Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Memicu Hipertensi
ilustrasi mengecek tensi (unsplash.com/Mockup Graphics)
  • Hipertensi bisa menyerang usia muda akibat kebiasaan harian seperti konsumsi garam berlebih, kurang tidur, dan jarang bergerak yang perlahan meningkatkan tekanan darah tanpa gejala jelas.
  • Kebiasaan lain seperti stres tidak terkelola, konsumsi kafein atau gula berlebihan, serta paparan asap rokok turut memperberat kerja jantung dan memicu peningkatan tekanan darah.
  • Kurangnya asupan air putih dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh dan memengaruhi fungsi pembuluh darah, sehingga penting menjaga hidrasi untuk mencegah risiko hipertensi sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tekanan darah tinggi sering dianggap sebagai masalah yang hanya mengintai orang lanjut usia. Padahal, tanpa disadari, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari justru bisa menjadi pemicu hipertensi sejak usia muda. Mulai dari terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam hingga kurang tidur, rutinitas yang tampak sepele dapat membuat tekanan darah perlahan naik tanpa menimbulkan gejala yang jelas.

Yang menjadikan hipertensi berisiko adalah karena sering kali kondisinya muncul tanpa gejala dan baru terdeteksi ketika dampaknya sudah memengaruhi kesehatan secara serius. Oleh karena itu, memahami kebiasaan sehari-hari yang berpotensi meningkatkan risiko hipertensi menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung dan sistem peredaran darah sejak dini. Sebelum terlambat, simak lima kebiasaan sehari-hari yang bisa memicu hipertensi tanpa kita sadari.

1. Terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam

ilustrasi makan camilan (.freepik.com/freepikI)

Banyak orang tidak sadar bahwa makanan sehari-hari seperti mi instan, camilan kemasan, atau lauk yang terlalu asin mengandung natrium dalam jumlah tinggi. Kebiasaan ini sering dianggap sepele karena makanan tersebut praktis dan terasa lebih nikmat di lidah. Padahal, asupan garam berlebihan dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga tekanan pada pembuluh darah meningkat.

Jika kondisi ini tidak ditangani dalam waktu lama, hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi serta masalah jantung lainnya. Tindakan seperti menuangkan saus atau menaburkan garam pada makanan tanpa mencicipinya terlebih dahulu juga dapat menyebabkan asupan natrium menjadi sulit diatur. Mulailah membiasakan membaca informasi gizi dan mengurangi makanan yang tinggi garam agar tekanan darah tetap stabil.

2. Kurang tidur karena sering begadang

ilustrasi kurang tidur (freepik.com/wavebreakmedia_micro)

Tidur larut malam sering menjadi bagian dari rutinitas banyak orang, baik karena pekerjaan, menonton serial, maupun bermain media sosial. Sesekali begadang mungkin tidak terasa berdampak besar pada tubuh. Namun, kurang tidur secara terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan hormon dan membuat sistem saraf bekerja lebih keras.

Kondisi ini bisa menyebabkan lonjakan tekanan darah dan menghalangi tubuh untuk mendapatkan waktu pemulihan yang ideal. Tidak sedikit orang yang merasakan kelelahan yang berlebihan dan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi setelah beberapa hari tidak tidur dengan cukup. Karena itu, usahakan tidur antara tujuh hingga sembilan jam setiap malam demi menjaga kesehatan tubuh dan tekanan darah.

3. Jarang bergerak dan terlalu lama duduk

ilustrasi gaya hidup sedentari (freepik.com/stockking)

Aktivitas harian saat ini banyak dilakukan di depan layar, meliputi pekerjaan, pendidikan, dan hiburan. Tanpa disadari, kebiasaan duduk terlalu lama bisa mengakibatkan tubuh menjadi kurang bergerak. Ketika aktivitas fisik menurun, efisiensi jantung dan pembuluh darah juga berkurang, yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Kondisi ini juga sering diikuti oleh kenaikan berat badan yang menjadi faktor risiko tambahan bagi hipertensi. Misalnya, seseorang yang duduk selama berjam-jam tanpa jeda cenderung lebih cepat merasa pegal dan mudah lelah. Menyempatkan diri berjalan kaki, melakukan peregangan, atau berolahraga ringan setiap hari dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah.

4. Mengelola stres dengan cara yang tidak sehat

ilustrasi stres karena pekerjaan (freepik.com/jcomp)

Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, atau konflik dalam kehidupan pribadi sering membuat seseorang merasa tertekan. Sayangnya, banyak orang memilih mengabaikan stres atau melampiaskannya dengan kebiasaan yang kurang sehat. Saat stres muncul, tubuh akan melepaskan hormon tertentu yang dapat membuat detak jantung dan tekanan darah meningkat.

