Saat tim favorit mencetak gol atau menang, sistem reward otak aktif secara signifikan.
Pada kondisi ini, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang, motivasi dan penghargaan. Dopamin memberi sensasi euforia yang sama seperti saat seseorang mencapai tujuan pribadi, misalnya, lulus ujian atau mendapat promosi pekerjaan.
Menariknya, respons otak fans terhadap kemenangan tim sangat mirip respons otak saat seseorang mengalami kemenangan atau penghargaan secara langsung. Artinya, otak fans seolah-olah mengalami kemenangan itu sendiri.
Sebaliknya, saat tim kalah, otak fans menunjukkan aktivasi di area yang terkait dengan refleksi, pemrosesan negatif bahkan rasa sakit emosional. Kontras antara menang atau kalah, fans bisa mengalami fluktuasi emosi yang ekstrem.
Secara biologis, air mata saat menang adalah respons fisiologis dari sistem reward yang sangat aktif. Sehingga hal ini bukan dramatisasi semata, melainkan manifestasi dari pelepasan neurokimia intens yang memicu ekspresi emosi terbuka.
Referensi
"Why We Cry When Sports Teams Win." LSA Umich. Diakses Juni 2026.
Mastromartino, Brandon, and James J. Zhang. “Affective Outcomes of Membership in a Sport Fan Community.” Frontiers in Psychology 11 (May 8, 2020): 881.
Bernache‐Assollant, Iouri, Yves Chantal, Patrick Bouchet, and Marie‐Françoise Lacassagne. “Understanding the Consequences of Victory amongst Sport Spectators: The Mediating Role of BIRGing.” European Journal of Sport Science 16, no. 6 (January 19, 2016): 719–25.
“How Does a Fan’s Brain React to Their Team’s Win or Loss?”. Tesaac World. Diakses Juni 2026.