Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi, Apa Penyebabnya?

Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi, Apa Penyebabnya?
ilustrasi autisme pada orang dewasa (pexels.com/Ivan S)
Intinya Sih
  • Studi terhadap lebih dari 171 ribu orang menemukan diagnosis autisme baru meningkat setelah 2020, tetapi kenaikannya terutama terjadi pada perempuan. Pada laki-laki, trennya justru stabil atau menurun.

  • Penelitian ini tidak menunjukkan COVID-19 menyebabkan autisme. Studi tidak mengukur infeksi SARS-CoV-2 dan pola kenaikan pada perempuan tetap terlihat ketika data tahun 2020 dikeluarkan dari analisis.

  • Para peneliti menilai peningkatan diagnosis kemungkinan berkaitan dengan makin dikenalnya autisme pada perempuan, diagnosis yang selama ini terlambat, pemulihan layanan setelah pandemi, telehealth, dan perubahan praktik diagnostik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Angka diagnosis autisme memang meningkat setelah pandemi COVID-19. Jika hanya melihat grafik keseluruhan, perubahan tersebut mudah disalahartikan sebagai tanda bahwa COVID-19 menyebabkan peningkatan kasus autisme.

Penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Network Open pada Juli 2026 menemukan bahwa peningkatan diagnosis baru setelah 2020 terutama didorong oleh anak perempuan dan perempuan dewasa yang sebelumnya cenderung lebih sulit dikenali sebagai autistik. Diagnosis pada laki-laki justru tidak menunjukkan lonjakan serupa.

1. Diagnosis memang naik setelah tahun 2020, tetapi polanya tidak merata

Peneliti Saint Louis University menganalisis rekam medis elektronik 171.134 orang dalam sebuah sistem kesehatan besar di Amerika Serikat. Seluruh peserta tercatat menggunakan layanan kesehatan setidaknya sekali setiap tahun antara 2016 hingga 2024.

Secara keseluruhan, kejadian diagnosis autisme baru menurun dari 2016 hingga 2020 sekitar 6,8 persen per tahun, kemudian berbalik meningkat sekitar 7,1 persen per tahun dari 2020 hingga 2024.

Namun, ketika data dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, ada pola yang berbeda.

Pada perempuan, diagnosis baru meningkat rata-rata 19 persen per tahun dari 2020 hingga 2024. Jumlah perempuan yang menerima diagnosis baru naik dari 284 orang pada 2016 menjadi 513 pada 2024.

Pada laki-laki, tren sepanjang 2016–2024 justru menurun sekitar 3,8 persen per tahun. Kenaikan paling besar ditemukan pada remaja perempuan, yaitu sekitar 22,3 persen per tahun selama 2020–2024.

Jadi, ini bukan lonjakan seragam pada seluruh populasi.

2. Studi ini tidak membuktikan COVID-19 menyebabkan autisme

Studi tersebut tidak mengukur apakah peserta pernah terinfeksi SARS-CoV-2, seberapa berat infeksinya, atau hubungan antara infeksi individual dengan diagnosis autisme. Data yang dianalisis adalah tren diagnosis dari rekam medis. Karena desainnya seperti ini, penelitian tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa infeksi COVID-19 menyebabkan autisme.

Petunjuk lainnya, ketika peneliti mengulangi analisis dengan menghapus seluruh data tahun 2020, pola utamanya tetap muncul, bahwa diagnosis pada perempuan meningkat, sedangkan pada laki-laki stabil atau menurun. Dalam analisis itu, titik perubahan kenaikan diagnosis perempuan bahkan bergeser ke 2018, sebelum pandemi.

Autisme merupakan kelompok kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terlihat sejak masa kanak-kanak, tetapi sebagian orang baru didiagnosis bertahun-tahun kemudian.

3. Salah satu penyebabnya: autisme pada perempuan lebih sering terlewat

Ilustrasi autisme dengan kepingan puzzle warna-warni sebagai simbol kesadaran dan pemahaman kondisi tersebut.
ilustrasi autisme (pexels.com/Tara Winstead)

Selama bertahun-tahun, autisme lebih banyak didiagnosis pada laki-laki. Salah satu penjelasannya adalah adanya bias dalam pengenalan karakteristik autisme pada perempuan.

Dalam studi terbaru, perempuan menerima diagnosis rata-rata pada usia 15,7 tahun, dibandingkan 12,3 tahun pada laki-laki. Pada kelompok anak, median diagnosis pada perempuan adalah 8,5 tahun dan laki-laki 7,1 tahun.

