Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Tubuh Bisa Demam saat Melawan Infeksi?
ilustrasi seorang perempuan minum obat penurun demam (pexels.com/Hải Nguyễn)
  • Hipotalamus menaikkan suhu tubuh saat sistem imun mendeteksi infeksi, dibantu molekul pirogen seperti IL-1 dan IL-6 yang mengatur ulang titik normal suhu tubuh.
  • Rasa menggigil muncul karena otak menetapkan target suhu lebih tinggi, membuat tubuh menahan panas dan meningkatkan produksi energi hingga mencapai suhu baru.
  • Suhu tubuh yang meningkat membantu memperlambat pertumbuhan mikroorganisme serta memperkuat respons imun, namun demam tinggi atau berkepanjangan tetap perlu diwaspadai secara medis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat sedang sakit, demam kerap menjadi gejala yang tidak nyaman. Suhu tubuh naik, badan terasa panas, tetapi di saat yang sama kamu merasa menggigil dan kedinginan.

Namun, demam sebenarnya bukan cuma efek samping dari infeksi. Dalam banyak kasus, demam merupakan bagian dari sistem pertahanan alami tubuh. Ketika tubuh mendeteksi adanya virus atau bakteri, sistem kekebalan tubuh dapat menaikkan suhu tubuh secara terkontrol untuk membantu melawan penyebab penyakit tersebut.

1. Cara tubuh mengatur suhu saat infeksi terjadi

Suhu tubuh manusia biasanya dipertahankan di sekitar 37 derajat Celsius. Pengaturan ini dilakukan oleh hipotalamus, bagian otak yang berfungsi seperti termostat alami tubuh.

Ketika sel-sel kekebalan mendeteksi adanya virus, bakteri, atau mikroorganisme penyebab penyakit lainnya, tubuh akan melepaskan molekul sinyal yang disebut pirogen. Beberapa di antaranya adalah interleukin-1 (IL-1) dan interleukin-6 (IL-6).

Molekul-molekul ini kemudian memengaruhi hipotalamus dan membuat target suhu tubuh dinaikkan. Jika sebelumnya tubuh mempertahankan suhu pada sekitar 37 derajat Celsius, sistem pengatur suhu tersebut kini menganggap suhu yang lebih tinggi sebagai kondisi normal baru.

Itulah sebabnya tubuh mulai melakukan berbagai cara untuk menaikkan suhu. Pembuluh darah di dekat permukaan kulit menyempit untuk mengurangi kehilangan panas. Otot juga dapat berkontraksi dengan cepat sehingga menyebabkan tubuh menggigil. Karena itu, kamu bisa merasa kedinginan dan menggigil pada awal demam, meskipun suhu tubuhnya sebenarnya sedang meningkat.

2. Kenapa demam membuat tubuh menggigil

Salah satu hal yang terasa membingungkan saat demam adalah tubuh bisa merasa kedinginan, padahal suhu tubuh sedang meningkat. Kondisi ini terjadi karena otak telah menaikkan target suhu tubuh ke tingkat yang lebih tinggi.

Misalnya, ketika suhu tubuh berada di angka 37 derajat Celsius, tetapi hipotalamus menetapkan target baru sebesar 39 derajat Celsius, tubuh akan menganggap suhu saat ini masih terlalu rendah. Akibatnya, tubuh berusaha menghasilkan dan mempertahankan panas.

Pembuluh darah di dekat permukaan kulit akan menyempit untuk mengurangi panas yang keluar. Otot juga dapat berkontraksi dan mengendur dengan cepat sehingga menyebabkan tubuh menggigil. Setelah suhu tubuh mencapai target baru tersebut, rasa dingin biasanya mulai berkurang dan tubuh terasa lebih panas.

Jadi, menggigil saat demam merupakan salah satu cara tubuh menaikkan suhu untuk mencapai titik yang telah ditetapkan oleh otak.

3. Suhu yang lebih tinggi bisa membantu melawan infeksi

ilustrasi demam (pexels.com/Gustavo Fring)

Demam memang membuat tubuh terasa tidak nyaman, tetapi peningkatan suhu tersebut dapat memberikan keuntungan bagi sistem kekebalan tubuh. Salah satu alasannya adalah karena suhu tubuh yang lebih tinggi dapat menciptakan kondisi yang kurang ideal bagi sebagian mikroorganisme. Beberapa jenis virus dan bakteri mungkin tidak dapat berkembang biak seefisien biasanya ketika suhu tubuh meningkat.

Selain itu, demam juga dapat membantu meningkatkan aktivitas sistem imun. Suhu yang lebih tinggi dapat memengaruhi berbagai proses kekebalan tubuh, termasuk membantu sel-sel imun bergerak menuju lokasi infeksi dan meningkatkan respons pertahanan tubuh.

Dengan kata lain, demam bukan cuma tanda tubuh sedang infeksi, tetapi juga dalam batas tertentu menunjukkan sistem kekebalan tubuh sedang bekerja.

4. Demam sudah menjadi bagian dari pertahanan tubuh selama jutaan tahun

Menariknya, demam bukan hanya ditemukan pada manusia. Respons peningkatan suhu tubuh juga ditemukan pada berbagai jenis hewan, termasuk mamalia, burung, dan beberapa hewan berdarah dingin.

Hal ini menunjukkan bahwa demam kemungkinan merupakan mekanisme pertahanan yang telah bertahan selama ratusan juta tahun. Meskipun menaikkan suhu tubuh membutuhkan energi, manfaatnya dalam membantu melawan infeksi tampaknya cukup besar sehingga mekanisme ini tetap dipertahankan melalui evolusi (Nature Reviews Immunology, 2015).

5. Kapan demam perlu diwaspadai?

Meskipun demam dapat membantu tubuh melawan infeksi, tetapi bukan berarti makin tinggi suhu tubuh akan smakin baik. Demam yang sangat tinggi atau berlangsung terlalu lama dapat membebani tubuh dan berpotensi berbahaya, terutama pada bayi, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Suhu tubuh di atas 40 derajat Celsius perlu mendapat perhatian medis. Demam yang tidak kunjung membaik, disertai gejala berat, atau terjadi pada kelompok yang rentan juga sebaiknya diperiksakan ke dokter.

Jadi, tubuh bisa demam saat melawan infeksi karena demam merupakan salah satu strategi pertahanan alami tubuh. Ketika suhu tubuh meningkat, beberapa patogen dapat lebih sulit berkembang biak, sementara sistem kekebalan tubuh bisa bekerja lebih aktif untuk mengatasi infeksi. Meski begitu, demam tetap perlu dipantau karena suhu yang terlalu tinggi atau berlangsung terlalu lama dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius.

Referensi

Evans, S. S., Repasky, E. A., & Fisher, D. T. (2015). Fever and the thermal regulation of immunity: The immune system feels the heat. Nature Reviews Immunology, 15, 335–349. https://doi.org/10.1038/nri3843.

HowStuffWorks. Diakses pada Juli 2026. "Why Does Your Body Temperature Rise When You Have a Virus Such as the Flu?"

Live Science. Diakses pada Juli 2026. "What Happens in Your Body During a Fever?"

Medical News Today. Diakses pada Juli 2026. "Fever: Symptoms, Treatments, Types, and Causes."

Curated For You

Editorial Team

Related Article