Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Vibrio parahaemolyticus, Bakteri pada Seafood yang Perlu Diwaspadai

Vibrio parahaemolyticus, Bakteri pada Seafood yang Perlu Diwaspadai
ilustrasi bakteri Vibrio parahaemolyticus (magnific.com/magnific)
  • Vibrio parahaemolyticus hidup alami di perairan laut hangat dan dapat mencemari seafood, terutama kerang, tiram, serta ikan.
  • Konsumsi seafood mentah atau kurang matang, juga kontaminasi silang dari peralatan kotor, dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri ini.
  • Infeksi dapat memicu diare, kram perut, mual, muntah, dan demam; masak seafood hingga matang serta jaga kebersihan tangan dan peralatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makan seafood memang nikmat, apalagi kalau masih segar dan baru saja diolah. Namun, pernah kepikiran gak kalau seafood yang terkontaminasi bakteri tertentu justru bisa bikin perut bermasalah? Salah satunya Vibrio parahaemolyticus, bakteri yang banyak ditemukan di lingkungan laut dan dapat menyebabkan infeksi setelah seseorang mengonsumsi seafood yang terkontaminasi.

Risikonya bisa lebih besar kalau seafood dimakan mentah atau belum matang sempurna, lho. Bakteri ini bisa bikin berbagai keluhan, mulai dari diare, kram perut, mual, muntah, sampai demam yang pastinya bikin badan gak nyaman. Nah, biar gak sekadar tahu namanya, yuk kenali lebih dekat Vibrio parahaemolyticus, dari sumbernya, gejala yang muncul, hingga cara mencegah infeksinya!

  1. 1. Vibrio parahaemolyticus merupakan bakteri yang hidup di lingkungan laut

    ilustrasi seafood
    ilustrasi seafood (magnific.com/bearfotos)

    Ketika mendengar istilah Vibrio parahaemolyticus, banyak orang mungkin merasa asing, ya. Namun, bakteri ini secara alami ditemukan di lautan, terutama di perairan yang hangat. Bakterinya ini sering kali terdapat dalam seafood, terutama kerang dan berbagai jenis ikan lainnya.

    Kehadirannya tidak selalu berarti bahwa seafood tersebut menyebabkan masalah kesehatan. Masalah muncul ketika kita mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi, terutama kalau dalam keadaan mentah atau kurang matang dengan baik. Maka dari itu, penting untuk mengetahui bakteri ini bisa menyebar dan bagaimana untuk menghindarinya.

  2. 2. Seafood mentah menjadi salah satu sumber paparan Vibrio parahaemolyticus

    ilustrasi seafood
    ilustrasi seafood (magnific.com/magnific)

    Suka makan tiram, kerang, atau seafood mentah lainnya? Menu seperti itu memang memiliki penggemarnya sendiri, tetapi ada potensi risiko yang harus diperhatikan kalau seafood tersebut terkontaminasi Vibrio parahaemolyticus. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh ketika kita mengonsumsi seafood yang terkontaminasi tanpa memasaknya dengan baik.

    Risikonya tidak hanya ada pada makanan laut mentah, tetapi juga pada yang dimasak setengah matang. Kontaminasi juga bisa terjadi kalau seafood mentah bersentuhan dengan bahan makanan lain atau peralatan yang tidak dibersihkan dengan baik. Jadi, cara pengolahan seafood dari awal hingga siap disantap sangat penting banget, lho.

  3. 3. Gejala infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus

    ilustrasi sakit perut
    ilustrasi sakit perut (freepik.com/diana.grytsku)

    Setelah terpapar Vibrio parahaemolyticus, tubuh dapat menunjukkan beberapa masalah yang cukup mengganggu. Tanda-tandanya bisa berupa diare, nyeri perut atau kram, mual, muntah, dan kadang-kadang disertai dengan demam. Gejala semacam ini sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa, sehingga penyebabnya bisa jadi gak langsung disadari.

    Gejala biasanya muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan dapat bertahan selama beberapa hari. Dalam beberapa kasus, infeksi ini bisa membaik, namun kondisi setiap orang tentu berbeda. Kalau diare terasa parah atau muncul tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya tidak diremehkan dan segera mendapatkan penanganan medis.