Para peneliti menjelaskan bahwa sebagian perempuan autistik dapat menunjukkan motivasi sosial yang lebih tinggi atau menggunakan strategi camouflaging, berupa mempelajari, meniru, atau secara sadar menyesuaikan perilaku agar kesulitan sosialnya kurang terlihat. Akibatnya, karakteristik autisme dapat luput dari skrining yang secara historis banyak dibangun berdasarkan pola yang lebih sering dikenali pada laki-laki.

Tinjauan sistematis terhadap 13 penelitian juga menemukan bukti bahwa social camouflaging merupakan fenomena yang berkaitan dengan perempuan autistik.

Pada sebagian anak perempuan, perbedaannya lebih jelas saat tuntutan sosial makin kompleks pada masa remaja. Ini bisa membantu menjelaskan mengapa peningkatan diagnosis paling tajam dalam penelitian terjadi pada remaja perempuan.

4. Pandemi tetap mungkin memengaruhi kapan diagnosis dibuat

Pada awal pandemi, pemeriksaan rutin anak, sekolah tatap muka, skrining perkembangan, dan berbagai layanan kesehatan terganggu. Para peneliti mencatat adanya penurunan atau stagnasi diagnosis pada anak kecil menjelang tahun 2020, kemudian kenaikan setelah layanan kembali berjalan. Pola tersebut dapat mencerminkan kasus yang evaluasinya tertunda kemudian seperti mengejar ketertinggalan.

Pada saat yang sama, penggunaan telehealth untuk evaluasi autisme makin diterima. Akses terhadap informasi mengenai autisme juga meluas, termasuk pengalaman perempuan autistik yang dibagikan melalui media sosial. Faktor ini dapat membantu seseorang atau keluarganya mengenali pola perkembangan tertentu.

Ada juga faktor administratif lain. Penggunaan kode diagnosis Asperger atau ICD-10 F84.5 turun tajam selama periode penelitian, sementara dokter makin menggunakan kategori autisme yang lebih luas sesuai perkembangan kriteria diagnostik. Pergeseran kode tersebut dapat membuat angka pada kategori tertentu berubah tanpa mencerminkan perubahan biologis jumlah orang autistik.

Dari keterangan di atas, peningkatan angka diagnosis dapat berasal dari gabungan orang yang sebelumnya tidak terdeteksi, layanan yang kembali berjalan, akses evaluasi yang berubah, peningkatan kesadaran, serta perubahan praktik diagnosis dan pencatatan.

5. Apa yang harus dilakukan jika ada kecurigaan autisme?

Kenaikan angka diagnosis tidak berarti setiap perbedaan perilaku perlu langsung dianggap gejala autisme.

Pada anak, penilaian melibatkan riwayat perkembangan dari orang tua atau pengasuh serta pengamatan profesional terhadap perilaku dan perkembangan. Skrining membantu menentukan apakah evaluasi lebih lanjut diperlukan, tetapi hasil skrining saja bukan diagnosis.

Jika orang tua khawatir akan perkembangan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, permainan, atau respons sensorik anak, bicarakan dengan dokter dan minta evaluasi perkembangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemantauan perkembangan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan anak rutin.

Pada remaja atau perempuan dewasa yang baru mulai mempertimbangkan kemungkinan autisme, evaluasi sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional yang memahami variasi presentasi autisme berdasarkan usia dan jenis kelamin. Riwayat sejak kecil—misalnya laporan sekolah, pengalaman sosial, pola minat, sensitivitas sensorik, serta informasi dari keluarga—dapat membantu proses penilaian.

Penelitian baru ini berasal dari satu sistem kesehatan di wilayah Midwest Amerika Serikat, 81,5 persen peserta berkulit putih, dan penelitian hanya memasukkan orang yang terus menggunakan sistem kesehatan tersebut selama sembilan tahun. Diagnosis juga diidentifikasi dari kode rekam medis tanpa validasi ulang menggunakan instrumen diagnostik standar. Karena itu, hasilnya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh populasi.

Referensi

Erick Messias, Emily Casanova, Regina Huang, Siri Battula, Rachel Loftin, McKenna Walsh, dan Ping-I Lin, “Autism Spectrum Disorder Incidence by Age and Sex in a US Health Care System, 2016 to 2024,” JAMA Network Open 9, no. 7 (2026): e2624561, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.24561. Baca penelitian di JAMA Network Open

World Health Organization, “Autism,” diakses Agustus 2026.

María Tubío-Fungueiriño et al., “Social Camouflaging in Females with Autism Spectrum Disorder: A Systematic Review,” Journal of Autism and Developmental Disorders 51 (2021): 2190–99, https://doi.org/10.1007/s10803-020-04695-x.

Centers for Disease Control and Prevention, “Screening for Autism Spectrum Disorder,” diakses Agustus 2026.

ScienceAlert, “Autism Diagnoses Spiked After COVID-19, But Probably Not For The Reason You Think,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More