari tepung terigu yang cepat dicerna tubuh. Karbohidrat yang cepat diserap dapat memicu lonjakan glukosa darah yang diikuti pelepasan hormon insulin, yang kemudian memengaruhi rasa lapar dan keinginan makan.

  • Sistem penghargaan di otak

Beberapa penelitian tentang perilaku makan menunjukkan bahwa makanan ultraproses dapat mengaktifkan jalur dopamin di otak, yaitu sistem yang juga berperan dalam sensasi kesenangan dan motivasi untuk mengulang suatu perilaku.

Akibatnya, tubuh bisa belajar mengasosiasikan mi instan dengan rasa nyaman atau puas, yang kemudian memicu keinginan untuk memakannya lagi.

2. Gejala pola makan mirip “kecanduan” mi instan

ilustrasi kecanduan makan mi instan (freepik.com/jcomp)

Istilah “kecanduan makanan” masih menjadi topik penelitian dan perdebatan ilmiah. Namun, para peneliti telah mengidentifikasi beberapa pola perilaku yang menyerupai kecanduan, terutama pada makanan ultraproses.

Gejala yang sering muncul antara lain:

  • Craving kuat terhadap makanan tertentu: Tiba-tiba muncul keinginan kuat untuk makan mi instan, bahkan ketika tidak benar-benar lapar.

  • Sulit berhenti setelah mulai makan: Seseorang mungkin berniat makan mi instan hanya sesekali, tetapi akhirnya mengonsumsinya jauh lebih sering dari yang direncanakan.

  • Tetap mengonsumsi meskipun tahu dampaknya: Misalnya tetap makan mi instan sangat sering meskipun sudah menyadari bahwa pola makan tersebut kurang sehat.

  • Mencari rasa nyaman dari makanan: Mi instan menjadi makanan pelarian ketika stres, lelah, atau bosan.

Pola seperti ini tidak selalu berarti seseorang benar-benar mengalami kecanduan dalam artian medis. Namun, jika terjadi terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.

3. Dampak jika mi instan dimakan terlalu sering

Mengonsumsi mi instan sesekali biasanya tidak menimbulkan masalah. Namun, jika menjadi menu harian, beberapa risiko kesehatan dapat meningkat.

Salah satu penelitian epidemiologi besar di Korea menemukan konsumsi mi instan yang tinggi berkaitan dengan risiko lebih besar mengalami sindrom metabolik, terutama pada perempuan.

Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, dan peningkatan lemak perut yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Selain itu, mi instan juga cenderung:

  • Tinggi sodium.

  • Rendah serat.

  • Rendah protein.

Kombinasi ini dapat membuat rasa kenyang tidak bertahan lama dan mendorong konsumsi makanan tambahan sepanjang hari.

4. Cara mengurangi “ketergantungan” mi instan

ilustrasi craving makan mi instan (vecteezy.com/Piti Petdum)

Jika mi instan sudah menjadi makanan yang terlalu sering kamu konsumsi, ada beberapa cara yang bisa membantu menguranginya secara bertahap.

  • Jangan berhenti secara ekstrem: Menghentikan konsumsi secara mendadak sering membuat craving makin kuat. Mengurangi frekuensi secara bertahap biasanya lebih efektif.

  • Tambahkan protein dan serat: Jika tetap makan mi instan, tambahkan telur, tahu, ayam, atau sayur. Kombinasi ini membantu memperlambat pencernaan dan membuat rasa kenyang lebih stabil.

  • Identifikasi pemicu craving: Sebagian orang makan mi instan ketika stres atau bosan. Menyadari pemicu ini dapat membantu mengganti kebiasaan dengan aktivitas lain.

  • Siapkan alternatif makanan cepat: Memiliki pilihan makanan praktis lain, seperti sup sayur, telur rebus, atau roti lapis dapat membantu mengurangi ketergantungan pada mi instan.

Mi instan tidak harus sepenuhnya dihindari. Namun, kombinasi rasa gurih, karbohidrat olahan, dan kandungan sodium yang tinggi membuat makanan ini sangat mudah memicu keinginan makan berulang.

Jika dikonsumsi terlalu sering, mi instan dapat memengaruhi pola makan dan bahkan menimbulkan perilaku yang mirip kecanduan makanan. Mengenali tanda-tandanya adalah langkah pertama untuk membangun kebiasaan makan yang lebih sehat. Dengan pendekatan yang bertahap, mi instan tetap bisa dinikmati sesekali tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Referensi

"Chart: Which Countries Eat the Most Instant Noodles?" The New Diplomat. Diakses Maret 2026.

Ashley N. Gearhardt, William R. Corbin, and Kelly D. Brownell, “Food Addiction,” Journal of Addiction Medicine 3, no. 1 (February 19, 2009): 1–7, https://doi.org/10.1097/adm.0b013e318193c993.

Thibault Fiolet et al., “Consumption of Ultra-processed Foods and Cancer Risk: Results From NutriNet-Santé Prospective Cohort,” BMJ 360 (February 14, 2018): k322, https://doi.org/10.1136/bmj.k322.

Institute of Medicine. "Strategies to Reduce Sodium Intake in the United States." Washington, DC: National Academies Press, 2010.

William K. Scott et al., “Complete Genomic Screen in Parkinson Disease,” JAMA 286, no. 18 (November 14, 2001): 2239, https://doi.org/10.1001/jama.286.18.2239.

Eliza Gordon et al., “What Is the Evidence for ‘Food Addiction?’ a Systematic Review,” Nutrients 10, no. 4 (April 12, 2018): 477, https://doi.org/10.3390/nu10040477.

Hyun Joon Shin et al., “Instant Noodle Intake and Dietary Patterns Are Associated With Distinct Cardiometabolic Risk Factors in Korea,” Journal of Nutrition 144, no. 8 (June 26, 2014): 1247–55, https://doi.org/10.3945/jn.113.188441.

Erica M. Schulte, Nicole M. Avena, and Ashley N. Gearhardt, “Which Foods May Be Addictive? The Roles of Processing, Fat Content, and Glycemic Load,” PLoS ONE 10, no. 2 (February 18, 2015): e0117959, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0117959.

Editorial Team