National Health Service, “Genital Warts,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Anogenital Warts,” Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021, diakses September 2026.
Rachel L. Winer et al., “Condom Use and the Risk of Genital Human Papillomavirus Infection in Young Women,” The New England Journal of Medicine 354, no. 25 (2006): 2645–54, https://doi.org/10.1056/NEJMoa053284
Bolehkah Berhubungan Seks Saat Ada Kutil Kelamin?

Tunda hubungan seks vaginal, anal, dan oral selama kutil masih ada dan pengobatan berlangsung.
Kondom mengurangi risiko penularan, tetapi tidak menutupi seluruh kulit yang mungkin terinfeksi.
Kutil yang sudah hilang tidak menjamin HPV sudah tidak dapat menular.
Ketika kutil muncul di area kelamin, dampaknya bisa memengaruhi pasangan. Apakah sentuhan intim masih aman dilakukan? Apakah memakai kondom sudah cukup melindungi?
Sebaiknya tunda hubungan seks selama kutil kelamin masih ada. Hindari seks vaginal, anal, dan oral sampai kutil hilang, serta tidak berhubungan seks selama menjalani pengobatan. Anjuran ini mengurangi risiko penularan kepada pasangan.
Table of Content
1. Penularan bisa terjadi melalui kontak kulit
Kutil kelamin disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Virus dapat berpindah melalui kontak kulit saat aktivitas seksual, sehingga penularan tidak memerlukan penetrasi. Berbagi mainan seks juga dapat menjadi jalur penularan.
Selain itu, kutil kadang terasa nyeri, gatal, atau berdarah. Hubungan seks bisa terasa tidak nyaman. Menunda aktivitas yang melibatkan area tersebut memberi kesempatan untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
2. Kondom membantu, tetapi perlindungannya tidak penuh
HPV dapat berada pada kulit yang tidak tertutup kondom. Karena itu, pemakaian kondom secara benar dan konsisten membantu mengurangi risiko, tetapi tidak menghilangkannya.
Penelitian menemukan bahwa penggunaan kondom secara konsisten oleh pasangan berkaitan dengan lebih rendahnya risiko infeksi HPV pada perempuan yang baru aktif secara seksual.
Namun, penelitian tersebut membahas infeksi HPV, sehingga tidak membuktikan bahwa seks dengan pasangan yang memiliki kutil aktif menjadi aman hanya dengan kondom.
Sebagian krim pengobatan kutil juga dapat melemahkan kondom jika bersentuhan dengannya. Ikuti petunjuk obat dan tanyakan kepada dokter mengenai batasan aktivitas seksual selama pengobatan.
3. Setelah kutil hilang, risiko belum tentu nol

ilustrasi pasangan di kasur (pexels.com/SHVETS production) Pengobatan menghilangkan kutil, tetapi tidak menjamin virus ikut hilang. HPV masih bisa menular setelah kutil tidak terlihat, dan lamanya virus bertahan setelah itu belum diketahui secara pasti.
Artinya, tidak ada hitungan hari yang menjamin seseorang sudah bebas menularkan HPV. Setelah kutil hilang, pastikan area bekas pengobatan sudah pulih dan ikuti arahan dokter sebelum kembali berhubungan seks. Kondom tetap diperlukan untuk mengurangi risiko.
4. Bicarakan dengan pasangan tanpa saling menyalahkan
Beri tahu pasangan saat ini agar keputusan tentang aktivitas seksual dapat dibuat bersama. Pasangan dapat memperoleh manfaat dari pemeriksaan kutil dan tes infeksi menular seksual lainnya, tetapi tes HPV tidak rutin dianjurkan hanya karena pasangannya memiliki kutil kelamin.
Kutil bisa muncul berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi. Kemunculannya tidak dapat dipakai untuk menentukan kapan penularan terjadi atau membuktikan perselingkuhan. Fokus pembicaraan dapat diarahkan pada pengobatan, kenyamanan, dan perlindungan bersama.
Referensi




![[QUIZ] Dari Kebiasaan Olahragamu, Kami Tebak Kamu Sudah Siap Ikut HYROX atau Belum](https://image.idntimes.com/post/20260711/3b12b7e9-1964-4f46-987d-335389a347c0_813eb20e-af68-4319-a7b7-f6b7b9c50718.jpeg)




![[QUIZ] Seberapa Siap Kamu Ikut Race Lari Pertamamu?](https://image.idntimes.com/post/20250917/pexels-olly-3764538_deef61cd-03cb-4fa4-b8c3-7902219ff32d.jpg)