  4. 4. Kerang dan tiram perlu mendapat perhatian lebih

    ilustrasi kerang dan tiram
    ilustrasi kerang dan tiram (pixabay.com/menglei)

    Kerang dan tiram merupakan seafood yang sebaiknya diperhatikan karena hewan tersebut hidup dengan menyaring air di sekitarnya. Dalam proses itu, mikroorganisme yang berada di dalam lingkungan perairan juga dapat berkumpul di dalam tubuh mereka. Oleh karena itu, kerang yang terkontaminasi Vibrio parahaemolyticus bisa menjadi sumber infeksi jika dikonsumsi dalam keadaan mentah atau kurang matang.

    Terlebih lagi, tiram mentah sering kali dianggap sebagai hidangan yang segar dan premium, meskipun ada risiko kesehatan yang menyertainya. Memasak hingga matang dapat membantu mengurangi kemungkinan bakteri yang masih hidup di seafood ini. Jadi, kalau ingin lebih aman, gak ada salahnya sedikit mengorbankan sensasi seafood mentah, ya.

  5. 5. Memasak seafood sampai matang membantu mengurangi risiko

    ilustrasi memasak dengan api sedang cenderung kecil
    ilustrasi memasak dengan api sedang cenderung kecil (freepik.com/freepik)

    Salah satu cara yang mudah untuk menekan kemungkinan terjadinya infeksi Vibrio parahaemolyticus adalah dengan memasak seafood dengan benar. Panas yang dihasilkan selama memasak berfungsi membunuh bakteri yang mungkin ada pada seafood, sehingga risiko terpapar jauh lebih rendah dibanding saat mengonsumsinya dalam keadaan mentah. Pastikan agar seafood tersebut dimasak dengan sempurna, jangan hanya permukaan luar yang matang.

    Selain dari cara memasak, menjaga kebersihan saat mempersiapkan makanan juga sangat penting. Pastikan penggunaan peralatan yang bersih dan pisahkan seafood mentah dari makanan yang siap disajikan untuk mencegah perpindahan bakteri. Meskipun tampak sepele, kebiasaan ini dapat membantu menjaga keamanan makanan.

  6. 6. Menjaga kebersihan seafood penting sejak sebelum dimasak

    ilustrasi mencuci piring
    ilustrasi mencuci piring (freepik.com/freepik)

    Risiko dari Vibrio parahaemolyticus gak hanya relevan saat seafood telah disajikan di piring. Cara menyimpan, menyiapkan, dan mengolah seafood berperan besar dalam kemungkinan terjadinya kontaminasi. Seafood sebaiknya ditangani dengan bersih dan disimpan dalam keadaan yang tepat hingga saatnya dimasak.

    Setelah memegang seafood yang masih mentah, pastikan untuk mencuci tangan sebelum mengulurkan tangan ke makanan yang telah matang. Permukaan meja, pisau, talenan, dan alat lainnya yang terkena seafood mentah juga harus dibersihkan dengan teliti. Kebiasaan kecil semacam ini sering terlupakan, meskipun sangat penting untuk mencegah bakteri berpindah ke makanan lain.

    Vibrio parahaemolyticus memang gak selalu terlihat atau terasa pada seafood yang terkontaminasi, sehingga cara mengolahnya tetap perlu diperhatikan. Memasak seafood sampai matang dan menjaga kebersihan saat menyiapkannya bisa membantu mengurangi risiko infeksi, lho. Jadi, tetap boleh menikmati seafood, tetapi pastikan pengolahannya sudah tepat supaya enak sekaligus lebih aman disantap.

    Referensi

    “Incidence and Prevalence of Vibrio parahaemolyticus in Seafood: A Systematic Review and Meta-analysis.” SpringerPlus. Diakses September 2026.

    Vibrio parahaemolyticus: A Review on the Pathogenesis, Prevalence, and Advance Molecular Identification Techniques.” Frontiers in Microbiology. Diakses September 2026.

    “The Pathogenesis, Detection, and Prevention of Vibrio parahaemolyticus.” Frontiers in Microbiology. Diakses September 2026.

    “Vibrio Parahaemolyticus: A Review on Distribution, Pathogenesis, Virulence Determinants and Epidemiology.” Frontiers in Microbiology. Diakses September 2026.

    “Vibrio parahaemolyticus in seafood: recent progress in understanding influential factors at harvest and food-safety intervention approaches.” Current Opinion in Food Science. Diakses September 2026.

    “Non-cholera Vibrio infections in Southeast Asia: A systematic review and meta-analysis.” Journal of Infection and Public Health. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More