Jika situasi ini terus berlanjut, pembuluh darah bisa terpapar tekanan yang lebih tinggi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi. Misalnya, ada orang yang memilih untuk begadang, makan secara berlebihan, atau terus beraktivitas tanpa memberikan waktu untuk istirahat ketika banyak pikiran yang mengganggu. Meluangkan waktu untuk menjalani hobi, berolahraga, atau berkomunikasi dengan orang-orang terdekat dapat menjadi metode sederhana untuk mengatasi stres dengan lebih efektif.

5. Terlalu sering mongonsumsi minuman berkafein atau manis

ilustrasi kopi (unsplash.com/Nathan Dumlao)

Secangkir kopi atau minuman manis memang sering menjadi penyemangat di tengah aktivitas yang padat. Masalahnya, sebagian orang mengonsumsinya beberapa kali dalam sehari tanpa memperhatikan jumlah yang masuk ke dalam tubuh. Kafein dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara, terutama pada orang yang sensitif terhadap zat ini.

Di sisi lain, minuman yang mengandung banyak gula juga berperan dalam peningkatan berat badan yang sangat terkait dengan kemungkinan mengalami hipertensi. Kebiasaan mengonsumsi kopi kekinian atau soda setiap hari, misalnya, dapat meningkatkan jumlah gula dan kalori yang dikonsumsi secara signifikan. Mengkonsumsi minuman yang disukai dari waktu ke waktu tidaklah buruk, tetapi mengatur porsinya dan meningkatkan asupan air putih adalah strategi yang lebih cerdas untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.

6. Terlalu sering merokok dan terpapar asap rokok

ilustrasi rokok (pexels.com/Alexas Fotos)

Sebagian orang menganggap merokok hanya berdampak pada paru-paru, padahal efeknya juga berkaitan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Setiap kali merokok, zat kimia dalam rokok dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan membuat jantung bekerja lebih keras. Kondisi ini memicu peningkatan tekanan darah, meski terkadang tidak langsung dirasakan oleh tubuh.

Risiko tersebut juga bisa dirasakan oleh mereka yang menghirup asap rokok tanpa merokok, baik di rumah maupun di tempat kerja. Contohnya, kegiatan merokok saat bersantai atau berkumpul dengan teman dapat menjadi kebiasaan yang sulit diubah dan berdampak negatif pada kesehatan tubuh. Mengurangi kontak dengan asap rokok dan mencoba untuk berhenti merokok secara pelan-pelan adalah langkah penting untuk menjaga agar tekanan darah tetap stabil.

7. Terlalu sering mengabaikan kebutuhan minum air putih

ilustrasi minum air putih (pexels.com/MART PRODUCTION)

Di tengah kesibukan, banyak orang baru ingat minum ketika tenggorokan sudah terasa sangat kering. Kebiasaan sepele ini dapat membuat tubuh mengalami dehidrasi ringan tanpa disadari. Ketika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, keseimbangan mineral dalam tubuh dapat terganggu dan memengaruhi cara kerja pembuluh darah serta jantung.

Dalam situasi tertentu, kekurangan cairan juga dapat menyebabkan perubahan pada tekanan darah serta membuat tubuh terasa lemah atau pusing. Keadaan seperti terlalu terfokus pada pekerjaan hingga melupakan untuk minum atau lebih memilih minuman manis ketimbang air putih sering kali terjadi dalam rutinitas sehari-hari. Membangun kebiasaan membawa botol minum dan memastikan kebutuhan cairan setiap hari bisa menjadi langkah mudah untuk membantu mempertahankan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Hipertensi tidak selalu muncul karena faktor usia atau riwayat keluarga, tetapi juga bisa dipicu oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, penting untuk lebih peka terhadap pola hidup yang selama ini dianggap sepele. Dengan mengetahui kebiasaan sehari-hari yang bisa memicu hipertensi serta memperbaikinya, risiko penyakit tersebut dapat ditekan dan kesehatan jantung pun lebih terjaga di masa depan.

Referensi

“The Risk Factors of Hypertension in Indonesia (Data Study of Indonesian Family Life Survey 5).” Journal of Public Health Research and Community Health Development. Diakses Juni 2026.

“Gambaran Faktor Risiko Hipertensi pada Penderita Hipertensi Menurut Wilayah di Indonesia (Analisis Data SKI Tahun 2023).” Jurnal Kesehatan Tambusai. Diakses Juni 2026.

“Faktor Risiko Hipertensi.” PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat. Diakses Juni 2026.

“Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi di Puskesmas Bitung Barat Tahun 2023.” Jurnal Ilmiah Kesehatan Manado. Diakses Juni 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article